Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Pisah Kamar?


__ADS_3

"Apa maksud Papa dengan mengatakan jika Kamar ku ada di ujung? Apakah kami tidak sekamar?" batin Kezia yang bertanya-tanya.


Walaupun begitu, ia tetap melangkahkan kakinya untuk masuk kesana. Tiba di depan pintu, ia mematung melihat Dimas sedang merapikan tempat tidurnya.


Kezia merasa tercubit hatinya. Ingin sekali ia memeluk tubuh kekar itu dan mengatakan jika ia sudah memaafkannya. Hanya saja..


"Sayang? Kenapa berdiri disitu? Sini!" ucap Dimas sambil melambaikan tangannya pada Kezia.


Kezia yang melamun terkejut, dengan sekali kedipan buliran bening itu menetes di pipinya. Kezia melangkah masuk menuju pada Dimas yang kini tersenyum padanya.


Kezia berdiri di samping Dimas dengan tatapan mata melihat ke sekeliling kamarnya. Tatapan mata Kezia tertuju pada figura besar keduanya saat mereka berlibur di pantai Medan dulunya.


Lagi, dada itu terasa begitu sesak. Dimas tersenyum lagi. "Duduk dulu. Ada yang ingin Abang berikan padamu," imbuhnya pada Kezia yang kini masih menatap dalam pada figura besar di atas kepala ranjangnya itu.

__ADS_1


Kezia menurut setelah puas melihat dan memandang figura dirinya dan Dimas dalam keadaan tertawa lepas disana.


Kezia duduk disamping Dimas yang berjarak setengah meter. Dimas tidak mempermasalahkan hal itu. Bisa melihat Kezia saja sudah cukup untuknya.


Dimas membuka laci nakas dan mengambil dompetnya disana. Ia membuka dompet itu dan memberikan sebuah kartu padanya.


"Ini nafkah pertama setelah kamu sah menjadi isrti Abang. Uang di dalam sana, lebih dari cukup untuk membayar para pekerja dirumah ini, uang bulanan kamu, persediaan dapur dan segalanya. Mulai sekarang, rumah ini milikmu. Dan juga di setiap bulannya Abang akan mengirimkan uang ke dalam kartu itu. Kartu itu atas nama kamu dan pin nya tanggal lahir kamu yang di ujung. Kamu tahu itu karena sandi berangkas punya Abang yang di Bandung pun Abang gunakan sandi yang sama. Ambillah. Ini nafkah pertama dari Abang. Dan mulai saat ini, kamar ini kamar utama kamu. Abang ada di kamar sebelah." Ujar Dimas yang membuat Kezia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Kezia sudah meneteskan air matanya. Tetapi tidak terdengar suara isak tangis dari bibirnya. Ia menangis dalam diam.


Sakit sekali melihat wajah sendu Dimas. Tetapi Dimas tetap berpura-pura kuat dihadapannya. "Istirahatlah. Sudah malam. Abang pun harus istirahat. Abang sadar diri Key.. Diri ini terlalu banyak membuat kesalahan hingga membuatmu teruka. Selagi kamu belum memaafkan Abang, Abang akan tetap di kamar sebelah. Tak apa. Abang ikhlas dan ridho padamu. Tidurlah. Abang keluar dulu," imbuhnya dengan segera bangkit dan berjalan menuju pintu tanpa melihat Kezia lagi.


Kezia yang merasakan dada nya seperti di himpit di batu besar jatuh merosot ke bawah dan terduduk ditepi tempat tidurnya dengan menangis tersedu.

__ADS_1


Begitu pun dengan Dimas. Ia terduduk di pintu kamar Kezia yang seharusnya juga di tempati olehnya. Tetapi karena kesalahan yang ia perbuat membuat Dimas terpaksa mengalah dan lebih memilih tidur dikamar terpisah dari Kezia.


Keduanya menangis bersama. Rasa sakit dihati begitu terasa di hati keduanya saat ini. Padahal malam ini malam pernikahan mereka.


Malam yang sudah lama di tunggu-tunggu setelah sekian lama. Malam dimana penyatuan cinta keduanya.


Tetapi tidak bisa terjadi lantaran kejadian yang baru saja menimpa keduanya begitu membuat keduanya terluka hingga begitu dalam.


"Key... Hiks.." lirih Dimas dengan menyender di pintu Kezia.


"Bang Dimas.. Maaf.." lirih Kezia juga


Keduanya tersedu. Barusaja menikah dan dipersatukan dalam tali pernikahan, kini harus terpisah lagi karena ujian rumah tangga mereka untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2