Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Mengalah dan Mundur


__ADS_3

"Pergi! Sebelum tangan ini mencekikmu!" ucapnya lagi masih dengan amarah yang menguasai dirinya.


Winda bergeming. Ia tetap melihat Dimas yang kini terus menatap pada Kezia yang berdiri di sebelahnya.


Tangan hangat itu terulur untuk menyentuh tangan Kezia. Kezia tidak menolaknya. Malahan ia memegang tangan Dimas dengan erat.


Seolah sedang mencari kekuatan melalui genggaman tangan nya. Dimas merasakan ketakutan saat ini melanda Kezia.


Tubuh itu mematung saat melihat Winda yang kini menatapnya dengan sendu dan penuh permohonan untuk menolongnya.


Kezia yang melihat itu terkekeh sumbang. Kezia segera menyentak tangan Dimas. Tetapi tidak terlepas sedikit pun.


"Lepas bang Dimas! Bantu rekan mu ini dan lepaskan aku!"


Deg!


Dimas tetap diam dengan mata tertuju pada Winda yang kini juga menatapnya.


"Cih! Pemandangan yang sangat romantis bukan? Heh? Ayo! Bantu rekan mu yang sedang meminta tolong padamu sama seperti kau yang meminta tolong padanya dengan mengatakan jika kau menikahiku karena terpaksa untuk memenuhi wasiat kakak ku! Dan juga kau berjanji padanya, akan menceraikan ku dan kembali padanya. Bukan begitu Winda? Bang Dimas?" tanya Kezia dengan sinis.


Entah kenapa sekarang Kezia ingin menyerang kedua orang itu. Tangan dan mulutnya begitu gatal ingin menyerang mereka berdua.


Kekesalan dihatinya semakin bertambah saat melihat tatapan keduanya tidak terputus sama sekali.


Kezia semakin luka hatinya. Ia pikir Dimas akan memilihnya. Ternyata tidak. Keduanya saat ini saling tatap dalam diam.

__ADS_1


Tes.


Tes.


Buliran bening itu mengalir di pipi Kezia. "Baik. Jika kalian berdua tidak mau menyelesaikan ini maka aku yang akan menyelesaikannya!"


Deg!


Bella dan Kenan menggeleng menatapnya. Kezia tetap pada pendiriannya. "Aku mundur!!"


Deg!


Dimas tersentak. Begitu pun dengan yang lainnya.


"Sayang.."


"Sayang.."


"Kamu memanggilku sayang? Sedang matamu menatap dalam pada wanita asing itu? Sebenarnya sejauh mana sih hubungan kalian berdua? Kok aku nggak tahu?? Apakah kalian sudah merencanakan ini sejak perpisahan kita dulu, iya? Tetapi kenapa baru sekarang kamu mengatakannya Bang Dimas?? Kenapa!" seru Kezia dengan suara melengking tinggi.


Sesak sekali hatinya saat melihat Dimas menatap wanita itu begitu dalam. Serasa hancur dunianya. Ternyata Dimas dan wanita itu..


"Itu tidak benar Key! Abang tidak pernah mengatakan hal itu padanya. Dan Abang juga tidak pernah membuat janji dengannya bahwa kita akan-,"


"Lantas ini apa? Ini suara siapa? Suara kamu bukan??" potong Kezia cepat sambil memutarkan rekaman yang ia salin dari ponsel Winda.

__ADS_1


"Hahaha.. Kamu benar Win. Aku akan kembali padamu setelah acara pernikahan kami selesai dan juga aku meceraikannya! Aku menikahinya karena terpaksa menjalan kan wasiat dari kakaknya dulu."


Klik.


Rekaman suara itu terputus. Dimas mematung melihat Winda. Sedang Winda kini menatapnya dengan wajah pias.


"Kenapa diam? Ayo jelaskan! Apa maksud dari rekaman ini? Ini kamu kan Bang Dimas? Ini suara kamu loh.. Aku sangat mengenal suara kamu bang Dimas!" tegas Kezia dengan emosi yang meletup-letup.


Dimas masih saja melihat Winda yang kini menunduk tidak berani melihatnya. Kezia terkekeh lagi.


"Aku benar bukan? Kalian sudah membuat janji dibelakangku! Jika aku tidak menyalin video ini ke ponsel ku, mungkin saat ini aku masih bisa menerima mu. Tetapi melihat tatapan kalian berdua yang sarat akan cinta, aku mengalah. Aku memilih mundur! Buat apa aku mempertahankan sesuatu yang tidak ingin bertahan denganku? Ia menikahiku karena terpaksa. Bahkan ia sampai berjanji pada wanita lain akan menceraikan ku setelah pesta pernikahan ini berakhir!"


Deg!


"Benar kata orang. Di jaman yang sudah akhir zaman ini, pelakor lebih maju dibandingkan dengan istri sah. Dan semua itu terbukti sekarang ini. Aku mengalah Bang Dimas! Aku mundur dari menjadi istrimu. Kembalilah bersamanya. Karena itu semua keinginan mu. Bukan keinginanku. Batalkan resepsi pernikahan kita yang ada di Jakarta dan Bandung. Pernikahan kita berakhir sampai disini!"


Huuffttt..


"Selamat Winda. Kamu menang! Kamu berhasil mendapatkan suamiku dengan cara mendepakku dengan cara halus. Selamat buat kalian berdua. Selamat! Aku pergi! Segera urus perceraian kita berdua. Karena setelah ini kalian berdua akan menikah dan hidup bahagia. Selamat untuk kalian berdua! Sekali lagi selamat! Aku pergi dan tidak akan pernah kembali lagi kepada kalian semua sesuai dengan perkataan ku dulunya.." lirih Kezia dengan dada yang sesak dan begitu berat untuk ia bawa.


Ia berjalan dengan langkah gontai dan menuju ke kamarnya. Tiba disana, ia segera menarik kopernya dan pergi tanpa melihat lagi pada mereka semua yang kini mematung karena perkataan dan juga karena kepergiannya.


Tidak ada yang mencegahnya. Termasuk Dimas. Pandangan lelaki itu saat ini kosong. Fakta yang baru saja ia dengar begitu membuatnya Shock.


Dimas menatap kepergian Kezia dengan tatapan hampa. Semua orang yang melihatnya pun demikian.

__ADS_1


* Kalau alurnya menurut kalian belum sesuai, maaf. Othor sedang berusaha menuliskan alurnya dengan tepat. Konflik utama sudah terjadi ye?


__ADS_2