
Felix semakin memeluk erat tubuh Revina. Kemudian ia tersadar dengan teriakannya sendiri. Felix membuka matanya, melihat Revina yang ada dalam dekapannya.
"Syukurlah. Hanya mimpi." Felix berkata pelan sekali, bahkan suaranya nyaris tidak terdengar.
Perlahan degupan jantungnya kembali normal. Felix mencium pucuk kepala Revina. Ia sungguh merasa takut kehilangan wanita yang ia cintai. Entah sejak kapan Felix jatuh cinta kepada wanita yang selalu galak padanya dulu. Tapi yang jelas sekarang Felix tidak ingin kehilangan Revina. Felix kembali melanjutkan tidurnya sambil terus memeluk Revina. Mimpi itu rasanya begitu nyata membuat Felix sangat takut untuk meninggikan Revina sendirian.
*
Felix mencium kening Revina ketika akan berangkat bekerja.
"Aku pergi dulu. Hati-hati di rumah. Jangan lupa kunci pintunya. Aku mencintaimu." pesan Felix dan tidak lupa juga ungkapan cinta untuk istrinya.
"Iya. Aku tau. Pergilah. Hati-hati bawa mobilnya."
Felix kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya menuju ke tempat kerjanya. Dua puluh menit kemudian ia sudah sampai di Perusahaan Black Diamond. Felix tidak langsung keluar dari mobilnya, karena ia ingin menghubungi Sonia terlebih dahulu.
"Ya. Ada apa Felix ?" tanya Sonia saat menjawab telepon dari sepupunya itu
"Sonia kirimkan beberapa orang profesional untuk menjaga istri ku. Aku punya firasat buruk tentang Revina." Felix langsung mengatakan keinginannya.
"Aku rasa kau tidak perlu melakukan itu. Apa kau tahu jika Abraham sudah lebih dulu melakukan itu." beritahu Sonia.
"Benarkah ?" tanya Felix tidak percaya karena ia sungguh tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Tapi aku ingin kau tetap menugaskan seseorang untuk mengawasinya." Felix tetap pada keinginannya.
"Oke." Sonia mengiyakannya permintaan Felix. Karena ia tau pria itu tidak suka di bantah.
Setelah itu baru Felix merasa lega. Ia pun segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung perusahaan.
"Felix." panggil Dewi yang berusaha mengejar langkah kaki panjang pria itu.
"Felix, aku minta maaf soal semalam. Aku tidak bermaksud untuk menyusahkan mu." kata Dewi setelah berjalan di samping Felix.
"Lupakan saja." balas Felix dingin. Lalu berjalan cepat meninggalkan Dewi di belakangnya.
*
Sementara itu di kantor pusat Boison Grup saat ini Eric terlihat memijit keningnya yang terasa berdenyut. Baru saja ia mendapatkan kabar dari London Inggris jika saat ini perusahaannya yang ada di sana sedang dalam masalah. Beberapa orang yang berinvestasi di perusahaan itu meminta agar Felix kembali memimpin perusahaan. Karena sejak Felix tidak lagi memimpin perusahaan selama satu tahun ini mereka menjadi rugi. Pasalnya perusahaannya tidak berkembang dan cenderung menurun. Tidak seperti saat Felix masih memimpinnya.
"Eric, bagaimana keputusan mu ?" tanya Merry langsung pada intinya.
"Aku akan berangkat ke sana sore ini juga." jawab Eric yang tidak memiliki pilihan lain. Ia akan berangkat setelah selesai pertemuan dengan kliennya siang ini.
"Apa tidak sebaiknya kau membicarakan ini dengan putra mu dulu ?" Merry memberikan saran meskipun rasanya itu tidak mungkin dilakukan oleh suaminya.
"Tidak perlu. Aku masih bisa mengatasinya." gengsi Eric terlalu besar untuk meminta Felix kembali setelah ia mengusirnya. Felix pasti akan besar kepala jika sampai ia melakukan itu.
__ADS_1
Merry menghela napasnya menghadapi sifat suaminya yang memang sudah mendarah daging dari keturunan Maxim.
"Eric, sekarang kau sudah tidak muda lagi. Mengurus semuanya sendiri dan ditambah lagi menyelesaikan masalah, tebang ke sana ke mari. Itu sangat berat di di usia mu saat ini. Lain halnya jika kau masih muda seperti dulu." Merry mencemaskan keadaan suaminya.
"Tenang saja sayang. Aku masih kuat. Bahkan aku masih bisa membuatmu tidak berdaya di tempat tidur." ucap Eric sambil tersenyum. Membuat Merry merasa malu. Beruntung tidak ada orang lain yang mendengarnya.
"Astaga, Eric. Apa kau tidak malu mengatakan itu. Ingat umur mu berapa sekarang." Merry sedikit marah mengatakan itu. Di saat seperti ini suaminya masih saja bisa bercanda mesum.
Merry mengirimkan pesan kepada Felix. Ia akan menemui Felix hari ini juga. Merry akan berusaha untuk membujuk Felix agar mau membantu menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan yang pernah dipimpinnya dulu. Perusahaan yang ada di London merupakan perusahaan terbesar Boison yang ada di luar negeri. Karena itulah Eric selalu dan harus memprioritaskannya di bandingkan dengan perusahaannya yang ada di negara lain.
Ketika jam makan siang, Felix datang ke Pure Paradise Hotel untuk bertemu mommynya. Ia memilih untuk bertemu di hotel karena ia tahu saat ini Abraham masih menyuruh orang untuk mengikuti dan mencari tahu tentangnya.
"Hai, mom." Felix langsung memeluk ibunya ketika ia baru saja tiba.
"Bagaimana kabar mu sayang ?" tanya Merry setelah melepaskan pelukannya.
"Seperti yang mommy lihat, aku baik-baik saja." Felix merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum menunjukkan bahwa sampai saat ini ia masih hidup dengan baik.
"Ada yang ingin mommy bicarakan dengan mu." Merry mulai berbicara serius. Ia menceritakan kepada Felix tentang apa yang terjadi saat ini dan meminta Felix untuk membantu.
"Maaf, mom. Aku tidak bisa." Felix dengan sopan menolak permintaan mommynya.
"Felix apa kau tidak kasihan dengan Dady mu ?" Marry masih membujuk putranya.
__ADS_1
"Dady saja tidak pernah merasa kasihan pada ku." Felix ingat bagaimana dulu ayahnya memaksanya untuk menikah dengan anak dari teman bisnisnyaa tanpa memikirkan perasaannya. Bahkan hanya karena Felix menolak keinginan ayahnya, Eric sangup memenjarakan, membuangnya dan mengambil segala fasilitas yang ia miliki.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan mu. Tapi, mommy harap kau memikirkan kembali permintaannya mommy ini." Merry tau jika Felix sudah membuat keputusan maka tidak ada yang bisa memaksanya untuk merubahnya.