
Winda mematung mendengar ucapan Papa Rian untuknya. "Maafkan saya tuan Rian. Saya melakukan ini karena saya mencintainya. Sejak pertama kali kami bertemu saat kami kuliah dulu. Jika dibandingkan dengan Kezia, aku yang lebih dulu mengenalnya!" ucap Winda dengan bibir bergetar.
Papa Rian teetawa sumbang. "Cinta katamu?? Cinta yang bagaimana kamu maksud? Dan apa kata kamu tadi? Kamu lebih dulu mengenalnya?? Hahahaa..." Papa Rian tertawa sarkas melihat Winda yang kini masih saja menatap nya.
"Kamu salah Dokter Winda Lesmana! Jauh sebelum kamu bertemu Dimas, Kezia sudah lebih dulu bertemu dengannya. Mereka selalu bersama sejak kecil hingga saat sebuah kejadian tak terduga mereka terpisah. Dan kamu tahu Dokter Winda Lesmana? Siapa penolong Dimas waktu ia terpuruk dan depresi karena rasa bersalahnya terhadap almarhumah Zahra kakak nya Kezia??"
"Siapa?" Bukan Winda yang bertanya tetapi Mama Rani yang kini menatapnya dengan wajah basah air mata.
Papa Rian semakin erat memeluk Dimas yang kini semakin tersedu kala mengingat Kezia yang sudah pergi entah kemana dan meninggalkannya begitu saja tanpa mendengar jawaban apapun dan juga penjelasannya sama sekali.
Kezia terlanjur terluka saat ini. Dan Dimas sangat menyesali itu. Air mata itu terus bercucuran di pipinya saat ini.
"Siapa??" ulang Papa Reza yang begitu penasaran dengan penolong Dimas saat ia depresi dulunya karena rasa bersalahnya kepada almarhum Zahra dan Rayyan.
__ADS_1
Papa Rian tersenyum lembut pada besan nya walau penuh dengan air mata. "Putri bungsu mu Besan. Kezia Rahmawati Putri Ar Reza!"
Dddddduuuaaaaarrrrr..
Semuanya tersentak mendengar itu. "Kezia??" ulang Tante Riana yang kini menatap Abang iparnya itu.
"Ya, Kezia. Kezia istri Dimas yang baru saja pergi. Jika bukan karena nya, mungkin saat ini Dimas sudah tiada karena depresinya itu begitu mengganggu jiwa dan kehidupannya."
"Kezia lah orang yang telah memberinya semangat saat tak ada seorang pun yang mendukungnya. Kezia juga yang sering berbicara padanya saat ia kembali kambuh. Putrimu tahan bolos dari sekolah demi bisa berbicara dengan Dimas dan menenangkannya. Hanya Kezia yang waktu itu bisa menolongnya. Hanya Kezia.. Disaat kalian semua terpuruk karena meninggalnya Zahra. Kezia malah sedang memberikan semangat untuk Dimas. Dimas hidup karena Kezia. Bukan yang lain.."
"Itu semua belum cukup untuk kamu Winda! Dimas dan Kezia sudah bertemu pertama kali saat Kezia lahir kedunia ini! Saat umur Dimas sudah sembilan tahun Kezia baru saja lahir. Dimas lah orang pertama yang mengadzankannya. Dia bilang, Papa. Kalau Abang punya adek lagi, Abang pasti sangat senang jika memiliki adek seperti baby Key! Tapi.." Papa Rian menarik nafasnya yang terasa begitu sempit menguasai paru-parunya.
"Tapi.. Kalau Abang boleh meminta, Abang mau. Kalau Kezia yang akan menemani Abang nantinya. Hanya Kezia. Nggak ada yang lain. Dan bukan yang lain.." lirih Papa Rian semakin sesak di dadanya.
__ADS_1
Ia menangis tersedu sambil memeluk erat tubuh Dimas yang sudah terdiam sedari tadi. Papa Rian tahu, kalau Dimas pingsan karena tidak kuat menahan beban di hati dan pikirannya tentang kepergian Kezia.
Inilah kelemahan Dimas. Kezia. Kezia lah kelemahan nya. "Dan kamu bilang tadi, kalau kamu mencintainya? Kalau memang kamu mencintainya, kamu tidak menghancurkan kebahagiaannya yang terletak pada Kezia. Dimas menginginkan Kezia. Cintanya hanya Kezia. Kezia lah obat penawar di setiap rasa sakitnya selama ini. Dan saat ini kamu mengatakan kalau kamu mencintainya?? Hahaha.." Papa Rian tertawa lagi.
Masih dengan air mata beruraian. "KAMU SALAH WINDA LESMANA! KAMU TIDAK MENCINTAINYA! MELAINKAN SEBUAH OBSESI UNTUK MENDAPATKANNYA! KAMU TIDAK SADAR, JIKA KELAKUAN MU ITU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPNYA. HIDUPNYA HANYA KEZIA. BUKAN YANG LAIN! BUKAN JUGA KAMU YANG HANYA REKAN YANG BARU IA TEMUI SELAMA DELAPAN TAHUN INI! PAHAM?!"
Winda mematung di tempat mendengar ucapan Papa Rian. Apakah jika ia hanya terobsesi pada Dimas? Bukan cinta?
Winda menatap sayu pada Dimas yang kini terkapar tidak berdaya karena kepergian Kezia baru saja.
Entah kemana perginya istri sah Dimas itu. Yang jelas, batang hidung nya sudah tidak terlihat lagi saat ini.
Winda menatap nanar pada Dimas. Tante Riana menatap Winda dengan sendu. "Kamu baru saja mengenalnya. Sedang Kezia sudah sedari bayi. Bahkan Dimas sembuh karenanya. Lantas kenapa dengan teganya kamu merenggut kehidupannya?"
__ADS_1
"Jika kita mencintai seseorang, titik rendah dalam percintaan ialah mengikhlaskan. Ikhlaskan dirinya demi bahagia dengan orang lain. Bukan denganmu. Kebahagiaannya ada pada orang lain, bukan dirimu. Jika kamu mengira Dimas baik padamu itu Cinta, semua itu salah besar! Yang kamu lakukan sekarang bukanlah mencintainya. Tetapi Obsesi. Kamu sangat terobsesi ingin memilikinya dari Kezia karena kamu merasa jika Kezia tidak pantas bersamanya. Padahal kamu sendiri tahu jika Kezia lah yang Dimas inginkan. Bukan yang lain.."
"Dengan tega nya kamu memutuskan hubungan mereka berdua hingga Dimas kembali seperti dua belas tahun yang lalu. Kamu yang telah menghancurkannya Winda! Kamu!"