
Dimas duduk dengan menyenderkan kepalanya di kepala Kezia yang tidak bergeming melihatnya.
"Ya Allah.. Apa yang harus akau lakukan saat ini? Aku salah lagi dalam hal in. Kenapa Winda datang disaat acara makan bersama kami? Aku tidak pernah mengundangnya dalam hal ini. karena urusanku dengannya hanya sekedar rekan saja. Tidak lebih.
Apakah Winda sengaja memanfaatakn kejadian ini karena ia sengaja aku libatkan dalam masalah ini??"
Dimas melirik Kenan dan Bella. Kenan mengangguk sedang Bella melengos tidak ingin menatapnya.
"Ya Allah.. Benar. Semua ini karena salahku. Aku tidak peka dengan keadaan sekitar hingga Kezia kembali terluka saat ini. Aku merasa sangat berdosa karena telah membuat istriku berulang kali menagis dalam diam karena diriku..
Maafkan Abang sayang.." lirih dimas di dalam hatinya semakin merasa bersalah melihat Kezia yang tidak melihatnya sama sekali.
Acara sarapan pagi bersama itu tetap berlanjut, karena setelah ini mereka semua akan kembali ke Jakarta dan akan mengadakan resepsi kedua disana esok malam.
"Makan dulu adik ipar. Jika kamu ingin memerangi pelakor, kamu butuh tenaga untuk itu." Imbuh Bella yang membaut kenan melototkan matanya.
__ADS_1
Bella tidak peduli. Ia semakin ingin menghempas kan pelakor adiknya itu. Masih teringat olehnya, bagimana dulunya Katrina ia tampar hingga gadis itu sangat dendam kepadanya hingga saat ini.
Melihat Bella yang diam saja, bella menyentuh tangannya membuat Bella tersentak dan menoleh padanya.
Berbarengan dengan air mata di pipinya jatuh ke pipi yang membuat Dimas semakin merasa bersalah karena telah melukai Kezia brulang kali.
"hapus air matamu. Kakak akan mengajarkan mu bagaimana caranya menghajar pelkor yang berkedoak teman itu!" ketusnya saat melirik Dimas yang kini menangis di ceruk leher Kezia.
Kezia memaksakan senyumnya pada Bella. Ia mengambil lontong pecal kesukaan Dimas itu dan menyuapi Dimas lebih dulu.
Dimas menerimanya saat Kezia menyuapinya. Kezia pun ikut makan dalam satu piring yang sama.
Bella terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Mereka makan dengan lahap, walau air mata itu terus mengalir di pipi keduanya namun mereka tetap makan dari piring dan sendok yang sama.
Begitu pun dengan Bella yang kini saling bersuapan dengan Kenan. Entaha kenapa selama hamil, Bella begutu sensitif dan mudah meledak-ledak emosinya.
__ADS_1
Hingga Kenan sulit untuk menenangkan Bella jika sudah berbuat. Sama seperti tadi. Ia menyindir telak tamu yang tidak di undnag itu.
Yang sengaja ingin merusak hubungan keduanya. Bella tahu itu. Ia sengaja melakukan hal itu agar keluarag sadar, Kezia melakuakn hal itu pasti memiliki penyebabnya.
Dan sekarang, dengan ucapannya tadi semoga keluarga paham apa yang dialami Kezia saat ini.
Seluruh keluarga tidak ada yang bersuara lagi setelah ucpan telak Bella yang begitu mengena hati semua oang. Term,asuk gadi yang bernama Winda itu.
Bella melirik padanya dan menatapnya dengan sinis, " Cih! Dasar pelakor lak nat!" umpatnya yanga masih terdengar oleh semua keluarga mereka.
Tetapi tidak ada yang berani bersuara. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Bukan mereka tidak mendengar, tetapi mereka saat ini sedang memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
Tak ada yang menatpa sinis kepada Winda.Semuanya terlihat sama. Makanya Winda betah duduk diantara mereka.
Sedangka mama Rani dan Papa Reza baru tahu. Inilah penyebab Kezia berubah. Mereka bisa menebaknya jika terjadi sesutu anatar Dimas dan wanita yang bernama Winda ini.
__ADS_1
Tidak menutup kemungkinan bukan jika keduanya selama ini bersama dan tidak menimbukan rasa? Mama rani bisa melihatnya walau hanya sekilas, kalau wanita bernama Winda itu menyukai Dimas dan sangat tidak menyukai Kezia putri bungsunya.
"Ya Allah.. Ternyata aku salah paham pada putriku.. Aku merasa bersalah padanya karena telah menuduhnya yang tidak-tidak tanpa menanyakan terlebih dahulu kebenarannya seperti apa." Batinnya semakin merasa bersalah saat melihat Dimas yang kini menangis sambil memeluk erat tubuh ramping Kezia.