Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Terlanjur sakit hati


__ADS_3

Dimas masih saja bergerak di tubuh Kezia. Sedang Kezia terus menangis menahan perih dihati dan juga pusat intinya. Dimas pun demikian.


Tak ada rasa nik mat dalam penyatuan itu. Yang ada hanya rasa sesak di dada saja. Tetapi karena ia sudah memulainya, ia tidak mungkin berhenti sebelum semuanya selesai.


Dengan air mata yang terus bercucuran, Dimas tetap memompa tubuhnya. Sambil memompa tubuh sang istri tidak henti-henti nya Dimas mengucapkan kata Cinta pada Kezia yang membuat sang istri semakin sakit hatinya.


Kenapa baru sekarang disaat dirinya akan pergi? Bisa kah Kezia percaya tentang ucapan Dimas? Ia ingin percaya, tetapi mengingat jika wanita itu adalah Winda, Kezia kembali merasakan sakit hati yang tiada tara.


"Hiks.. Kamu jahat bang! Aku benci sama kamu! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua! Aku tidak rela Bang dimas! Aku tidak rela!" serunya dengan terus terisak.


Dimas menghentikan tubuhnya karena Kezia yang terus meronta. Dimas memeluk tubuh itu dengan erat.


"Nggak akan sayang.. selamanya hanya kamu! Tidak ada yang lain lagi.."

__ADS_1


"Nggak! Abang bohong! Aku nggak percaya lagi sama Abang! Cukup sudah aku percaya padamu. Dan lihat sekarang? Lagi dan lagi kamu menyakiti ku! Aku benci sama kamu Bang! Sangat membenci mu! Aku sudah teranjur sakit hati dengan perbuatan mu! Awas! Aku harus pergi! Kamu akan bersenang-senang dengan kekasih mu bukan? Pergilah! Tetapi sebelum itu, lepaskan aku! Agar aku bebas! Aku ingin menjadi janda muda!"


Deg!


Dimas menggeleng. "Nggak sayang. Abang tidak akan mengabulkan keinginanmu. Abang sangat menyayangimu istriku.. Hanya kamu. Kamu salah paham sama Abang lagi! Oke, jika kamu tidak mau mendengarnya dari Abang. Abang akan menghubungi Bang Kenan sekarang juga!" imbuhnya dengan segera mengambil ponsel dengan tubuh yang masih bertaut.


Kezia melepaskan tautan tubuh keduanya dengan cara mendorong kasar tubuh Dimas. Dimas kecewa. Padahal saat ini ia belum selesai. Ia menatap nanar pada Kezia yang sedang memakai handuk.


"Tidakkah kamu ingin mendengarnya sayang? Segitu bencikah kamu sama Abang hingga penyatuan kita belum selesai sudah kamu tinggalkan? Apakah kamu ingin Abang tidak ridho lagi padamu??"


Deg!


Deg!

__ADS_1


"Dengarkan Abang dulu Key.. Please hunny.." lirih Dimas lagi yang membuat pertahanan Kezia goyah lagi.


Ia jatuh terduduk dan menangis disana. Dimas segera mendekatinya dan memeluk Kezia dengan erat.


"Please hunny.. Dengarkan dulu apa yang akan Abang katakan. Jika kamu tidak ingin mendengar ucapan Abang, tidak masalah. Setidaknya sebelum Abang pergi tinggalkan kesan manis untuk Abang sebelum Abang pergi, ya?" Pinta Dimas dengan memelas masih dengan memeluk erat tubuh Kezia yang kini masih tersedu.


"Sayang.. Dengarkan Abang.." lirih Dimas lagi.


Kezia tidak menjawabnya. Ia masih saja tersedu. "Sayang.." lirih Dimas lagi yang semakin melukai hati Kezia.


Dimas menyesal kenapa baru sekarang harus mengatakannya kepada Kezia. Kenapa tidak tadi saja saat mereka makan malam. Jika sudah begini, Dimas tidak bisa melakukan apapun lagi.


Jangankan untuk membujuk dan meluluhkan hatinya, wajahnya saja sudah terlihat sangat dingin. Kembali pada masa dua bulan silam.

__ADS_1


Dimas lagi dan lagi menghela nafasnya. Ia hanya bisa pasrah saat ini. Membujuk pun percuma. Apalagi mencoba untuk meluluhkannya.


Karena Kezia masih dalam keadaan emosi saat ini. Besok, Dimas akan mengatakan yang sebenarnya pada Kezia. Dan ia akan menunjukkan bukti tentang seminar yang akan diadakan di Lodon nantinya.


__ADS_2