
Pagi harinya.
Dimas bangun dengan tergesa saat melihat ponselnya ada panggilan tak terjawab dari Kenan hingga puluhan kali hingga chat yang begitu banyak membuatnya terkejut bukan main.
Kezia melirik Dimas sekilas setelahnya ia sibuk membersihkan ranjangnya dan digantikan dengan seprei yang baru karena seprei putih itu sudah kotor akibat ulah keduanya.
Kezia masih saja sama. Bahkan saat ini ia lebih dingin lagi. ia sibuk dengan dirinya sendiri tanpa mengurus keperluan Dimas yang akan berangkat pagi ini ke London.
Lima belas menit berlalu.
Dimas dengan tergesa keluar dari kamar mandi dan segera membuka lemari pakaian saat melihat di ranjangnya tidak ada baju yang tersedia disana.
Dimas hanya bisa menghela nafasnya melihat Kezia sibuk dengan dirinya sendiri. Dilmas tidak ingin memperpanjang masalahnya.
Karena saat ini ia diburu waktu. Pesawat yang akan berngkat ke London pukul sembilan pagi ini. Sedang saat ini sudah pukul delapan.
Setelah subuh tadi ia meminta haknya lagi pada Kezia untuk yang terakhir, katanya.
Kezia menurut dan memberikan pelayanan itu untuk dimas.
Dimas merasa bahagia karena Kezia mau memenuhi permintaannya. Dimas bersiap-siap dengan terburu-buru karena di kejar waktu.
Setelah seelsai, Dimas mendekati Kezia dan ingin menjelaskan permasalahan mereka sebelum ia pergi ke London untuk tugas seminarnya.
"Sayang, Abang pagi ini harus berangkat ke London. Karena acara seminar nya dimajukan lagi. Setelah dari London, kami akan bertolak ke Jerman. Entah butuh waktu berapa lama disana, Abang pun tidak tahu. Sebelum Abang pergi, dengarkan dulu penjelasan Abang tentang masalah kata pisah tadi malam." Ucapnya pada Kezia yang kini bergeming tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Dimas.
"Key.. Dengarkan Abang dulu. Kamu itu salah paham sama Abang. Kata pisah itu bukan pisah bercerai sayang. Tetapi tidak ingin berpisah darimu-,"
"Sudahlah Bang. Kalau ingin pergi ya pergi saja! Tidak pulang sekali pun tidak apa-apa!"potong Kezia dengan ucapan ketus dan suara yang dingin dan menusuk jantung Dimas.
__ADS_1
"Key.. Nggak gitu sayang.. Abang hanya-,"
"Lebih baik kamu pergi dan susul wanita yang ingin kamu nikahi itu! Pergi dan jangan pernah kembali lagi! Muak aku melihatmu!"
Ddduuuaaarrr!!
Bagai dihantam petir kepala Dimas saat mendengar ucapan Kezia untuknya.
"Key-,"
"Pergi!"
"Astaghfirullah ya Allah.. Kamu salah paham sayang. Bukan itu maksud perkataan Abang. Dengarkan dulu makanya."
"Nggak! Aku nggak mau dengar apapun dari mulut bohong mu! Pergi dan jangan kembali! Lebih baik aku hidup menjanda daripada harus hidup dengan suami pembohong seperti kamu!"
Ddduuuaaarr!!
Seharusnya ada drama dimana Kezia menangis karena tidak ingin di tinggal. Tetapi tidak. Malah kata-kata pedas yang ia lontarkan untuk mengantar kepergian Dimas.
Dimas begitu terluka dengan perkataan Kezia. Tetapi ia tetap bersabar dan ingin menjelaskannya lagi.
"Sayang, dengarkan Abang!"
Dimas mengambil tangan Kezia untuk di pegangnya.
Tetapi di tepis oleh Kezia.
Lagi, penolakan yang Dimas dapatkan. Padahal ia hanya ingin menjelaskan duduk perkaranya. Agar kepergiannya yang entah kapan kembali lagi.
__ADS_1
Karena tidak mungkin ia meninggalkan Kezia dalam kesalahpahaman yang berkepanjangan di dalam hubungan keduanya.
Karena Dimas sudah merasakan sakitnya di abaikan dan sulitnya menjemput maaf sang istri untuk bisa kembali lagi padanya.
Tetapi pagi ini. Ia ingin masalah itu selesai. Malah Kezia pula yang tidak mau mendengarnya.
Dimas tetap berusaha sekali lagi menjelaskan. Jika tidak, maka sudahlah. Jika masih ada umur panjang dan jodoh keduanya masih panjang, maka Dimas akan menjelaskan yang sebenarnya lengkap dengan bukti akan ia tunjukkan kepada Kezia.
"Sayangku.. Kezia.. Dengarkan Abang dulu, dek. Sebentar.. Saja." lirihnya mengiba dengan dada yang begitu sesak.
Kezia bergeming. Dimas menangis. "Apa yang harus Abang lakukan agar kamu percaya dan mendengarkan ucapan Abang Key.." lanjutnya yang ditatap balik oleh Kezia yang kini membelakangi nya.
"Abang ingin tahu apa yang menjadi keinginan ku??"
Dimas mengangguk dengan wajah basah air mata.
"Ya, katakan! Sekiranya bisa akan Abang lakukan untukmu. Sekalipun itu kematian!"
Deg!
Kezia mengepalkan kedua tangannya. "Ya, lebih baik kamu mati dari pada harus membuatku terluka seperti ini terus menerus! dengan kamu mati, maka semua urusan dan segala permasalahan kita akan selesai! Pergi dan jangan kembali! Lebih baik kamu mati dari pada kamu terus membuatku terluka hingga ribuan kali!"
Ddduuuaarrr!!
Dduuuaarrr!!
Dduuuaaarrr!!
Suara petir menggelegar diluar rumah keduanya hingga membuat Kezia terjingkat kaget. Ia menatap Dimas yang kini menatapnya dengan datar dan sendu.
__ADS_1
"Baik, jika itu yang kamu inginkan! Semoga kamu bahagia dengan keputusan mu ini. Abang pergi. Jaga diri baik-baik.." imbuhnya dengan segera pergi meninggalkan Kezia yang terpaku dan tergugu saat melihat pancaran luka dan kesedihan di wajah Dimas.