Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Menemui Heru


__ADS_3

Saat ini menunjukkan pukul empat sore. Felix melonggarkan ikatan dasinya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Bekerja sejak pagi hingga malam hari setiap harinya membuat tubuhnya terasa sangat lelah. Sudah satu bulan sejak Felix kembali menjabat sebagai CEO Boison Grup, begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukannya untuk memperbaiki manajemen.


Felix mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri tercinta yang begitu ia rindukan. Revina saat ini baru saja membaringkan tubuhnya di tempat tidur tersenyum sumringah melihat Felix melakukan panggilan video.


"Felix." sapa Revina ketika wajah tampan Felix terpampang di layar ponselnya. Sedetik kemudian layar ponsel Revina menjadi gelap.


"Astaga." Felix membungkuk mengambil ponselnya yang tidak sengaja terjatuh karena ia terkejut melihat penampilan Revina.


"Felix, Felix. Apa yang terjadi ?" tanya Revina cemas . Takut terjadi sesuatu kepada suaminya.


"Aku tidak apa-apa." wajah Felix kembali memenuhi layar ponsel Revina.


"Kau sedang apa ?" tanya Felix.


"Aku baru saja akan tidur." jawab Revina yang kini sudah mendudukkan tubuhnya.


Ya Tuhan. Aku ingin pulang saat ini juga. Batin Felix sambil menelan ludahnya melihat Revina yang memakai gaun tidur satin bertali spaghetti. Felix meraup wajahnya karena merasa frustasi.


"Kau masih di tempat kerja ?" tanya Revina karena melihat Felix masih duduk di kursi kantornya.


"Iya. mungkin sebentar lagi baru akan pulang."


"Jangan terlalu di paksakan. Nanti kau sakit. Jangan lupa istirahat." pesan Revina setiap harinya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengakhawatirkan ku. Aku baik-baik saja."


Dan mereka pun saling bertukar cerita tentang kesibukan mereka masing-masing. Revina juga sudah menceritakan tentang apa yang terjadi pada papa Jonatan dan tentang hubungannya dengan Abraham. Meskipun jauh sebelum Revina menceritakan tentang itu, Felix sudah lebih dulu mengetahuinya.


*


Sementara itu di ketinggian beribu-ribu kaki, sebuah pesawat terbang yang menuju London beberapa jam lagi akan mendarat di bandara London City.


Abraham tidak dapat memejamkan matanya saat penumpang lain di pesawat sedang terlelap. Abraham merasa gelisah karena tujuannya datang ke kota London bukan untuk urusan bisnis. Melainkan untuk bertemu dengan orang tua Sonia. Seperti yang telah ia rencanakan sebelumnya. Karena kesibukannya untuk mengurus ambil alih perusahaan milik papa Revina, Abraham menunda niatnya untuk segera melamar wanita yang berhasil mencuri perhatiannya.


Abraham tiba di London pada pukul satu dini hari waktu setempat. Ia langsung menuju ke hotel yang telah di pesan sebelumnya. Masih ada sekitar delapan jam lagi waktu untuk Abraham beristirahat sebelum ia menemui Heru Cullen sesuai dengan temu janji yang telah di atur oleh sekretarisnya.


Abraham tidak memberi tahukan kepada siapapun prihal maksud dan tujuan kedatangannya. Bahkan kepada Heru. Revina saja tidak tahu jika saat ini pamannya sedang pergi ke luar negeri.


Abraham merasa semakin gugup ketika berjalan bersama seorang wanita cantik yang akan mengantarkannya menuju ke ruang Heru. Abraham membetulkan napas dan debaran jantungnya sesaat sebelum masuk.


"Selamat datang tuan Wiliam." Heru menyambut ramah tamu jauh yang datang dari tanah air tercintanya.


"Terima kasih, tuan. Senang bisa bertemu dengan anda." balas Abraham tak kalah ramah. Yang sebenarnya untuk menutupi kegugupan di hatinya.


Setelah berbasa-basi menanyakan tentang keadaan tanah airnya kepada Abraham, Heru langsung menanyakan tentang maksud kedatangan pria matang yang masih lajang tersebut.


Ehm

__ADS_1


Abraham menetralkan rasa gemuruh di dadanya agar lancar menyampaikan maksud tujuannya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya di depan Heru sehingga membuat pria paruh baya itu mengkerutkan keningnya.


Perusahaan Abraham maupun perusahaannya tidak bergerak di bidang perhiasan. Mengapa Abraham menunjukkan sebuah cincin kepadanya. Batin Heru.


"Saya ingin melamar putri anda." kata Abraham dengan yakin dan lancar.


Heru begitu terkejut mendengar penuturan Abraham. Pria itu terdiam sejenak menatap wajah pria yang baru saja mengajukan lamaran, mencari keseriusan di sana.


Abraham mengusap keringat dingin di dahinya. Cemas menunggu jawaban dari Heru.


"Apa anda mengenal putri saya ?" tanya Heru menyelidik.


"Tentu saja tuan. Saya mengenalnya dan Sonia pun mengenal saya." jawab Abraham jujur.


"Apa kalian memiliki hubungan spesial ?" Abraham menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Memang antara dia dan Sonia tidak memiliki hubungan khusus. Hanya karena sebuah kejadian yang tidak terduga akibat kenekatan Sonia membuat mereka terikat benang merah.


Heru kembali terdiam seperti memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab lamaran Abraham. Heru menarik napasnya sebelum berbicara.


"Maaf, tuan Wiliam. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Saya akan membicarakan hal ini dengan istri dan putri saya terlebih dahulu." Heru mengambil kotak cincin itu dan mengembalikan semula kepada Abraham.


"Saya harap anda sedang tidak buru-buru. Datanglah besok malam untuk makan malam di rumah." lanjut Heru lagi.

__ADS_1


Abraham menghela napasnya. Sepertinya ia tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


__ADS_2