Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Masalah baru


__ADS_3

Keduanya larut dalam penyatuan untuk pertama kalinya setelah dua bulan lamanya. Saking menikmati penyatuan itu, kedua insan yang baru saja bersatu itu tidak sadar akan waktu.


Seolah dunia itu milik mereka berdua. Pintu kamar mereka di ketuk hingga berulang kali. Tetap saja keduanya tidak peduli.


Kezia ingin bangkit tetapi Dimas melarangnya. "Biarkan saja mereka. Abang tahu kedua ipar kita itu baru saja tiba."


"Tapi Bang-,"


"Kamu mau Abang tidak ridho padamu??"


Deg!


Kezia mengalah. Ia mengangguk setuju. Ia lebih memilih ridho Dimas dibandingkan saudaranya yang baru saja tiba itu.


Keduanya kembali menikmati nirwana yang baru saja mereka rasakan untuk pertama kalinya terutama Kezia.


Sedang untuk Dimas. Ia sudah merasakan nikmatnya. Walau hanya sekali, tetap saja Dimas sudah merasakannya.


Kezia tidak mempermasalahkan nya. Karena kalaupun ia cemburu, Toh Zahra sudah tidak bersama mereka lagi. Jika ada pastilah ia akan cemburu juga.


Keduanya larut dalam buaian asmara yang tiada habisnya. Keduanya tidak sadar jika sudah membuat kedua saudaranya menunggu dengan menggerutu.


Kenan begitu kesal kepada adik nya itu. Ia sengaja datang untuk mengambil tanda tangan Dimas sebelum ia pergi ke London karena mengikuti seminar kedokteran dokter bedah.


Hal yang belum Dimas beritahukan. Rencananya hari ini ia akan memberitahukan hal itu kepada Kezia.


Kenan dan Bella pulang dengan tangan hampa. Tetapi map yang ia inginkan tanda tangan Dimas, ia serahkan pada kepala pelayan dirumah itu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang, Kenan dan Bella terus saja menggerutu karena kelakuan kedua adiknya itu.


Mereka sangat kesal dengan kelakuan keduanya yang tidak menghargai kedatangan mereka berdua.


Kedua adiknya lebih mengurung diri di dalam kamar mereka. Dan yang pastinya Kenan dan Bella tahu apa yang keduanya lakukan saat di dalam kamar.


Maka dari itu mereka sangat kesal hingga pulang dengan perasaan dongkol terhadap keduanya. Sedang keduanya masih saja bergelut dengan aktivitas yang pertama kali mereka rasakan setelah sekian lama.


Dimas yang kasihan melihat Kezia kelelahan mempercepat laju gerakannya hingga keduanya mencapai puncak untuk yang kesekian kalinya.


Dimas menyudahi kegiatan itu. Mereka berdua tidur setelahnya hingga malam menjelang.


Pukul delapan malam, barulah keduanya keluar dari kamar untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


Keduanya tertawa saat mendengar sindiran halus dari kepala pelayan dirumah itu. Hingga hal yang tidak terduga pun terjadi.


Tangan Kezia bergetar. Firasat buruk sedang menghantuinya saat ini.


"Jika Abang pergi sebentar, kenapa harus ada pengalihan kuasa kepada kami berdua? Kenapa firasatku mengatakan lain? Ada apa??" gumamnya sambil membawa berkas itu menuju ke kamarnya sesaat setelah kepala pelayan memberikan map itu padanya saat ia masih di dapur tadi.


Kaki itu melangkah dengan gontai menuju ke kamarnya. Dan saat ia sudah membuka pintu kamarnya, sontak saja tubuhnya mematung seketika saat terdengar suara Dimas sedang berbicara dengan seseorang yang di kenalnya.


"Iya Bang. Aku akan segera ke London. Tapi seminggu lagi. Berilah kesempatan bagiku untuk bersama istriku sebelum nantinya aku menemui Winda. Ya, Abang tenang saja. Aku akan mengurus secepatnya. Bukan mudah mengurus perceraian dalam waktu singfkat. Lagipun aku dan Kezia baru saja bersatu. Masa iya sudah berpisah lagi??"


Hening.


Kezia merasa seluruh tulangnya remuk seketika. Hatinya begitu sakit saat mendengar jika Dimas akan mengurus perceraian mereka.

__ADS_1


Kenyataan yang tidak pernah Kezia pikirkan sama sekali. Buliran bening mengalir di pipinya tanpa di pinta.


Map yang ada ditangannya terjatuh bertepatan dengan Dimas yang sudah selesai bertelepon dan bebalik.


Deg!


Deg!


Deg!


Tubuh itu terpaku di tempat saat melihat cintanya terisak di depan pintu dengan tubuh bergetar.


Wajah Dimas memucat. Ia memikirkan apakah Kezia mendengar sepenggal percakapannya dengan seseorang di telepon tadi hingga membuatnya menangis.


"Key.. Sa-sayang.. Ka-kamu-,"


"Kenapa? Kenapa kamu ingin berpisah dari ku Bang Dimas? Kenapa?? Apa salahku padamu hingga kau tega ingin berpisah dariku padahal kamu tahu jika aku sangat, sangat mencintaimu! Kamu jahat Bang Dimas! Kamu jahat! Kamu tega sama aku! Baik, jika itu yang kamu inginkan, mari kita bercerai! Agar kamu bebas bisa menikahi kekasihmu itu!"


Ddddduuuaaaarrr!!!


"Sayang..."


...****************...


Masalah baru muncul lagi.


Konflik terakhir menuju tamat.

__ADS_1


Pantengin terus ye?


__ADS_2