Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Keinginan Mery


__ADS_3

Beberapa hari ini Eric di buat pusing dengan permintaan istrinya dan sanggup meninggalkan dirinya sendiri. Waktu persalinan Revina sudah semakin dekat, Mery terus menuntut Eric untuk segera mencari solusi.


Malam ini Eric sengaja meluangkan waktunya untuk bersama dengan sang istri. Mereka pergi makan malam romantis berdua dan setelah itu Eric membawa Mery ke suatu tempat.


"Eric, mengapa kita datang ke sini ?" Mery merasa aneh melihat suaminya itu datang ke tempat yang paling tidak ia sukai.


"Aku ingin kau melakukan perawatan di sini agar jadi lebih tenang dan tidak stress." Eric mengikuti langkah Mery masuk ke dalam salon milik keponakannya, Tama.


Bukan tanpa alasan Eric tidak suka datang ke sini, karena ia sangat jijik melihat Tama berpenampilan seperti wanita. Tapi karena Eric sudah tidak punya pilihan lain lagi, mau tidak mau ia harus datang ke sini untuk menemui Tama.


"Selamat malam, Tante." Tama tersenyum dengan gaya khas wanita jadi-jadian menyambut Mery yang baru saja masuk ke dalam salonnya. Senyum Tama langsung menghilang saat melihat Eric yang berjalan di belakang wanita yang ia panggil Tante.


"Ada apa om ingin menemui ku ?" tanya Tama yang kini sudah membersihkan riasan di wajahnya. Pria tampan itu juga sudah mengganti pakaian ketat yang membentuk tubuh kekarnya dengan setelan kemeja dan celana bahan.


"Sampai kapan kau akan seperti ini ?" Eric menatap tajam Tama.


Eric bukannya tidak menyukai Tama, hanya saja ia tidak menyukai profesi keponakan istrinya itu. Seperti tidak ada profesi yang lebih baik yang bisa di pilih oleh pemuda yang sudah Eric anggap seperti anak kandungnya sendiri. Tama ada seorang pria sejati sama seperti Felix. Hanya saja tuntutan pekerjaannya yang mengharuskan pria tampan itu menjadi wanita jadi-jadian. Tapi itu hanya jika ia ada di salonnya saja.


Tama menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Eric.


"Ini hanya tuntutan profesi, om."


"Om tau. Tapi kau masih bisa memilih pekerjaan yang lebih baik."


Tama hanya diam mendengar saran dari pamannya. Sudah hampir sepuluh tahun ia menggeluti pekerjaan ini dan ia sudah nyaman dengan profesinya itu.

__ADS_1


*


Dua bulan berlalu.


Saat ini Mery baru saja tiba di rumah Felix. Revina menyambutnya dengan senang. Menurut prediksi dokter, Revina akan melahirkan beberapa hari lagi dan Mery tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyambut kelahiran cucu pertamanya.


Setelah makan malam, Mery menemui Felix di ruang kerja karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Sementara itu Revina yang belum mengantuk merasa bosan di kamar. Ia pun keluar untuk mencari keberadaan Felix.


Revina menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam ruang kerja Felix ketika telinganya tidak sengaja mendengar pembicaraan antara mommy Mery dengan suaminya.


"Ternyata mommy begitu menyukai wanita itu." kata Felix.


"Tentu saja. Dia wanita yang baik, mommy sangat menginginkan dia untuk jadi menantu. Mommy yakin dia akan menjadi istri yang baik."


Tiba-tiba Revina merasa sesak mendengar perkataan ibu mertuanya yang menginginkan wanita lain untuk menjadi menantunya. Meskipun begitu, Revina masih tetap berada di sana dan memasang telinganya untuk terus mendengar pembicaraan kedua ibu dan anak itu.


Revina menutup mulutnya terkejut mendengar Mery ingin melamar Diana. Wanita yang pernah di jodohkan dengan Felix dua tahun yang lalu. Untuk siapa mommy Mery melamar Diana ? bukannya ibu mertuanya itu hanya memiliki seorang anak laki-laki yaitu Felix, suaminya. Atau jangan-jangan untuk jadi istri kedua Felix.


"Apa mommy yakin mereka akan menerimanya setelah kejadian masa lalu ?" tanya Felix mengingatkan tentang perjodohannya yang gagal dengan wanita yang bernama Diana itu.


"Orang tuanya itu teman baik mommy dan daddy. Mommy yakin mereka akan setuju." jawab Mery percaya diri.


"Terserah mana baiknya mommy saja." kata Felix pasrah.


Revina segera pergi dari sana saat mendengar kedua orang itu akan mengakhiri pembicaraannya. Ia bergegas berjalan kembali menuju ke kamarnya. Napas Revina terengah-engah berjalan menaiki tangga dengan perutnya yang besar.

__ADS_1


Revina segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menutupi diri dengan selimut. Berpura-pura tidur karena sebentar lagi Felix pasti akan kembali ke kamar. Malam itu Revina hampir tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan tentang perkataan mommy Mery.


Pagi harinya seperti biasa. Revina membantu Felix memasangkan dasi. Felix mengangkat dagu Revina ingin melihat lebih jelas wajah itu yang terlihat berbeda.


"Apa tidur mu tidak nyenyak tadi malam ?" tanya Felix yang masih menatap Revina. Terlihat jelas lingkaran hitam di mata wanita itu.


Revina hanya mengangguk, menjawab pertanyaan suaminya. Bagai mana ia bisa tidur nyenyak jika ibu mertuanya sendiri ingin mencarikan istri untuk suaminya. Begitu yang di simpulkan Revina setelah mencermati sepenggal dari pembicaraan mommy Mery dan Felix tadi malam.


"Mengapa ? apa perut mu sakit ?" Felix berubah cemas dan mengusap perut istrinya.


Dokter kandungan Revina sering menyampaikan tentang tidur Ibu hamil yang mungkin terganggu karena perut yang semakin membesar. Jadi, ibu hamil diharuskan untuk beristirahat dan tidur minimal satu jam di siang hari.


"Tidak." jawab Revina sendu. Ia sungguh tidak bisa untuk menyembunyikan perasaannya yang sedang kacau saat ini. Tapi Revina takut untuk bertanya kepada Felix. Takut jika jawaban Felix sama seperti apa yang ia pikirkan


Felix mengambil ponselnya untuk menghubungi asisten sekaligus sekretarisnya. Ia ingin bertanya tentang jadwalnya hari ini, apakah ada pertemuan penting. Jika tidak ada, maka Felix tidak akan ke kantor karena ingin menjaga Revina. Felix menyimpan kembali ponsel itu setelah sekretarisnya mengatakan jika hari ini tidak ada jadwal penting dan ia memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaan.


"Aku tidak apa-apa. Kau pergilah bekerja. Kan ada mommy yang menjaga ku di rumah." kata Revina yang melihat Felix membuka kembali dasi dan kemejanya. Felix berganti dengan pakaian santainya di rumah.


"Sekarang kau istirahatlah. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan sarapan ke kamar." Felix menggiring Revina ke tempat tidur agar istrinya itu bisa istirahat dengan nyaman.


Perasaan Revina menghangat mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya. Sejenak Revina menepis pikirannya tentang Felix yang akan menikah lagi dengan perempuan lain.


Beberapa saat kemudian dada Revina kembali sesak saat melihat ibu mertuanya datang bersama dengan dua orang pelayan yang membawakan sarapan ke kamar.


"Sayang, kau kenapa ?" tanya Mery cemas. Wanita paruh baya itu segera menghampiri Revina yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.

__ADS_1


Revina hanya menatap datar wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Karena selama ini mommy Mery selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi apa mungkin ibu mertuanya itu hanya barakting di depannya saja. Karena pada kenyataannya ibu mertuanya itu menginginkan wanita lain untuk jadi menantunya.


__ADS_2