
''Ba-baik Dokter! Sa-saya pindah. Ma-maaf.." ucapnya dengan segera berlalu.
Semua yang melihat kejadian itu terkekeh-kekeh.
"Lain kali jangan suka cari kesempatan dalam kesempitan! Enak saja kamu ingin mengganggu wanita yang sudah bersuami? Mau ditonjok muka lonjong kamu itu?!" ketus Bella mengomel pada pemuda itu.
"Ma-maaf Dokter! Ta-tadi.. Dokter Ke-kezia merintih dan mengingau memanggil nama seseorang. Saya kasihan melihatnya ma-maka dari itu saya duduk disana." Lirihbya dengan ketakutan melihat Bella.
"Tetapi bukan berarti kamu bisa menyentuhnya! Adik saya itu sudah memiliki suami! Noh, suaminya!" tunjuk Bella pada Dimas yang kini menatapnya dengan dingin.
Deg!
Mati aku! Ternyata istri direktur Dimas? Mati aku! Tamatlah riwayat ku! Batinnya ketakutan saat melihat wajah datar dan dingin Dimas.
Sang direktur di tempatnya bekerja. Ia menundukkan kepalanya tidak berani melihat wajah Dimas saat ini seperti ingin menelan orang hidup-hidup.
Glek.
__ADS_1
Pemuda itu menelan salivanya susah payah. Sedang Bella terus menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Udah tahu? Udah kenal?! Makanya! Lain kali itu jangan suka menyentuh sesuatu yang tidak halal untuk kamu sentuh! Kamu tidak boleh menyentuh seseorang yang bukan MAHRAM untukmu! Sekarang baru ipar saya? Bisa jadi ke depannya kamu menyentuh gadis lain jika terlihat sedang mengigau dan merintih, begitu?!" omel Bella pada pemuda itu.
Pemuda yang ternyata perawat dirumah sakit Dimas dan Kenan pimpin saat ini.
Bella tahu siapa pemuda itu. Dan sangat mengenalnya. Karena pemuda itu salah satu orang suruhan Kenan saat Kenan tidak datang ke rumah sakit.
Kenan terkekeh saat melihat Bella yang terus mengomel dan mengoceh tidak jelas. Tidak ada yang melarangnya. Karena melihat Bella mengomel seperti itu merupakan hiburan tersendiri untuk mereka.
Kalaupun dilarang, istri Kenan itu pasti akan merajuk nantinya.
Kenan tertawa.
Dimas menghela nafasnya. Ingin sekali ia menolak Bella, tetapi takut bumil itu mengamuk dan merajuk nanti.
Karena seluruh keluarga baru saja tahu jika Bella sedang hamil dua bulan saat ini.
__ADS_1
"Dimas!" seru Bella merasa jengah dengan adik iparnya itu.
"Duduk Dek. Temani istri kamu. Tidak apa jika duduk saja, ya?" bujuk Rayyan yang mengerti kegelisahan Dimas.
Dimas menoleh pada Rayyan, ia tersenyum dan mengangguk. "Jika nanti istri kamu marah padamu, maka Cinta yang akan duduk disitu." Lanjutnya lagi yang membuat Dimas mengangguk setuju.
Ia segera bangkit dan duduk di kursi bersebelahan dengan Kezia yang saat ini sedang terlelap dengan damainya.
Ingin sekali tangan itu terangkat untuk mengusap kepala Kezia, tetapi ia tidak punya keberanian sama seperti pemuda tadi.
Ia tidak ingin Kezia semakin marah padanya. Dimas menghela nafasnya. Ia juga merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah hari ini.
Istirahat selama dua jam cukup untuk memulihkan tenaga untuk acara resepsi nanti malam yang akan diadakan di hotel milik Papa Reza.
Sementara Bella langsung saja memeluk Kenan dan menangis disana. Kenan hanya bisa menenangkannya.
Bella terus terisak di dalam pelukannya hingga kelelahan. Kenan tersenyum melihat itu. Ia melihat semua keluarganya juga sedang beristirahat kecuali Rayyan dan Cinta.
__ADS_1
Saat ini keduanya sedang membaca buku bersama sambil berpelukan. Romantis sekali. Kenan tersenyum melihat putra sulung Papi Gilang itu.