
Keesokan harinya, Galang datang bersama dengan Rasya, Galang merangkul tubuh Rasya yang sempoyongan dan dengan baju yang kusut.
"Bu, bapak...." ucap Situ menunjuk ke arah Galang dan Rasya.
Ryn berdiri dari duduk nya, berjalan menghampiri Galang.
"Mabuk lagi?" Tanya Ryn pada Galang
"Iya" ucap Galang
"Bawa ke kamarnya saja ka" ucap Ryn pada Galang
Galang pun langsung naik keatas, untuk membaringkan Rasya di kamarnya.
"Siti tolong bawakan handuk dan air hangat, beri sedikit minyak Angin ya.." ucap Ryn
"Baik Bu" ucap Siti langsung berjalan ke dapur
Ryn masuk kedalam kamar Rasya.
"Bu, saya tidak bisa berlama-lama disini, karena banyak pekerjaan di kantor, saya titip pak Rasya kalau terjadi apa-apa telpon dokter keluarga saja, atau telpon saya lagi" ucap Galang
"Baiklah, terimakasih ka" ucap Ryn
"Hati-hati emosinya sedang tidak stabil, salah-salah kamu yang akan dimakan nya" ucap Galang
"Kalau gitu lebih baik saya menjauh saja" ucap Ryn
__ADS_1
"Saya becanda, sekali lagi titip Rasya ya.." ucap Galang sambil beranjak pergi.
Setelah kepergian Galang, Siti datang dengan membawa barang-barang yang Ryn pinta.
"Ini bu air hangat dan handuk nya" ucap Siti
"Kalau gitu sekalian kompres kan saja" ucap Ryn
"Ibu saja, Ibu kan istri nya, saya tidak berani buk" ucap Siti berjalan menjauh.
Ryn pun memberanikan diri mendekat ke arah Rasya. Ryn mulai duduk di sebelah Rasya, lalu mulai menempelkan handuk ke atas dahi Rasya.
"Kenapa pak Rasya jadi seperti ini ya bu?" Tanya Siti
"Saya tidak tau, mungkin sedang ada masalah" ucap Ryn
"Kalau gitu saya ikut saja" ucap Ryn beranjak dari duduknya.
"Jangan, kalau Ibu ikut yang jagain bapak siapa, sudah Ibu disini saja, Siti enggak lama ko buk" ucap Siti mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan lama ya Siti saya tidak mau berdua saja" ucap Ryn
"Iya buk" ucap Siti berjalan keluar kamar Rasya.
"Buk Ryn ini kelewat polos mereka kan sudab menikah, satu kamar dengan suami saja takut" ucap Siti bersembunyi di balik dinding.
Tiba-tiba Rasya menggerakkan tangannya dan memegang dahinya.
__ADS_1
"Emmm Shella" Gumam Rasya memegang tangan Ryn
"Kenapa kamu meninggalkan aku Shella, kenapa kamu memilih pilihan yang bodoh itu?? Apa sebegitu tidak penting nya aku di banding karier mu?" ucap Rasya menggenggam keras tangan Ryn
"Aww... Sakit pak, ini saya Ryn bukan mbak Shella" mencoba menarik tangannya, agar terlepas dari genggaman tangan Rasya.
"Kalau itu memang pilihanmu, jangan salahkan aku kalau aku akan membencimu Shella, aku sudah cukup sabar sama kamu selama ini!!!" ucap Rasya duduk dan menarik tangan Ryn lebih keras.
"Aw... Pak Saya Ryn tolong sadar" ucap Ryn mendorong Rasya dengan kencang. Lalu lari menjauh.
"Kamu bahkan tega mendorongku Shella, kurang apa lagi aku, semua sudah aku berikan sama kamu Shella !!!!" ucap Rasya lalu membaringkan tubuh nya kembali dan menutup matanya.
Ryn kembali menghampiri Rasya.
"Kasihan sekali pak Rasya mungkin mbak Shella kembali meninggalkan pak Rasya, sampai dia terpuruk seperti ini" ucap Ryn membenarkan posisi tidurnya Rasya.
"Setelah anak ini lahir kita akan sama-sama terbebas, jadi bapak bisa mengejar cinta bapak" ucap Ryn Sambil menatap wajah Rasya.
"Dia bisa setegar itu mendengar suaminya mengidamkan perempuan lain" ucap Siti dari balik tembok, lalu pergi ke dapur.
"Raina maafkan aku, maafkan aku" gumam Rasya.
"Apa dia memanggil namaku tadi?" ucap Ryn yang sedang membuka sepatu Rasya
"Ah mungkin aku salah dengar" melanjutkan kegiatannya
Bersambung.
__ADS_1