
Revina terkejut setelah melihat jelas wajah pria itu.
"Anda !"
"Silahkan duduk." perintah Abraham kepada Revina. Ini kali pertama interaksi antara paman dan keponakannya. Abraham yakin Revina tidak tau mengenai hal itu.
"Terima kasih, tuan Wiliam." ucap Revina menunduk hormat kemudian mendudukkan tubuhnya.
"Tuan mengapa saya di bawa kemari ? bolehkah saya pulang sekarang. Suami saya pasti sedang mencari saya." Revina langsung mengutarakan keinginannya.
Revina hanya mengenal Tuan Wiliam sebagai pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja. Ia yakin jika Tuan Wiliam adalah orang baik.
"Makanlah dulu. Setelah itu baru bicara." kata Abraham dengan suara datar tanpa melihat kearah Revina.
Revina mengambil makanan setelah Abraham memulai makan makanannya. Kebetulan saat ini ia juga sedang kelaparan. Seketika Revina teringat dengan Felix. Bagaimana keadaannya sekarang ini. Mengingat hal itu, Revina jadi tidak berselera dengan makanannya.
Saat ini Revina sudah berada di ruangan kerja Abraham. Revina duduk sambil menelisik ruangan tersebut sambil menunggu Abraham sedang berbicara dengan seseorang.
"Dia sudah terlalu melampaui batas. Beri dia pelajaran yang setimpal." perintah Abraham kepada seseorang.
Abraham baru saja mendapat informasi jika yang ingin mencelakai Revina adalah orang suruhan Dewi yang bekerja di perusahaannya. Dewi juga bekerja sama dengan Jasse. Setelah memberikan perintah, Abraham meletakkan ponsel di atas meje kerjanya.
"Tuan, bolehkah saya pulang sekarang ?" tanya Revina tidak sabar.
"Untuk sementara waktu kau akan tinggal di sini." balas Abraham datar yang membuat Revina mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Tapi tuan, Felix pasti mencemaskan ku karena aku tidak belum menghubunginya." Revina mengutarakan alasannya.
__ADS_1
"Kau tahu diri mu tadi dalam bahaya. Karena ada yang sengaja ingin mencelakai mu." beritahu Abraham.
"Apa ?" Revina terkejut mendengar perkataan Abraham. Ia pikir tadi hanyalah orang yang ingin mencuri di rumahnya.
"Tapi siapa yang melakukannya ? saya merasa tidak punya musuh. Hanya .." Revina menghentikan kalimatnya ketika ia teringat jika hanya Jasse lah yang selalu mengganggunya.
"Saya tidak peduli tuan. Saya ingin pulang sekarang." pinta Revina karena mencemaskan Felix. Ia tidak peduli lagi pada Jasse yang akan berbuat sesuatu padanya.
"Kau tetap akan tinggal di sini sampai suami mu datang untuk menjemput mu." ucap Abraham yang langsung di potong oleh Revina.
"Anda tidak berhak untuk menahan saya di sini." bantah Revina dengan nada marah. Kemudian ia langsung keluar dari ruangan itu. Revina mencoba mencari jalan keluar untuk pergi dari rumah Abraham. Tapi, baik pelayan maupun pengawal menahannya. Membuat Revina kembali masuk ke dalam kamar dan teridur di sana.
Sementara itu, Felix yang baru saja terjaga mendapati dirinya sedang berada di sebuah kamar di dalam pesawat pribadi milik keluarga Maxim.
Felix memegang kepalanya yang terasa pusing
Saat ini pesawat pribadi yang membawa Felix pergi ke London masih mengudara. Butuh beberapa jam lagi agar sampai di tempat tujuan. Felix tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Tapi, lihat saja nanti setelah ia mendarat. Sonia adalah orang yang pertama yang akan ia hubungi.
*
Keesokan paginya, Abraham sedang sarapan bersama Revina dalam diam. Setelah sebelumnya Revina memberontak meminta untuk segera keluar dari rumah ini.
"Maaf, Tuan. Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda." ucap salah seorang pengawal.
"Siapa ?" tanya Abraham dingin karena ia sungguh malas bertemu dengan perempuan jika tidak ada urusan penting.
"Nona Cullen, tuan."
__ADS_1
Abraham menarik sedikit sudut bibirnya mendengar jawaban dari pengawalnya.
"Bawa dia ke ruangan kerja ku." Perintah Abraham kemudian melanjutkannya sarapannya.
"Habiskan makanan mu." kata Abraham kepada Revina yang masih memakan sarapannya. Kemudian ia pergi menuju ke ruangan kerjanya.
Revina hanya melirik sekilas, karena saat ini ia merasa kesal dengan pria yang sudah menahannya sejak semalam. Ia pikir Abraham adalah orang baik. Tapi, ternyata bos tempat suaminya bekerja itu malah tidak mengizinkannya ia pulang.
Sementara di dalam ruang kerja Abraham, seorang wanita sedang duduk dengan wajah yang di tekuk sambil menggerutu.
"Malas sekali aku datang ke sini bertemu dengan beruang kutub tua. Jika saja bukan karena Felix aku tidak sudi berurusan dengannya. Menyebalkan." Sonia mengumpat seorang diri.
"Siapa yang menyebalkan ?" tiba-tiba pintu ruangan terbuka bersama dengan suara Abraham yang terdengar dingin di telinga Sonia.
Dasar beruang kutub tua. Batin Sonia dalam hatinya.
"Selamat pagi, Tuan Abraham." sapa Sonia sopan kepada pria yang umurnya tujuh belas tahun lebih tua darinya.
Meskipun sudah berumur empat puluh dua tahun tapi Abraham masih terlihat gagah dan tampan. Astaga apa yang aku pikirkan. Sonia mengusir pikiran kotor dalam otaknya.
"Ada apa kau datang menemui ku pagi-pagi ?"
tanya Abraham menelisik. Pasalnya Abraham tau jika wanita yang sedang duduk di depannya ini sangat tidak ingin bertemu dengannya karena kejadian di masa lalu.
"Aku tidak datang untuk menemui mu, tuan. Aku ke sini ingin bertemu dengan Revina." jawab Sonia tanpa basa-basi.
Abraham seketika terkejut. Dari mana wanita gila ini tau jika saat ini Revina sedang ada di rumahnya.
__ADS_1