
Mery dan Eric berjalan tergesa-gesa datang ke rumah sakit setelah mendapatkan informasi dari Sonia. Mery memeluk Felix begitu putranya yang sedang frustasi dan juga sedih.
"Apa yang terjadi ?" tanya Mery cemas.
"Entahlah, semuanya terjadi begitu cepat." kata Felix mengingatkan kejadian tadi.
"Tenanglah. Revina pasti akan baik-baik saja." Mery memberikan semangat kepada putranya.
Tak berapa lama kemudian Abraham juga tiba di sana. Pria itu langsung menarik kerah baju Felix.
"Mengapa Revina jadi begini ?" tanya Abraham marah.
Felix baru saja ingin menjawab tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelpon, ia langsung menjawabnya.
"Felix aku sudah menangkap pelakunya." kata Sonia dari seberang sana.
"Bagus. Tahan dia sampai aku datang. Jangan sampai ia melarikan diri." jawab Felix sambil mengengam erat ponsel di tangannya.
Felix melepaskan tangan Abraham dari bajunya.
"Ada seseorang yang telah mencampurkan racun ke dalam minumannya dan sekarang pelakunya sudah tertangkap." kata Felix datar.
Baru saja Felix ingin pergi pintu ruangan IGD terbuka setelah satu jam Revina di dalam.
"Bagaimana keadaan istri ku ?" tanya Felix kepada dokter yang baru saja keluar.
"Beruntung anda membawanya tepat waktu. Sehingga nyawanya masih bisa tertolong. Andai terlambat sedikit saja." dokter laki-laki itu pun tidak melanjutkan kata-katanya namun semua orang mengerti apa yang akan dikatakannya.
Racun yang masuk ketu
"Boleh aku melihatnya sekarang ?" tanya Felix memohon.
"Tentu. Silahkan. Harap tidak menganggu istirahat pasien." pesan dokter sebelum pergi dari sana.
Felix masuk dan menatap nanar tubuh wanita yang baru dua jam lalu masih bergelut dengannya. Tapi sekarang wanita itu sedang terbaring lemah dengan wajah yang pucat.
"Maafkan aku." Felix menggenggam tangan Revina dengan penuh sayang.
__ADS_1
Revina masih belum sadar. Tapi menurut dokter Revina sudah melewati masa kritisnya. Setelah keluar Felix melihat istrinya dan mempersilahkan yang lain untuk masuk.
"Mom, aku titip istriku karena aku akan kembali ke hotel untuk memberikan pelajaran pada pelaku yang sudah mencoba membunuh Revina." kata Felix pada mommy Mery.
"Iya. Pergilah." balas Mery.
"Aku akan ikut dengan mu. Aku juga ingin melihat siapa pelakunya dan ingin membunuhnya dengan tangan ku sendiri." kata Abraham sambil mengikuti langkah Felix.
Hanya dalam beberapa menit saja mobi Abraham sudah tiba Pure Paradise Hotel. Felix dan Abraham bergegas masuk ke dalam dan menemui Sonia.
"Dimana dia ?" tanya Felix tidak sabar.
"Ada di ruangan keamanan." kata Sonia sambil berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang keamanan.
Felix terkejut mendapati Jasse dalam keadaan berantakan dengan tangan dan kaki terikat.
"Beraninya kau mau membunuh istriku !" Felix yang terlihat marah mengarahkan kepalan tangannya ke arah Jasse. Wanita itu sudah menunduk takut terkena bogem mentah dari Felix.
Deru napas Jasse menjadi lebih cepat. Ia begitu ketakutan melihat kemarahan Felix. Perlahan Jasse mengangkat wajahnya saat tidak merasakan apa-apa. Ternyata Felix melesatkan pukulannya tepat di samping Jasse.
Setelah Felix mundur dari hadapan Jasse, kini Abraham berdiri di depan wanita itu. Menatap Jasse dengan dingin.
"Aku sudah berbaik hati pada mu dengan hanya mengusir kau dan keluarga mu di tempat yang jauh." kata Abraham terdengar dingin tapi sangat menakutkan.
Abraham mengulurkan tangannya, memegang leher Jasse dan secara perlahan mengangkatnya ke atas sehingga Jasse yang tadinya duduk di kursi kini berdiri menggantung dengan kaki yang tidak menyentuh lantai. Membuat napas wanita itu tersengal karena tercekik. Sonia menelan ludahnya melihat sisi lain calon suaminya . Sedangkan Felix hanya diam memperhatikan.
"Tapi, apa yang kau lakukan sekarang ? kau malah datang sendiri untuk menggali kuburan mu sendiri, ck." lanjut Abraham lagi dan langsung melepaskan tangannya begitu saja membuat tubuh Jasse ambruk ke lantai.
Wajah Jasse memerah. Ia batuk tersengal-sengal dengan napas yang memburu, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Apa yang di lakukan oleh Abraham tadi hampir saja membuatnya mati tercekik.
"Bawa dia ke kantor polisi !" perintah Felix langsung keluar dari ruangan itu.
Setelah mengetahui siapa pelakunya, kini Felix ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat Revina. Baginya tidak ada yang lebih penting dari melihat keadaan istrinya sekarang. Dan untuk masalah Jasse biarkan saja Sonia dan Abraham yang mengurusnya.
"Sekarang kalian bawa dia ke kantor polisi." perintah Sonia kepada petugas keamanan.
"Baik, nona."
__ADS_1
Salah seorang dari mereka melepaskan ikatan kaki Jasse agar wanita itu bisa berjalan. Kemudian dua orang petugas keamanan membantunya berdiri dan membawanya keluar. Begitu keluar dari ruangan tersebut Jasse segera melarikan diri dengan berlari kencang.
"Hei, jangan kabur !" teriak salah seorang petugas keamanan.
Sonia dan Abraham yang berjalan di depan sontak saja berbalik mendengar teriakkan itu. Jasse yang melihat Abraham di depan segera berbelok ke arah lift dan masuk kedalam lift yang terbuka bersama dengan pengunjung lain. Sonia, Abraham dan beberapa petugas keamanan yang ada di sana mengejarnya dengan menggunakan lift satunya lagi dan beberapa orang menggunakan tangga darurat.
Jasse yang bingung harus lari ke mana segera menekan tombol lantai paling atas untuk menghindari kejaran petugas. Jasse segera keluar dari lift untuk mencari tempat sembunyi. Tapi sayangnya Abraham dan yang lainnya juga sudah tiba dan melihatnya di sana.
"Itu dia !" tunjuk salah satu petugas keamanan yang melihat Jasse.
"Tidak. Aku tidak boleh tertangkap." kata Jasse di tengah ketakutannya.
Jasse yang tidak tau harus ke mana hanya mengikuti langkah kakinya yang membawa tubuhnya naik ke tangga menuju puncak gedung.
"Menyerahlah ! anda sudah tidak bisa melarikan diri lagi." kata salah seorang petugas keamanan.
Sekarang Jasse sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi. Maju ke depan maka dia akan jatuh. Jika berbalik dia akan tertangkap. Jasse berhenti bergerak dan berbalik menghadap orang-orang yang mengejarnya.
"Stop ! Jangan mendekat ! jika tidak aku akan lompat." teriak Jasse. Tubuhnya bergetar melirik ke bawah dari ketinggian.
"Lompat saja. Tidak akan ada yang peduli dengan mu." kata Abraham yang semakin berjalan mendekat.
"Aku serius. Tidak main-main." kata Jasse lagi sambil mundur perlahan. Jujur saja ia juga takut akan jatuh dari ketinggian.
"Terserah. Itu sama saja. Kau tinggal pilih ingin mati cepat jatuh dari sini atau mati perlahan mendekam di penjara ?" kata Abraham.
"A aku " Jasse tergagap saat posisinya semakin terdesak di tepian.
Tubuhnya gayang ketika melihat ke bawah. Karena tangan yang terikat Jasse tidak bisa untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Dia sudah memilih jalannya sendiri." Abraham berbalik, berjalan menuju Sonia dan membawanya kembali turun ke bawah.
"Mengapa kau membiarkannya ?" tanya Sonia
"Aku takut kau cemburu jika aku menyentuhnya." jawab Abraham santai.
Astaga. Dia benar-benar tidak punya perasaan. Biasa-bisanya dia berkata begitu dalam hal menyelamatkan nyawa seseorang. Sonia bergidik ngeri melihat tunangannya yang begitu santai. Padahal dia baru saja menyaksikan kematian seseorang.
__ADS_1