Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Tidak Menolak Lagi


__ADS_3

Malam harinya Felix dan Revina sedang duduk di tempat tidur. Mereka berbicara ringan sebelum mengantuk dan tidur.


"Felix, apa kau tidak ingin pulang ?" tanya Revina tiba-tiba membahas tentang suaminya. Felix mengkerutkan keningnya bingung.


"Pulang ? ke mana ?"


"Ke rumah orang tua mu."


Felix tersenyum sekilas mendengar perkataan Revina. "Sekarang belum saatnya." jawab Felix singkat.


Untuk saat ini Felix belum memikirkan untuk kembali. Ia masih menikmati hidup santai tanpa kesibukan yang berarti. Apalagi saat ini bersama Revina.


"Apa kau ingin pulang ? kau merindukan orang tua mu ?" tanya Felix lagi.


"Tidak. Aku merasa jika aku bukan anak orang tua ku. Mereka tidak pernah menyayangi ku seperti mereka menyayangi Jasse." jawab Revina.


Jadi, benar. Revina memang tidak mengetahui jika Jonatan adalah hanya pamannya. Batin Felix dalam hati.


"Apa kau tidak ingin membawa ku bertemu keluarga mu ?" Revina kembali bertanya tentang Felix. Saat ini ia begitu malas jika harus membahas tentang keluarganya.


"Nanti aku akan membawa mu bertemu dengan mereka. Kau tahu kan saat ini hubungan ku dengan ayah ku sedang tidak baik." Felix mencoba menjelaskan kepada Revina agar istrinya itu tidak memaksa ia untuk kembali.


Felix menghela napasnya. Ia menarik Revina kedalam pelukannya.


"Jika nanti aku kembali pada keluarga ku, apa kau masih ingin bersama ku ?" tanya Felix.

__ADS_1


"Tentu saja. Kita sudah sepakat untuk menjalani pernikahan ini dan berusaha untuk saling menerima."


"Kau sudah bisa mencintai ku ?" tanya Felix tiba-tiba yang membuat Revina menjadi gugup.


"A aku, entah lah." Revina sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Tapi ia merasa begitu nyaman bila bersama dengan suaminya.


"Tidak apa-apa jika kau belum mencintai aku. Aku akan menunggu dan aku ingin kau tahu jika saat ini aku sudah jatuh cinta padamu."


Revina mendongak, menatap Felix yang baru saja menyatakan perasaannya. Felix membalas tatapan Revina dan mata mereka saling mengunci. Perlahan Felix mendekatkan wajahnya, mencium bibir Revina. Pernyataan cinta yang baru saja di ungkapkan oleh Felix, membuat Revina sedikit yakin untuk membalas ciuman Felix.


Felix semakin memperdalam ciumannya saat merasakan Revina membalasnya. Ciuman yang semakin lama semakin panas dan menuntut. Tangan Felix dengan liar menelusup kedalam piyama tidur yang dikenakan oleh Revina. Me***as sesuatu yang kenyal.


"Aahhh." Revina mele-nguh merasa sentuhan dari pria yang sudah sah menjadi suaminya.


Felix semakin bersemangat setelah mendengar suara Revina yang terdengar seksi. Felix menurunkan bibirnya di leher jenjang Revina. Menghirup dalam-dalam aroma wangi khas wanita itu sambil mengecup, meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


Ketika sudah sama-sama terbakar ga-irah dan ingin melakukan lebih, lagi-lagi Revina menahan tubuh Felix agar tidak terus melanjutkan kegiatan mereka.


"Maaf. Saat ini aku belum bisa melakukannya." ucap Revina perlahan karena tidak ingin Felix jadi kecewa.


Felix menghela napas "Iya, aku mengerti. Kau belum siap menerima ku." ada nada kecewa dalam perkataan Felix.


"Bu- bukan begitu. Saat ini aku sedang dapat tamu bulanan. Jadi, kita tidak bisa melakukannya." Kata Revina malu-malu dan memelankan suaranya di ujung kalimat.


Oh, iya. Aku lupa jika sore tadi Revina membeli kebutuhan pribadinya. Felix tersenyum senang. Ternyata Revina tidak lagi menolaknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kita akan melanjutkan setelah tamu bulanan mu selesai." Felix membenahi piyama Revina yang berantakan akibat ulahnya.


"Sebaiknya kita tidur sekarang." ucap Felix sambil merebahkan tubuhnya. Membawa Revina kedalam pelukannya.


"Berapa lama lagi ?" tanya Felix setelah mereka berbaring sambil berpelukan.


"Apa ?" Revina tidak mengerti maksud Felix.


"Itu, tamu bulanan mu pergi." jelas Felix yang sudah tidak sabar.


"Em, masih lima hari lagi." Revina menghitung periode menstruasinya yang normalnya satu minggu.


"Baiklah. Aku akan sabar menunggunya." Felix kemudian memejamkan mata dan jatuh dalam tidurnya.


*


"Revina, sayang." Felix memanggil istrinya. Ia begitu girang pulang kerja hari ini.


"Revina buka pintunya. Kau ada di dalam ?" Felix mengetuk-ngetuk pintu yang sepertinya terkunci.


"Sayang, apa kau mau membuat kejutan untuk ku. Ini sudah lima hari." Felix terus saja berbicara dari luar meskipun sejak tadi tidak ada sahutan dari dalam rumah.


"Sayang buka pintunya." masih tidak ada jawaban dari Revina. Sepertinya Revina memang tidak ada di dalam.


Felix mengambil ponsel dan menghubungi Revina. Terdengar suara dering ponsel Revina dari dalam rumah. Felix menjadi cemas. Dengan sekuat tenaga ia segera mendobrak pintu. Akhirnya pintu terbuka. Felix mendapati keadaan rumah yang begitu berantakan. Perasaannya menjadi takut, takut sesuatu terjadi kepada istrinya. Perlahan Felix membuka pintu kamar, jantungnya langsung bergemuruh saat melihat sosok Revina yang terbaring di tempat tidur dengan bersimbah darah.

__ADS_1


"Revina." Felix segera mendekat dan memeluk tubuh istrinya.


"TIDAK !"


__ADS_2