Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Ingin Membalaskan Dendam


__ADS_3

Keesokan harinya Abraham menghubungi orang suruhannya untuk menanyakan tentang Jonatan dan keluarganya. Abraham tersenyum smirk setelah mendengar laporan jika saat ini Jonatan dan keluarganya sedang dalam perjalanan menuju daerah bagian timur Indonesia. Dimana tempat yang sudah di persiapkan oleh Abraham sebelumnya untuk menjauhkan Revina dari kejahatan Jasse. Abraham sudah menyiapkan tiket pesawat serta sebuah rumah di salah satu provinsi yang ada di Papua.


Sementara itu Jasse yang tidak ikut dengan kedua orang tuanya baru saja keluar dari sebuah toko perhiasan. Ia menjual semua perhiasan yang ia miliki untuk bertahan hidup sendiri di Jakarta.


Jasse memilih kabur sesaat sebelum masuk ke dalam pesawat. Sementara Jonatan dan Asila sudah masuk terlebih dahulu. Jasse sungguh tidak sudi tinggal di daerah pelosok yang telah di siapkan oleh Abraham. Lagi pula wanita itu harus membalaskan sakit hatinya kepada Revina yang sudah mempermalukannya di depan banyak orang tadi malam.


Sudah hampir siang ketika Jasse tiba di Pure Paradise Hotel dimana tempat Revina dan Felix menginap. Jasse menyelinap masuk dan menyamar sebagai karyawan hotel untuk melancarkan aksinya.


Sementara itu di kamar yang ditempati Felix dan Revina, sepasang suami istri itu baru saja melakukan percintaan untuk yang kesekian kalinya sejak tadi malam. Felix tidak ada lelahnya sama sekali menyentuh Revina. Tubuh istrinya itu bagaikan sebuah candu baginya yang membuatnya menjadi bersemangat


"Felix, hentikan. Ini sudah siang." Revina menahan wajah suaminya yang kembali ingin mencumbu tubuh polosnya.


"Aku tidak bisa berhenti untuk menyentuh mu, sayang. Kau membuat ku ketagihan." balas Felix jujur mengatakan apa yang sedang ia rasakan saat ini


"Tapi aku lelah. Perut ku lapar. Sebentar lagi jam makan siang." kata Revina memegang perutnya yang memang sudah kelaparan.


"Baiklah. Aku akan memesan makanan." kata Felix sambil beranjak dari tempat tidur mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Felix merasa kasian kepada istrinya yang sejak tadi malam terus melayaninya tanpa mengeluh. Felix memesan makanan melalui telepon hotel. Setelah itu ia beranjak pergi ke kamar mandi.


Saat Felix keluar dari kamar mandi bel kamar berbunyi. Felix segera membuka pintu yang ternyata seorang pelayan hotel mengantarkan makanan.

__ADS_1


Felix mendorongnya troli yang berisi makanan dan membawanya ke tempat tidur. Revina langsung menyambar jus jeruk untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lemas. Sedangkan Felix membuka penutup makanan. Felix terdiam seketika, sepertinya ada sesuatu yang aneh.


"Jangan di minum !" Felix menepis gelas di tangan Revina sehingga gelas itu jatuh di atas tempat tidur bersama sisa minuman yang tinggal sedikit.


"Felix kamu ke " Revina tidak dapat meneruskan kata-katanya ketika merasakan tenggorokannya seperti terbakar.


Revina mengusap lehernya, napasnya mulai tersengal.


"Oh, ****."


Felix menyambar ponselnya menghubungi Sonia.


"Ada apa Felix ?" tanya Sonia penasaran. Namun sayangnya Felix sudah memutuskan sambungan teleponnya.


Felix menyambar asal bajunya dan mengenakan dengan cepat. Kemudian ia memakaikan pakaian pada Revina dan langsung membawanya keluar. Revina kini sudah semakin lemah dan hampir tidak sadarkan diri.


"Felix, Revina kenapa ?" tanya Sonia yang melihat Felix baru saja keluar dari lift sambil menggendong istrinya.


"Ada yang sengaja memberikan racun dalam minumannya. Kau selidiki pelakunya. Jangan biarkan dia lolos." kata Felix berjalan cepat menuju pintu keluar di mana sudah ada sebuah mobil yang menunggunya.


Seluruh pintu keluar masuk hotel sudah di tutup sejak tadi. Hanya pintu utama yang di bukakan untuk Felix keluar dengan penjagaan yang ketat. Meskipun dalam keadaan darurat tapi tidak membuat kepanikan di dalam hotel. Para pengunjung dan seluruh karyawan masih terlihat tenang.

__ADS_1


Sonia memerintahkan petugas keamanan untuk memeriksa rekaman cctv di lantai atas kamar VIP. Dalam sekejap Sonia sudah menemukan pelakunya dan akan segera membekuknya.


Sementara itu Jasse yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian, berjalan dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa. Jasse belum mengetahui jika semua pintu keluar sudah di blokir. Ia ingin keluar melalui pintu belakang hotel, tapi sayangnya pintu itu tidak bisa di buka dan di pasang tanda rusak.


"Sial, mengapa tiba-tiba jadi rusak." umpat Jasse kesal.


Satu jam yang lalu saat ia masuk ke hotel ini melalui pintu itu masih baik-baik saja. Jasse kembali berbalik dan mencari pintu yang lain.


"Mengapa semuanya tidak bisa di buka." Jasse mulai cemas ketika semua pintu yang di tujunya tidak bisa di buka. Ia harus secepatnya keluar dari hotel ini.


Jasse akhirnya berjalan menuju pintu utama hotel untuk keluar. Sebisa mungkin ia bersikap tenang seolah-olah ia merupakan tamu yang menginap di hotel ini.


"Maaf nona, pintu ini rusak dan sedang di perbaiki. Mohon untuk menunggu beberapa saat lagi." kata petugas keamanan hotel.


Jasse mulai panik dan ketakutan. Ia menyadari sudah terjebak di dalam hotel ini dan tidak bisa melarikan diri. Apa mereka sudah mengetahuinya ? batin Jasse. Apa yang harus aku lakukan sekarang ? tanya Jasse dalam hatinya. Saat ini ia sangat ketakutan dan tidak bisa berpikir jernih.


Sementara itu Felix yang sangat cemas langsung mengangkat tubuh Revina begitu supir membukakan pintu mobilnya. Felix berteriak memanggil dokter untuk segera menangani istrinya. Revina sedang tidak sadarkan diri, wajahnya terlihat pucat dan mulutnya mengeluarkan busa.


"Silahkan bapak tunggu di luar. Kami akan segera menangani istri anda." kata salah seorang perawat.


Felix menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia menyugar rambutnya kasar, merasa frustasi takut kehilangan wanita yang begitu ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2