
"Kamu Dimas, bisa mengatakan ridho. Tetapi bagaimana dengan hatimu? Apakah kamu ridho dengan perlakuan Kezia seperti ini selama hampir sebulan ini?? Apa kamu ikhlas menerima Kezia yang berubah padamu? Apa hatimu tidak sakit saat melihat istrimu begitu dingin padamu?? Kenapa kalian tidak bisa belajar dari pengalaman sih? Kenapa kalian berdua sanggup berdiaman begini selama hampir dua bulan loh.. Kalau papa jadi kamu, Mas. Papa sudah memaksa istri papa untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi."
Keduanya tersedu. Tergugu, tidak tahu harus berkata apa. Karena teguran Papa Rian untuk keduanya memang benar adanya.
"Cobalah berdamai dengan diri kalian. Apalagi yang ingin kamu cari?? Bukankah saat ini kalian sudah bersama? Kalaupun kalian memiliki masalah, sebaiknya kalian bicarakan berdua. Jangan berdiaman seperti ini. Papa bisa menebaknya, bahwa kalian berdua pasti belum melakukan hubungan yang yang seharusnya kalian lakukan? Benar bukan?" tanya Papa rian sambil menatap keduanya bergantian.
Dimas dan Kezia kembali tergugu. Untuk yang kesekian kalinya papa Rian menegur keduanya.
__ADS_1
Papa Rian menghela nafas panjang. "Dengarkan Papa, Nak. Papa mengatakan ini karena Papa sayang pada kalian berdua. Terutama kamu Key.. Papa sudah menganggap kamu anak Papa sendiri sedari kamu bisa mengobati Dimas saat ia depresi dulunya. Kamu sangat mirip dengan Almarhumah Mama Diana, mama nya Dimas. Sikap lembut dan perlakuan mu terhadap Dimas sama persis sepertinya. Kamu istri yang baik untuk Dimas dan juga ibu yang baik untuk anak-anak kalian kelak."
"Cobalah berdamai dengan masalah yang kalian hadapi saat ini. Cukup sudah berdiaman seperti ini. Malam ini kembalilah ke kamar istri kamu, Mas! Bicara dari hati ke hati. Jangan saling berdiaman seperti ini. Papa tidak menyukai sifat keras kepala kalian berdua ini. Apalagi yang kalian permasalahkan? Winda?"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Deg!
Kezia mendongak dan melihat pada Papa Rian dengan wajah basah air mata.
"Kamu disini yang lebih sakit dibandingkan Dimas. Cobalah katakan pada suami mu apa yang menjadi ganjalan di dalam hatimu sebelum apa yang kamu pendam itu akan menghancurkan dirimu dan pernikahan mu kelak. Karena kita tidak tahu penyesalan akan datang kapan saja. Jadi.. Sebelum penyesalan itu datang, bicarakan dengannya. Apa yang menjadi ganjalan dihati kamu. Bicarakan semua masalah mu dengan suami mu. Cukup sudah kalian menyendiri. Papa tidak suka dengan kelakuan kalian ini."
"Jika ada masalah itu di bicarakan. Jangan di diamkan. Memang benar. Kadang ada masalah yang harus kita diamkan. Tetapi ada masalah yang harus kita ceritakan. Apalagi masalah ini tentang rumah tangga kalian berdua. Tidak akan ada jalan keluarnya jika kalian saling berdiaman. Kalian dengar?"
__ADS_1
Kezia dan Dimas mengangguk bersamaan.
"Sudah, istirahatlah. Malam ini jangan lagi Papa lihat kalian berdua berdiaman dan pisah kamar. Bicarakan berdua apa yang menjadi masalah kalian berdua. Papa tidak ingin rumah ini sepi seperti tidak berpenghuni. Padahal umatnya ada. Tetapi entah apa yang terjadi dengan penghuninya hingga sunyi senyap setiap malamnya. Sudah cukup papa bersabar selama sebulan lebih ini melihat tingkah kalian ini. Papa mau istirahat. Habiskan martabak bangka itu. Setelahnya bicarakan hal kalian berdua. Besok, papa sudah melihat kalian berdua akur seperti dulu. Papa merindukan saat-saat itu.." lirihnya dengan dada yang sesak dan segera berlalu meninggalkan kedua orang yang kini semakin tersedu karena ucapan Papa Rian untuk keduanya.