Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Seminar


__ADS_3

Kedua nya tidak sadar jika ada Sam sedang berdiri mematung disana. Dimas dan Papa Rian terkejut saat Geby yang baru masuk dan menegur Sam yang kini mematung dan terpaku di tempat saat melihat sahabatnya seperti itu.


"Haiisshhh.. Om Sam?! Kenapa halangin pintu sih?" ucapnya kesal sambil mendorong masuk Sam yang juga seorang dokter disana.


"Ah, Sam! Masuk. Maaf.. Kamu jadi melihat kami seperti ini." Ucap Papa Rian tidak enak karena melihat raut wajah Sam yang sedikit berbeda dari biasanya.


Sam tidak menyahut. Ia masih berdiri mematung disana.


"Sam?"


Mereka bertiga saling pandnag karena tidak mendapat jawaban dari Sam yang merupakan sahabat baru Dimas semenjak Lima tahun terakhir ini.


Sam merupakan dokter yang menangani Dimas saat dia kecelakaan tujuh tahun yang lalu. Dan saat Dimas sadar, mereka berdua langsung berteman dan semakin akrab hingga sekarang.


Banyak hal yang keduanya ceritakan masalah diri sendiri. Jiwa Dimas yang mudah bergaul dan juga Frindly membuat Sam sangat betah berbicara pada nya.


Satu hal yang tidak Sam tahu ialah siapa dan seperti apa istri Dimas Anggara hingga saat ini. Kenapa ia berpisah dan apa penyebabnya Sam tidak tahu.


Tapi siang ini, ia tahu dan dengar sendiri jika Dimas meninggalkan istrinya karena permintaan sang istri sendiri dan Dimas menuruti itu hingga tujuh tahun lamanya.


"Samuel!!"


Deg!


"Ah iya Mas! Maaf. Saya melamun tadi." Jawabnya sedikit terperanjat mendengar seruan Dimas yang mengejutkan dirinya yang sedang melamunkan seperti apa istri Dimas Anggara sahabatnya ini.


Sam melangkah masuk membuat Geby memutar bola mata jengah. "Om Sam ini masih muda kan ya? Dokter lagi. Nggak mungkin dong ya telinganya itu sudah bermasalah?"


Papa Rian melototkan matanya pada Geby. " Geby! Nggak boleh ngomong kayak begitu! Om Sam itu sahabat Abang kamu!" Tegur Papa Rian yang ditanggapi dengan cebikan bibir oleh Geby.


Samuel terkekeh melihat tingkah sepupu Dimas yang masih belia ini. Masih tujuh belas tahun.

__ADS_1


"Tak apa Om. Oh ya Mas. Rumah sakit ini akan mengadakan seminar lagi seperti dulu. Sudah tujuh tahun berlalu tidak ada dokter bedah yang melakukan seminar lagi semenjak kamu menetap disini. Tapi kali ini kita mendapatkan kejutan dari pihak rumah sakit. Katanya mereka mengundang seorang dokter bedah wanita dari Indonesia."


Deg!


"Indonesia?"


"Ya, Indonesia. Tanah kelahiran kita. Dan katanya dokter wanita ini masihlah muda. Dan dia sangat berbakat sama seperti kamu. Cara kerja nya pun sama seperti kamu jika sedang melakukan operasi!"


Deg!


Kezia...


Satu kata yang keluar dari hati dan pikirannya saat ini.


Sang istri nan jauh disana juga memiliki bakat sama sepertinya. Dan dulunya pun, Kezia merupakan tangan Kanan Dimas jika Dimas tidak bisa melakukan operasi.


Dimas melamun memikirkan Kezia.


"Apa yang kamu pikirkan Mas? Apakah ada sesuatu yang mengganggu mu?? Tidak kah kamu ingin berbagi sedikit saja beban dihatimu padaku?"


Deg!


Dimas menoleh pada Sam saat Papa Rian menepuk tangannya. Dimas menatap lekat pada sahabatnya itu.


"Apa nama rumah sakit yang akan membawa dokter itu, kesini?" tanya Dimas pada Sam sengaja mengalihkan pertanyaan Sam yang membuatnya jadi tidak ingin membahas masalah pribadinya dengan siapa pun.


Sam sedikit kecewa. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun saat ini selain hanya bisa menunggu kapan Dimas akan menceritakan nya.


"Rumah sakit Jaya Medika. Dan yang aku dengar jika dia juga pemilik lima rumah sakit di Indonesia yang kini sedang berhubungan langsung dengan rumah sakit kita ini. Jaya Medika, Jaya Taruna, Jaya Medistra rumah sakit pusat, Jaya Kasih Ibu dan Rumah sakit Ibu dan Anak, Key dan Dim."


Ddduuaaarr!

__ADS_1


Terperanjat Dimas mendengar nama rumah sakit itu. Wajahnya mendadak pucat dan kaku seketika. Begitu pun dengan Papa Rian.


Keduanya saling pandang. Sam menaikkan alisnya melihat wajah sahabatnya berubah saat ia menyebutkan nama rumah sakit itu.


"Kenapa Mas? Apakah ada sesuatu dirumah sakit itu? Jangan bilang jika rumah sakit ini milikmu? Dan istrimu yang sedang mengelolanya? Dan juga.. Apakah wanita yang sedang diundang kesini itu istrimu?"


Dimas terkesiap saat mendengar pertanyaan Sam. Wajahnya semakin pucat saja. Papa Rian berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya saat di tatap lekat oleh Sam.


Begitu pun dengan Geby. Makanan yang sedang ia suap ke mulut mendadak jatuh ke bawah karena terkejut dengan pertanyaan dan juga ucapan sahabat Abang nya itu.


Sementara di belahan bumi lainnya, orang yang saat ini mereka bicarakan sedang bersiap akan ke bandara.


Sedari seminggu yang lalu, ia sudah mendapatkan undangan ini. Tetapi karena ketiga anaknya belum selesai ujian, ia terpaksa memberikan waktu untuk bisa kesana.


"London, mami?" tanya si bungsu Kania pada Kezia.


Kezia mengangguk dan tersenyum.


"Iya Nak. Hari ini kita akan ke London. Tempat dimana papi pergi dan tidak pernah kembali lagi.." jawabnya dengan dada yang begitu sesak.


Ketiga anak itu saling pandang. Mereka menarik senyum lebar hingga gigi putihnya terlihat.


"Semoga Allah mempertemukan kami dengan papi! Jika tidak, kami ingin bertemu dan mendapatkan seseorang seperti papi kami, Papi Dimas Anggara Barathayuda!"


Ddduuaaarrr!!


"Uhuk.. Uhuukk.. Uhukk.."


"Pelan-pelan Mas. Kamu ini kenapa sih? Sedari kita membahas rumah sakit itu dan juga dokternya kamu semakin terlihat aneh! Kenapa sih Mas? Masih ingin tutup mulut juga?"


Dimas tergugu. Ia tidak tahu harus bicara apa pada Sam yang kini sudah mengetahui separuh dari kebenaran yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

__ADS_1


__ADS_2