Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Tujuh tahun berlalu


__ADS_3

Seorang wanita muda berdiri menatap kaca di dalam ruangannya di mana menunjukkan banyaknya mobil dan juga motor yang lalu lalang di depan rumah sakit miliknya yang selama tujuh tahun ini ia kelola dengan baik.


Sejak kabar kematian suaminya, kini ia lebih irit bicara dan wajahnya itu sangat datar. Lebih terkesan begitu dingin.


Masih teringat jelas olehnya saat saudaranya yaitu Kenan dan Bella datang kerumahnya setelah dirinya hampir saja mati karena berita kematian suaminya. Dimas.


Plak!


Plak!


Plak!


Plak!


"Abang! Kasihan Kezia! Dia sedang hamil!" seru Bella waktu itu.


Kenan tidak peduli.


Ia masih saja menampar pipi sang adik hingga membiru di kedua pipinya. Semua keluarga menyaksikan itu.

__ADS_1


Plaaakk!


Bruukk..


"Aarrgghhtt.. Sakittt.." pekiknya saat memegang perutnya yang begitus sakit karena terjatuh dengan begitu keras.


"Abang!!!" pekik Bella melihat Kezia yang tiba-tiba pendarahan.


"Jangan sentuh dia Bella!"


Deg!


Tubuh Bella terpaku seketika saat suara lantang Kenan mengudara di seluruh ruangan ruang tamu rumah Kezia.


Bella mendekatinya dan memeluk tubuh jangkung yang bergetar menahan tangis itu.


"Hiks.. Kamu tahu adik sialan?! Huh?! Dimas pergi untuk seminar! Bukan untuk menikahi wanita lain seperti dugaan mu itu! Hiks.. Dimas pergi karena ingin memajukan rumah sakit miliknya. Bukan untuk menikahi waniat lain!" sentak Kenan pada Kezia yang kini tersedu sekaligus menahan rasa sakit di perutnya.


"Ambilkan obat pereda nyeri nya sayang. Berikan pada wanita pembunuh in!"

__ADS_1


Deg!


Kezia menggigit bibirnya mendengar tuduhan Kenan untuknya. Bella segera memberikan obat pada Kezia dan minumnya.


Yang ditenggak habis oleh Kezia dengan cepat.


"Sungguh, Abang kecewa sama kamu Key! Lihatlah akibat perbuatan kamu. Papa Rian terkena Stroke dan tidak bisa berbicara lagi. Hanya air mata yang mengair di pipinya sebagai bukti jika dirinya sangat kecewa sama kamu! Sekarang, kamu puas bukan? Karena suami kamu sudah mati? Huh?!" sentak Kenan lagi yang membuat Kezia lagi dan lagi terjingkat kaget.


"Abang Key.. Abang orang berbicara sama Dimas saat itu. Abang bilang padanya, apakah kamu tinggalin Kezia begitu saja sedang kalian baru saja bersama? Apakah Kezia tidak akan marah jika dia pergi bersama Winda?? Hiks.. Dimas bilang, itulah yang menjadi masalahnya. Ia takut meninggalkan mu. Ia ingin membawa mu tetapi rumah sakit butuh kamu. Mana mungkin baru bersatu sudah berpisah lagi?? Huh? Hiks.. Dimas.. Kenapa nasib mu mendapatkan istri durhaka seperti nya??" ucap Kenan semakin tersedu di dalam pelukan Bella.


"Mami?? Mami kenapa? Mami nangis lagi?? Kan Abang udah bilang? Mami nggak boleh nangis kalau nggak ingin Papi menangis di atas sana!" kesal anak lelaki berusia tujuh tahun itu.


Kezia mengusap air matanya dan tersenyum lembut pada ketiga anaknya.


"Kalian sudah pulang?"


"Sudah dong. Mami aja yang nggak tahu kalau kami udah pulang!" ketus si bungsu yang kini mendadak cemberut melihatnya.


Ia terkekeh.

__ADS_1


"Mami.. Kakak kangen Papi.. Kapan ya kita bisa ketemu Papi?? Apakah tidak ada satupun manusia di bumi ini yang sama seperti Papi kami??" lirihnya sendu yang membuat hati wanita itu semakin sakit saat melihat ketiga buah hatinya menangis ingin bertemu dengan sang Papi yang kini sudah tiada.


Ya Allah.. Sudah tujuh tahun berlalu. Tetapi kenapa hati ini sulit sekali untuk melupakannya? Lantas apa mimpi ku kemarin malam tentang nya yang kini sangat dekat dengan ku?? Pertanda apa ini ya Robb..


__ADS_2