
Dimas menatap sendu pada Kezia yang kini menatap datar dan tajam pada putra sulungnya. Demian yang sudah dua kali dipanggil, melangkah masuk kembali dan mengikuti langkah kaki Kezia.
Meninggalkan Dimas yang mematung dengan dada yang begitu sesak. Dengan langkah gontai, ia pun mengikuti Kezia dan putra nya kini sudah lebih dulu masuk kesana.
Tiba di dalam ruangan itu, semuanya masih sunyi senyap. Kezia melirik dokter Sam dan mengangguk kecil. Dokter Sam pun mengangguk.
Ia yang bertugas sebagai juru bicaraya disana, segera naik ke podium dan memulai acara seminar itu.
Sebelumnya ia meminta maaf atas ketidak nyamanan yang baru saja terjadi. Kezia dan ketiga anaknya kembali duduk di meja yang di sediakan untuknya dan ketiga anaknya.
Acara seminar itu pun dimulai. Kezia yang di undnag segera naik ke podium dan mulai mengikuti serangkaian acara seminar itu.
__ADS_1
Dimas duduk disamping Catrine selaku wakilnya. Sedang Sam duduk tidak jauh dari Kezia. Mereka terus membahas masalah kinerja dokter bedah dan segala macamnya hingga selesai.
Hampir tengah malam, acara itu baru selesai. Cathrine sangat senang bisa bertemu dengan Kezia.
"Terimaksih karena Anda sudah hadir di sini Dokter Kezia!" ucap Dokter Cathrine padanya
Kezia tersenyum, "Sam-sama dokter Cathrine. Saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah di undnag kesini. Maaf sebelumnya, anak saya membuat masalah di ruangan ini."
"Tak apa. Say maklum kok. Emm.. Perkenalkan Dokter Dimas Anggara. Beliau ini calon suami saya!" imbuhnya yang membuat Kezia tersenyum lembut pada cathrine yang membuat Dimas semakin merasa bersalah.
"Ya, saya tahu Dokter Cathrine. Karena dokter Dimas merupakan ayah dari ketiga anak saya!" Kezia tertawa hingga membuat semua yang mendengarnya terkejut seketika.
__ADS_1
"Apa?!"
"Key..." lirih Dimas dengan leher tercekat.
Kezia menoleh pada dimas. "Tak apa bang. Aku tidak masalah. Aku sudah berdamai dengan masa lalu. Dan sekarang.. Waktunya bagi kamu untuk melupakan kami semua dan lanjutkan hidupmu bersama calon istrimu. Tapi sebelum itu.. Jatuhkan talak dulu padaku. Agar kalian bisa menikah. Dan ya, jadikan calon istri kamu ini muslim dulu baru bisa menikah dengan mu. Lupakan masa lalu bang Dimas. Bagiku, masa lalu tetap tertinggal disana dan tidak akan kembali lagi. Bahagialah dengan kehidupan mu yang baru."
"Aku sadar diri.. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu. Maka dari itu aku berhak mendapatkan kata talak darimu. Kamu sudah cukup menderita selama hidup dengan ku. Dan saat ini waktunya untuk kamu bahagia kembali. Dan wanita yang pantas mendampingimu hanya dokter Cathrine. Aku menunggu surat hitam putih mu datang ke Indonesia. Aku tidak akan melarang mu bertemu dengan ketiga anakmu. Bagaimana pun mereka bertiga anak mu."
"Untuk itu.. Selamat menempuh hidup baru. Aku pergi. Jaga diri baik-baik. Terimaksih atas kenangan selama ini yang telah kamu berikan untukku. Selamanya aku tidak akan melupakan kenagan kita. Dan ya. Ke empat rumah sakitmu akan segera aku kembalikan. Dan kamu serta calon istrimu bisa mengambil alih rumah sakit mu kembali."
Dimas menggeleng dengan tatapan yang semakin sendu. Dokter Cathrine mematung mendengar ucapan kezia untuk dimas dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
Semua yang ada diruangan itu ikut mendengarnya. Mereka pun sangat kaget dengan fakta itu.
Kezia berbalik dan eminggalakna Podium. Ketiga anaknya yang kini duudk di temani Papa Rian segera bangkit dan berjalan menuju sang mami yang kini sudah berjalan lebih duu meninggalakn podiuam itu.