
Dimas baru saja terbangun saat suara ponselnya berdering dengan nyaring pertanda jika ada panggilan masuk.
Dimas mengambil ponsel itu dan melihat nama yang tertera disana. Ia menggeser tanda hijau itu dan berbicara dengan seseorang yang menghubunginya.
"Assalamualaikum, Dimas."
"Waalaikuam salalm, Kakak ipar." Jawabnya begitu lesu.
Bella menghela nafasnya sebelum berbicara. "Dengarkan aku baik-baik adik ipar!"
Dimas mengangguk seolah Bella ada disana.
"Kami tidak bisa menahan Kepergian Kezia. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke Kalimantan. Karena tugasnya disana saat ini. Maafkan kami yang tidak bisa berbuat apapun untuk bisa mencegah kepergiannya. Kamu tahu sendiri kan seperti apa keras kepalanya Kezia?'
Dimas hanya diam dan mendengarkan.
"Maka dari itu, jika kamu ingin mengembalikan semuanya seperti semula. Kamu harus menyusulnya ke Kalimantan. Kezia akan bertugas disana selama lima tahun lamanya. Fakta yang baru saja kami tahu. Jemputlah Kezia disana. Tetapi tidak sekarang. Nanti. Setelah semuanya berjalan seperti biasa. Berikan waktu dulu untuk Kezia. Kejadian yang baru saja ia rasakan sangat melukai hatinya. Terlebih kamu pun ikut andil di dalamnya. Untuk itu, bersabarlah. Tunggu waktu yang tepat. Untuk saat ini izinkan Kezia pergi. Tanpa izin darimu pesawatnya tidak akan lepas landas. Sampai saat ini ia masih berada di bandara bersama kami karena ama tidak mengizinkannya pergi sebelum mendapat izin darimu. Kakak mohon Mas.. Mengertilah posisi Kezia saat ini. Ini pun berat untuknya. Tetapi ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya."
"Kakak pun tahu, kamu pun berat untuk melepaskannya. Tetapi inilah yang harus terjadi. Percayalah, Mas.Jika kalian berjodoh, maka dimana pun dan kapan pun kalian pasti akan dipertemukan kembali." Ucap Bella sembari menarik nafasnya berulang kali saat melihat wajah Kezia yang begitu sembab dan sangat dingin.
Wajah itu datar tanpa ekspresi saat ini. Dimas tertegun mendengarkan ucapan Bella. Haruskah ia mengizinkan Kezia pergi? Sementara dirinya sangat butuh Kezia saat ini?
Apakah kesalahpahaman ini akan terus berlanjut? Jika ia mengizinkan Kezia pergi?
Kalaupun ia menahannya, yang ada Kezia semakin tersakiti karenanya. Lalu bagaimana dengannya?
__ADS_1
Tidak kah Kezia merasakan dan juga melihat jika dirinya saat ini terluka akibat kesalahannya sendiri yang telah membuat pujaan hatinya pergi dari sisinya?
Lama Dimas termenung sampai ia terkejut dengan kedatangan seseorang yang ia butuhkan saat ini.
Seseorang itu tersenyum lembut padanya.
Matanya berkaca-kaca. "Mas? Kamu masih disana kan?" terdengar suara Bella masih ada disana.
Seseorang itu mengangguk pada Dimas. Dimas meneteskan air matanya. "Baik. Nyalakan dulu loundspeker ponsel kamu kakak ipar. Aku ingin berbicara padanya. Biar ia mendengar sendiri apa jawaban ku tentang tugas nya ini."
"Baik," jawab Bella dengan segera ia menukar panggilan itu menjadi video call bukan lagi menghidupkan Speaker ponselnya.
Seseorang itu terkekeh saat melihat mata Dimas melotot melihat ponselnya yang bertukar menjadi sambungan video call.
Hening.
Tidak terdengar sahutan dari Kezia. Hanya terdengar deru nafasnya saja. Dimas tersenyum dengan air mata beruraian.
"Terimakasih kamu masih mau menghargai diriku yang hina ini sebagai suamimu."
Deg!
Berdenyut ngilu jantungnya.
"Kamu ingin pergi ? Baik.. Abang akan mengidzinkan kamu pergi. Tetapi sebelum itu dengarkan dulu penjelasan ku tentang kejadian tadi pagi."
__ADS_1
Dimas menarik nafasnya dengan berat. Rasa nya lehernya saat ini sangat sulit untuk berbicara. Berulang kali ia menelan salivanya sendiri.
"Kejadian tadi pagi memang benar. Aku mengakui jika diri ini salah karena telah membawanya. Tetapi bukan itu maksudku. Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu dihari pernikahan kita agar pernikahan kita ini menjadi momen terindah yang selalu teringat sampai kapanpun."
"Aku pikir, kejutan ini bisa membuatmu bahagia. Tak tahunya, kejutan ku ini malah membuatmu terluka. Maafkan aku, Kezia. Maafkan suami mu yang hina ini. Tak ada maksud dihatiku untuk menduakan mu dengannya. Wanita itu hanya orang lain di dalam hidupku. Tetapi kamu? Kamu segalanya untukku."
"Kamu ingin marah, tak apa. Aku terima. Karena ku tahu semua ini karena kesalahanku yang tidak memperkirakan jika wanita itu akan membuat ulah dengan hubungan kita. Aku berani bersumpah! Bahwa aku tidak pernah mengatakan jika aku akan menceraikan mu tepat setelah pesta ini berakhir! Wanita itu bohong!"
Deg!
Lagi, jantung itu serasa dijepit sangat kuat.
"Tidak masalah jika kamu tidak mempercayainya. Tapi aku sudah jujur padamu. Kalaupun kamu tidak bisa memaafkan ku, tak apa. Aku pasrah dengan keputusan mu. Kamu ingin pergi bertugas selama lima tahun? Baik. Aku izinkan!"
Ddddduuuaaarrrrr..
"Tetapi setelah masalah ini aku selesaikan, aku akan menyusulmu kesana dan membawa mu kembali ke tempat kita. Pergilah. Mungkin dengan pergi, hati kamu bisa sedikit menjadi lega karena perbuatan ku yang telah melukaimu. Tak apa. Aku ikhlas! Jika semua ini sudah menjadi takdirmu dan takdirku! Jaga dirimu baik-baik. Sampai bertemu lagi nanti. Jangan pikirkan manusia rendah seperti ku, Diri ini kalaupun mati sekalipun tidak akan ada yang bersedih. Jadi, semoga kamu bahagia disana dan selamat sampai tujuan. Wassalamu'alaikum!"
Tut!
Brruukk.
"Kezia!!!!"
Deg!
__ADS_1