
Dua jam mengudara kini semuanya sudah tiba di bandara Halim perdana kesuma Jakarta. Mobil yang menjemput mereka pun sudah terparkir disana.
Kezia berjalan mendahului Dimas yang juga berjalan di belakangnya. Wajah itu selalu tersenyum saat melihat sang Istri masih saja datar padanya.
Dimas tahu karena itulah kebiasaan Kezia jika sedang marah dan merajuk padanya. Dimas sangat mengenal siapa istrinya itu.
Ingin sekali memeluk dan mencubit pipi yang saat ini sedang datar tanpa ekspresi itu. Tetapi ia tidak berani.
Lagi dan lagi Dimas tidka ingin membuat Kezia semakin bertambah marah padanya.
Mereka semua diantar menuju hotel tempat dimana acara reswpsi dilaksanakan. Tamu undangan sudah membludak sore itu.
Dimas dan Kezia segera di tuntun untuk ke kamar pengantin mereka dimana para MUA sedang menunggu keduanya untuk dirias.
Pukul tiga sore, acara resepsi itu dilaksanakan. Kezia menarik senyum paksa saat ada beberapa teman seangkatan datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya.
__ADS_1
Dimas tetap seperti biasa. Tersenyum manis kala para tamu memberinya selamat dan doa untuk pernikahannya.
Semakin sore semakin ramai dengan para tamu undangan. Acara itu begitu meriah terlihat. Kezia tetap menunjukkan wajah cerianya dihadapan para tamu undangan dan Dimas bersyukur akan hal itu.
Mereka selalu di puji dan di goda oleh para teman dan rekan keduanya.
Resepsi itu berjalan sesuai rencana karena Kezia yang tidak jadi pergi ke Kalimantan sebab tidak mendapatkan izin dari Dimas.
Dua keluarga itu bisa bernafas dengan lega saat ini. Entah ke depannya, mereka tidak akan ikut campur dalam masalah Dimas dan Kezia.
Karena Dimas sudah melarang mereka semua untuk membujuk Kezia lagi. Biar semua itu menjadi urusannya.
Karena segala sesuatu yang sudah di tetapkan tidak akan bertukar dan berpindah. Dimas yakin itu.
Pukul sebelas lewat tiga puluh malam waktu Jakarta, acara itu baru selesai. Saudara kembar Mama Diana langsung saja bertolak ke Bandara lagi.
__ADS_1
Mereka pulang malam itu juga ke London. Sedangkan keluarga Kezia menginap di hotel itu. Tetapi tidak dengan Kezia, Dimas dan Papa Rian.
Ketiganya langsung saja pulang ke rumah baru Dimas yang ada di Jakarta juga. Rumah yang baru satu tahun ini Dimas beli.
Tiba dirumah baru itu, Kezia mematung di tempat. Papa Rian yang tahu jika Kezia merasa tidak nyaman segera mendekati menantunya itu dan merangkulnya untuk masuk ke dalam rumah baru mereka.
"Masuklah Nak. Rumah ini dibeli untukmu oleh Dimas satu tahun yang lalu. Jangan merasa jika kamu tidak diperlukan dan dianggap disini. Papa dan Dimas butuh kamu. Papa tidak akan menyuruhmu untuk secepatnya memaafkan Dimas. Papa tidak akan melakukan hal itu. Semua itu tergantung padamu. Hanya saja.. papa harap, kamu jangan pergi dari kehidupan Putra tunggal Papa. Dimas berbeda dengan pemuda lain, Nak. Ia terlihat kuat dari luar tetapi begitu rapuh dari dalam."
"Jika kamu ingin waktu, pasti ia berikan. Tetapi satu pinta Papa. Jangan terlalu lama marah padanya. Karena Papa tidak jamin jika ia akan hidup setelah ini kalau sampai kamu kembali meninggalkannya, Nak. Papa mohon.. Pertimbangkan hal ini dengan baik. Kamu yang lebih tahu seperti apa putra Papa itu, hem?" ucapnya pada Kezia yang membuat menantu kesayangannya itu tertegun dalam waktu yang cukup lama.
"Istirahatlah. Kamar kamu ada di ujung sana. Dimas di tengah dan Papa disini!"
Deg!
Kezia menoleh pada Papa Rian. Beliau tersenyum, "Istirahatlah. Papa juga harus iatirahat. Maklum sudah tua. Jadi tubuh ini sedikit tidak menyenangkan jika dibawa jalan-jalan!" katanya dengan tergelak.
__ADS_1
Kezia hanya tersenyum tipis saja. Pikirannya saat ini masih gamang.
"Apa maksud Papa dengan mengatakan jika Kamar ku ada di ujung? Apakah kami tidak sekamar?"