Menikahi Pria Tidak Berguna

Menikahi Pria Tidak Berguna
Revina Yang Terkejut


__ADS_3

Di bawah cahaya lampu remang-remang seorang pria menatap Revina penuh damba. Perlahan pria itu berjalan di sisi ranjang. Ia melepaskan jam di pergelangan tangannya dan meletakkan di meja samping tempat tidur. Kemudian melepaskan jas dan kemejanya. Pria itu tidak langsung naik ke atas tempat tidur tapi malah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekaligus menenangkan gejolak yang membara di dalam dirinya.


Revina mengerjabkan matanya yang masih terasa sangat berat. Ia merasakan hembusan napas hangat menerpa kulit wajahnya. Di dalam ruangan yang hanya di terangi cahaya temaram Revina melihat samar-samar bayangan sosok seorang pria sedang berada di atasnya. Apa aku sedang bermimpi ? Revina mengerjabkan berkali-kali matanya untuk melihat lebih jelas apakah ini mimpi atau nyata.


Akhirnya Revina membuka matanya lebar-lebar ketika ia benar-benar merasakan sentuhan di bibirnya.


Eemmhh..


Revina mencoba memberontak dan berusaha mendorong tubuh seseorang yang sedang mencium bibirnya dengan sangat rakus. Revina mencoba berteriak untuk meminta tolong. Tapi sayangnya mulutnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena sedang di bungkam dengan sebuah ciuman. Revina sudah mulai ketakutan. Tangannya berusaha mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata.


Revina yang sedang berusaha melawan untuk melepaskan diri kemudian menendang dengan kuat di bagian bawah tubuh orang yang berada di atasnya. Seketika pria itu melepaskan tautan bibirnya dari bibir Revina dan mengaduh kesakitan sambil memegang bagian tubuhnya yang terasa sakit. Revina segera membangunkan tubuhnya dan menekan saklar lampu.


"Sayang mengapa kau menendangnya ?" terdengar suara yang tidak asing di telinga Revina.


"Astaga. Felix !" Revina terkejut mendapati Felix yang bertelanjang dada berada tepat di depannya. Felix terlihat sedang meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Kau telah menyakitinya Revina." ucap Felix menatap nanar benda berharga miliknya yang terletak di antara kedua pangkal pahanya yang tertutup handuk.


"Itu kan salah mu sendiri. Karena telah menakut-nakuti ku." balas Revina dengan ketus.


Revina setengah mati ketakutan ketika menyadari ada seseorang yang berada di atasnya di tengah kegelapan.


"Itu adalah hukuman buat mu karena kau telah membohongi ku." ucap Felix menatap tajam istrinya sambil merangkak menuju Revina lebih dekat.


"Hu-hukuman apa ?" tanya Revina terbata karena Felix berada sangat dekat dengannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.


"A aku .." Revina tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena mulutnya kembali di bungkam oleh Felix dengan sebuah ciuman.


Ciuman yang semakin lama semakin panas dan menuntut membuat keduanya sama-sama kehabisan oksigen. Felix melepaskan tautan bibirnya untuk memberikan kesempatan kepada Revina menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kemudian Felix kembali mencium bibir wanitanya. Tangannya menahan belakang kepala Revina untuk memperdalam ciuman mereka. Felix semakin semangat mengeksplorasi mulut Revina dengan lidahnya saat Revina membuka mulut dan membalas ciuman suaminya.


"Aku sangat merindukan mu, sayang." ucap Felix yang kini sudah menurunkan bibirnya di leher jenjang Revina. Mengecup dan meninggalkan bekas kepemilikannya di sana.

__ADS_1


Cum buan Felix berhasil membuat Revina mengeluarkan suara de sahan yang sangat seksi di telinga Felix. Pria itu semakin intens mencium di bagian kulit Revina yang tidak tertutup kain. Kedua tangannya juga tidak tinggal diam dan ikut bergerak memainkan sesuatu yang begitu lembut dan kenyal yang berada di bawah kain yang dikenakan oleh Revina.


"Sayang bolehkah ?" tanya Felix dengan suara parau karena gairah hasrat yang sudah membakar dalam dirinya.


Revina yang mengerti maksud pertanyaan Felix mengangguk perlahan dengan malu-malu. Napasnya turun naik dengan cepat akibat sentuhan suaminya yang begitu memabukkan.


Setelah mendapat persetujuan dari Revina, Felix menarik kemeja piyama yang di kenakan Revina. Dengan sekali tarikan kancing piyama Revina langsung bertaburan dan menampakkan dua buah benda yang sangat menantang di depan Felix.


Mata Felix yang kini sudah berkabut menatap penuh damba kedua benda tersebut. Dengan cepat Felix membenamkan wajahnya di sana. Mengecup, mencium dan mengulumnya secara bergantian sambil tangannya tidak tinggal diam dan ikut memainkannya sehingga membuat Revina kembali melenguh, men desa. Kedua tangan Revina mencengkeram erat rambut Felix untuk menahan rasa geli yang menggelitik tapi juga sangat nikmat.


Entah sejak kapan kain yang di kenakan Revina berhasil di lepas oleh Felix sehingga kini tubuh Revina sudah polos seperti bayi. Felix juga segera melepaskan handuk yang di pakainya dan membuangnya ke sembarang arah. Kini mereka berdua sudah sama-sama polos. Revina mengapit kedua kakinya dan kedua tangannya menyilang di dada untuk menutupi aset-asetnya yang selama ini tidak pernah di lihat orang lain. Revina merasa malu karena Felix menatapnya begitu intens.


"Jangan melihat ku begitu. Aku malu." kata Revina malu-malu.


"Untuk apa malu. Aku suami mu. Aku berhak untuk melihat milik mu dan kau juga berhak untuk melihat punya ku." balas Felix sambil matanya melihat ke bawah.

__ADS_1


Revina mengikuti arah pandangan Felix dan membuat Revina begitu terkejut. Astaga. Besar sekali. Apa itu bisa muat ? Revina menelan ludahnya dengan susah payah, membayangkan bagaimana benda besar itu akan masuk ke dalam inti tubuhnya.


__ADS_2