
Dian menggelengkan keplanya dengan senyum masih tersungging di bibirnya. "Winda.. Winda. Kamu sudah membangunkan singa tidur! Jangan salah kan aku jika kamu terkena gigitan yang mematikan darinya!" gumam lirih Dian yang masih terdengar oleh Winda.
Ia mengernyitkan dahinya, "apa maksudmu? Aku membangunkan singa apa?" tanya Winda bingung
Dian menatap dalam pada Winda yang kini juga sedang menatapnya. "Singa pelindung Kezia yang saat ini ada di belakang mu!" tunjuk Dian dengan dagunya pada seseorang yang kini bediri di belakang Winda dengan tatapan yang begitu tajam dan juga wajah yang seperti ingin memakan orang secara hidup-hidup.
Winda terkejut dan ia pun berbalik.
Deg!
Deg!
"Di-dimas?!" serunya dengan mata membola. Wajah itu memucat seketika.
Dian menggelengkan kepalanya. Sedang Dimas melangkah masuk mendekati Winda yang kini terkesiap melihat kehadirannya.
Dimas menatap sinis dan tajam pada Winda yang membuat sekujur tubuh wanita itu bergetar karena takut akan kehadiran sosok yang ia cintai sekaligus rekannya sejak mereka duduk dibangku kuliah dulu.
"Ya, ini saya! Kenapa? Terkejut kamu?? Nggak suka jika saya datang kesini?? Dan ya, yang kamu hina dan kamu katakan ja lang itu merupakan istri sah, saya! Lupa kamu?? Atau pikun??!"
__ADS_1
Deg!
Deg!
Winda lagi dan lagi terkesiap mendengar ucapan Dimas padanya.
Mampus! Batin Winda ketakutan.
Sementara Dian berdiri dari duduknya dan mendekati Dimas. Ia membungkuk sedikit untuk menghormati Dimas selaku pemilik sah dari rumah sakit yang diamanahkan kepadanya untuk ia jaga.
"Direktur," ucapnya
Dimas sangat kesal pada wanita dihadapannya ini. Sejak kejadian saat hari setelah pernikahan mereka, Dimas semakin tidak menyukai wanita yang bernama Winda. Rekan sekaligus teman saat mereka kuliah dulu.
Dian mengangguk, "Sudah selesai Direktur!" jawab Dian masih dengan menunduk.
"Kalau begitu, yng tidak memiliki kepentingan disini, silahkan keluar!"
Deg!
__ADS_1
Lagi, Winda terkesiap.
Ucapan Dimas baru saja terdengar sangat menyakitkan di telinganya. Ucapan Dimas yang bernada sindiran membuatnya semakin tidak di anggap oleh Dimas.
Dengan mengusirnya, otomatis Dimas tidak memerlukan dirinya. Ia hanya dianggap orang asing disana.
Seperti kata Kezia dulunya.
Winda mengepalkan kedua tangannya. "Dim dengarkan aku dulu-,"
"Tidak ada yang pelu di dengarkan! Silahkan keluar! Pintu di sebelah sana!" potong Dimas cepat sambil menunjuk pintu yang teoat berada di sebelah kirinya.
Winda mengeram kesal. Sedangkan Dian hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Winda.
"Jika bukan karena pesan dari Anda dan juga dokter Kenan, maka sedari kemarin saya sudah memecatnya! Enak saja fia mengatakn jika adik iparku ja lang?? Yang ada itu, dia yang ja lang!! Seenaknya saja menuduh adik iparku!" ketusnya begitu kesal kepada Winda yang sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Mendengar gerutuan Dian yang mengomel tentang Winda, Dimas terkekeh. "Sufahlah kakak ipar. Sebaiknya kita berbicara hal penting dulu tentang istriku yang akan bekerja disini. Sudah kamu siapkan semuanya kan Kakak ipar??" goda Dimas pada Dian yang saat ini tertawa kala Dimas menggodanya.
"Ehem, jaga mata dan hati Adik ipar! Ingat, jika dik kecilku sedang merajuk padamu!" katanya pada Dimas.
__ADS_1
Dimas tergelak. "Sejak kapan Abang disitu? Nguping ya? Takut banget ih calon istrinya kau goda??" ledek Dimas pada Kenta yang memag sudah ada disana sedari Winda datang dan meminta hal yang mustahil untuk Dian wujudkan.