
Beberapa hari kemudian, hubungan Rasya dan Ryn semakin membaik, walaupun Masih terlihat kaku di antara mereka.
"Ryn dimana?" tanya Rasya pada Siti, Rasya sedang duduk di meja makan.
"Ibu masih di kamar pak, semalam Ibu bilang kepalanya pusing, tapi Siti belum melihat nya lagi" ucap Siti
"Apa Ryn sakit? Kenapa kamu tidak beritahu saya?" ucap Rasya, tanpa meminta jawaban dari Siti, Rasya langsung beranjak pergi ke kamar Ryn.
"Syukurlah sekarang pak Rasya lebih perhatian sama Ibu" ucap Siti tersenyum
Sampai di kamar Ryn, Rasya langsung membuka kamar Ryn, Rasya memang tidak memperbolehkan Ryn untuk mengunci pintu kamarnya karena dia takut ada sesuatu terjadi pada Ryn dan dia tidak tau, seperti kali ini.
"Ryn? Saya denger dari Siti kamu sakit" ucap Rasya duduk di pinggir ranjang Ryn
"Ryn ini jangan di tutupi, kamu sakit apa?" ucap Rasya mencoba membuka selimut dari Ryn.
"Panas sekali" ucap Rasya sambil memegang dahi nya Ryn
"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Rasya.
"Jangan pak.. Ryn tidak mau kerumah sakit" ucap Ryn dengan wajah pucatnya.
"Tapi badan mu panas, muka kamu juga pucat, kita ke rumah sakit sekarang saja" ucap Rasya beranjak bangun.
__ADS_1
"Ryn mau disini saja" menahan tangan Rasya.
"Tapi Ryn" ucap Rasya
"Ryn tidak apa-apa Ryn mau disini saja, ya pak?" ucap Ryn dengan lemas.
"Baiklah kalau gitu saya ambil kompres an dulu" ucap Rasya.
Baru saja Rasya berdiri tiba-tiba Siti datang membawa air di hangat dan handuk kecil untuk mengompres Ryn.
"Terimakasih Siti" ucap Rasya
"Biar Siti yang melakukannya saja pak, bapak pasti sibuk, ini sudah jam bapak berangkat kerja?" ucap Ryn
"Tapi pak" ucap Ryn tertahan karena ucapan Rasya
"Kamu bisa diam saja tidak, nanti saya bingung mau kompres dahi atau mulut kamu?" ucap Rasya sambil memerat handuk kecil nya.
"Siti kamu buatkan bubur untuk Ryn" ucap Rasya.
"Baik pak" Siti langsung meninggalkan mereka.
"Kamu itu kalau merasa sakit, bilang sama Saya, Bagaimanapun kamu istri saya, dan sedang mengandung anak saya" ucap Rasya sambil menempelkan kain handuk nya di dahi Ryn .
__ADS_1
"Kenapa kamu lihatin saya seperti itu?" ucap Rasya, karena melihat Ryn yang terus melirik ke arah Rasya.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin melihat ayah dari calon anakku" ucap Ryn
"Tiap hari kurang apa kamu melihat saya?" ucap Rasya.
"Seperti bayangan dapat dilihat namun tidak bisa di gapai" ucap Ryn dengan suara lemah nya.
"Kamu ngomong apa sih, pasti karena panas jadi melindur" ucap Rasya.
"Anggap saja itu kata-kata melindur jika bapak nyaman dengan itu" ucap Ryn memalingkan wajahnya.
"Sudah kamu istirahat dulu, sambil nunggu bubur nya Siti matang" ucap Rasya
"Iya pak" ucap Ryn memejamkan matanya. Dan membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Rasya
"Kenapa Rasya, kenapa kamu tidak bisa bersikap baik pada Ryn, Kenapa kamu selalu menyakiti Ryn dengan perkataanmu" batin Rasya sambil menatap ke arah Ryn , yang sedang memejamkan matanya.
"Saya takut, tidak bisa mengontrol hati saya pada kamu Ryn, saya takut memberi harapan terlalu jauh, saya juga tidak mau mempermainkan kamu, karena suatu saat nanti kamu berhak bahagia " gumam Rasya.
Tanpa Rasya sadari kalau Ryn sedang mendengar perkataannya.
"Dadaku berdebar, tapi entah apa artinya, karena senang atau sedih" batin Ryn memegang dadanya.
__ADS_1
Bersambung