Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Abang Ridho padamu, sayangku!


__ADS_3

Papa Rian berlalu meninggalkan kedua orang yang masih terisak itu. Beliau menghela nafas sekali lagi saat menoleh ke belakang saat melihat keduanya masih di tempat yang sama.


"Maafkan Papa yang memaksa kalian berdua. Papa terpaksa melakukan hal ini. Jika tidak, kalian berdua pasti akan terus saling berdiaman. Semoga kalian berdua bisa berdamai dengan masalah kalian.. Papa sangat merindukan dimana kalian berdua terlihat akur dan saling membutuhkan satu sama lainnya. Tidak seperti ini. Kalian harus bersatu apapun yang terjadi. Apapun itu! Termasuk kamu Key! Jangan sampai kamu menyesal jika tidak bersatu dengan Dimas.." Beliau menghela nafasnya lagi dengan raut wajah yang begitu sendu.


Sementara keduanya kini semakin larut dalam keheningan yang tidak tahu kapan akan selesainya.


Dimas melirik Kezia yang kini masih sesegukan. Berat. Tetapi tetap harus ia coba.


Bismillah..


"Sayang.. Kita masuk ya? Udah malam. Kamu besok ada visit ke Bandung kan?" Ucap Dimas sengaja membuka suara lebih dulu karena ia tahu jika Kezia tidak akan memulainya.


Kezia menoleh padanya, Dimas tersenyum teduh padanya. Mata Kezia berkaca-kaca. Ia mengangguk. Dimas bangkit lebih dulu.


Tetapi belum lagi Dimas beranjak, tangannya sudah di pegang oleh Kezia. Dimas menoleh.


Grep!

__ADS_1


Dimas terkejut. Mata itu berkaca-kaca. Bibir itu tertarik hingga semakin tersenyum semakin lebar. Dimas tertawa dengan kuat tetapi menangis.


Kezia pun demikian. Papa Rian yang mendengar suara tawa Dimas, membuka pintunya sedikit. Ia tersenyum haru melihat keduanya sudah berdamai.


Paling tidak, melihat keduanya sudah akur seperti itu sudah cukup baginya. Beliau mengusap ujung matanya yang mengeluarkan cairan bening.


Papa Rian tersenyum dan kembali menutup pintunya. Sementara kedua orang itu sambil berpelukan menuju ke kamar mereka.


Kamar yang saat ini Kezia tempati tetapi tidak dengan Dimas.


Dimas yang terkejut pun ikut duduk untuk menarik Kezia. Tetapi istrinya itu tetap tidak mau. Dimas segera menutup pintu kamarnya.


Ia merengkuh Kezia yang kini masih bersimpuh di kakinya dengan terus saja menagis. Dimas mengelus lembut tubuh sang istri dengan sayang.


Kezia semakin tersedu. Dimas masih saja mengelus lembut tubuh ringkih sang istri yang agak berkurang selama dua bulan ini.


"Sayang.." lirih Dimas dengan suara serak dan bergetar.

__ADS_1


Kezia masih tersedu.


"Bangun sayang.. Abang tidak suka kamu begini.. Yang berhak kamu sembah itu hanya Allah, bukan suami kamu.." lirihnya dengan dada yang semakin sesak.


Kezia terisak dan menggeleng. "Hiks.. Nggak.. Aku banyak salah sama Abang. Maafkan aku istri durhaka ini.. Aku minta maaf karena sudah mengabaikan kamu selama hampir dua bulan ini.. Maafkan aku.. Aku salah.." lirihnya tanpa suara


Dimas menggeleng, "Nggak sayang. Abang nggak marah sama kamu,. Kamu juga tidak salah. Kamu hanya butuh waktu. Itu saja. Sampai kapan pun Abang akan memberikan waktu untukmu. Berapa lama dan sampai kapan, tetap akan Abang berikan padamu. Karena Abang sangat mencintai kamu.. Sangat menyayangi kamu istriku.." jawab Dimas dengan suara yang begitu lembut dan lirih.


Kezia tidak kuasa untuk tidak menangis tersedu. Ia menangis sambil memeluk kaki Dimas yang kini sudah basah dengan air matanya.


Kezia mencium kedua kaki itu. Dimas menggeleng. Maafkan aku, bang Dimas.. Hiks.. Maafkan aku.. Aku tidak akan bangun sebelum kamu ridho padaku.. Sangat banyak kesalahan yang aku lakukan hingga kamu tidak ridho padaku. Hiks.. Aku tidak akan bangun jika kamu belum ridho dengan semua kelakuan ku selama hampir dua bulan ini.. Hiks.." isak Kezia yang membuat Dimas pun ikut terisak.


"Hiks.. Nggak sayang. Abang ridho padamu. Abang ridho dengan semua perbuatan mu selama hampir dua bulan ini padamu.. Abang ridho padamu, sayangku.. Sangat ridho.." jawab Dimas dengan segera menarik Kezia ke dalam pelukannya.


Kezia menangis tersedu di ceruk leher Dimas. Begitu pun dengan Dimas. Ia terduduk dengan memeluk tubuh ringkih Kezia.


Tubuh yang selama hampir dua bulan ini sangat ia rindukan dan sangat ingin ia peluk seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2