Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Mengetahui Kenyataan


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu. Abraham pulang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Revina terkejut mendapati Abraham sudah ada di meja makan untuk makan malam.


"Tuan, kapan anda kembali ? bisa kita bicara ?" tanya Revina.


"Makanlah dulu. Setelah itu baru bicara." Abraham menjawab pertanyaan Revina tanpa menoleh ke arah keponakannya itu.


Setelah selesai makan malam, Revina kini sedang berada di ruangan kerja Abraham.


"Mengapa anda mengambil perusahaan papa ku ?" Revina langsung meluahkan pertanyaan yang sudah tiga hari ini di pendamnya.


"Karena memang itu sudah perjanjiannya." jawab Abraham santai.


"Perjanjian apa ? dan mengapa anda semena-mena terhadap saya dan keluarga saya ?" Revina mulai emosi melihat sikap Abraham yang yang seolah-olah merasa tidak bersalah.


"Perjanjian yang telah di buat Jonatan dua puluh tahun yang lalu." Abraham mengeluarkan surat perjanjian dan memberikannya kepada Revina.


"Apa ini ?" Revina mengambil map tersebut dan membukanya.


Revina membaca surat perjanjian itu dengan teliti.


"Apa maksudnya ? apa ini benar ?" Revina merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.


"Aku minta maaf." Abraham menghela napasnya.

__ADS_1


Revina menatap tidak mengerti kearah Abraham. Pria itu menghela napasnya sebelum berbicara.


"Seharusnya aku yang menjaga mu. Papa mu telah memberikan amanah itu pada ku sebelum ia meninggal." terdengar nada menyesal dalam kalimat yang di ucapkan oleh Abraham.


"Jadi benar aku bukan anak kandung papa ku ?"


Abraham mengangguk menjawab pertanyaan Revina.


"Papa kandung mu adalah kakak ku. Sedangkan Jonatan adalah kakak mama mu. Karena itu nama mu Revina Wiliam bukan Smith seperti kakak mu."


Revina menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Abraham. Apa karena itu mama Asila dan Jasse tidak menyukainya selama ini.


Abraham menceritakan apa yang terjadi dua puluh tahun lalu setelah orang tua Revina meninggal dunia sehingga terbitlah surat perjanjian itu.


Abraham memberi tahu Revina jika yang menjebaknya dengan Felix adalah Jasse. Bahkan kejadian baru-baru ini yang menimpanya juga adalah Jasse dalangnya.


"Mereka sudah keterlaluan dan Jonatan tidak bisa melindungi mu lagi. Karena itu aku membawa mu kemari." lanjut Abraham lagi.


"Tapi, aku sudah memiliki suami."


"Aku tahu itu. Tapi saat ini dia tidak ada di sini." Abraham tidak mengatakan kepada Revina jika ia sedang menyelidiki Felix.


"Jadi jangan menganggap aku berlebihan. Aku hanya melindungi mu dari orang-orang yang ingin mencelakakan mu." Bahkan dari suami mu. Lanjut Abraham dalam hatinya.

__ADS_1


Abraham yakin jika Felix bukanlah orang sembarangan. Bisa jadi dia adalah seorang mata-mata atau agen yang bekerja di sebuah instansi rahasia. Seorang agen biasanya memilih banyak musuh dan Abraham takut Revina menjadi sasaran musuh-musuh Felix.


Abraham kemudian menghela napasnya. Apa aku terlalu berlebihan mencurigai pria itu. Batin Abraham.


"Jadi, bisakah aku memanggil mu paman ?" pertanyaan Revina mengalihkan Abraham dari memikirkan Felix dan beralih menatap Revina.


"Tentu saja. Aku memang paman mu." Abraham mengeluarkan sebuah box dan memberikan kepada Revina.


"Ini barang-barang milik mu." Abraham menyodorkan box tersebut di depan Revina.


Revina mengeluarkan salah satu barang dari dalam box tersebut. Sebuah foto keluarga persis seperti yang terpajang di dinding ruang tengah.


"James Wiliam dan Vany Smith bersama putri mereka yang saat itu berusia satu tahun sepuluh bulan." Abraham menjelaskan.


"Jadi .."


"Jadi foto yang setiap hari kau lihat itu adalah foto mu bersama dengan kedua orang tua mu." Abraham memotong perkataan Revina. Seperti tau apa yang akan di katakan oleh keponakannya itu.


Revina melihat satu persatu barang-barang di dalam box itu. Akta kelahiran miliknya, foto-foto bersama ibunya ketika ia baru lahir, saat ia ulang tahun pertama dan masih banyak foto lainnya. Revina merasa terharu melihat itu semua..


"Aku tau ini semua terasa sulit bagi mu. Tapi itu lah kenyataannya. Dan untuk urusan Jonatan, aku akan mengizinkan jika kau ingin bertemu dengannya. Tapi harus di dampingi pengawal. Aku tidak ingin dia meracuni pikiran mu lagi." kata Abraham.


Akhirnya hari ini datang juga setelah menunggu selama 20 tahun. Kak aku sudah melaksanakan amanat mu meskipun sudah terlambat. Aku minta maaf.

__ADS_1


__ADS_2