Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Teguran


__ADS_3

Malam harinya.


Keduanya kini sudah berada dirumah baru mereka yang Dimas beli atas nama Kezia. Papa Rian sedang pergi ke tempat temannya karenada hal penting yang harus ia lakukan.


Kini dirumah itu hanya ada Kezia dan Dimas saja. Saat ini keduanya sedang makan malam bersama.


Makan malam yang tidak seperti saat keluarga Kezia datang. Kini keduanya makan pada piring masing-masing.


Tidak ada yang berbicara. Kezia seseklai melirik lauk Dimas di piring, apakah sudah habis akan ia tambah lagi.


Sedang Dimas. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meluluhkan Kezia kembali.


Ia rindu bisa duduk bersama Kezia. Saling tertawa dan bercerita bersama. Sesekali mata sipit itu menoleh pada Kezia yang kini sedang fokus pada makanannya.


Ingin berbicara tetapi berat. Begitu pun dengan Kezia. Ia tidak ingin mengucapkan satu kata lagi yang bisa menyinggung perasaan Dimas.


Keduanya sama-sama diam saat ini hingga Papa Rian pulang, barulah terdengar suara keduanya.


Papa Rian membawa satu buah box berisi makanan kesukaan Dimas dan Kezia. Yaitu mertabak Bangka.


"Hem.. Harum banget bau nya. Boleh ya aku ambil sepotong papa??" tanya Kezia pada papa Rian meminta izin terlebih dahulu.


Papa Rian terkekeh dan mengangguk. "Makanlah. Sengaja papa belikan untuk kalian berdua. Karena papa tahu jika kalian berdua sangat menyukai makanan ini. Makanan ini adalah makanan favorit kalian berdua kan?"


Deg!

__ADS_1


"Uhuk.. Uhuk.." Kezia terbatuk-batuk saat Satu potong martabak Bangka itu masuk ke lehernya.


Dimas yang terkejut melihat Kezia terbatuk-batuk segera memberikan minum padanya. Minum milik dirinya.


"Hati-hati kalau makan, jangan sampai tersedak lagi. Bisa bahaya." tegurnya pada Kezia yang hanya dibalas anggukan oleh Kezia.


Tangan kekar dan hangat itu tetap mengelus lembut punggung Kezia yang kini sudah duudk berpindah kepadanya karen aKezia terbatuk tadi.


Papa Rian tersenyum tipis. "Lakukan tugasmu sebagai seorang suami, Mas! Kezia itu istri sah Mu. Sampai kapan kalian berdua berdiaman seperti ini karena masalah itu?"


Deg!


Kezia berhenti menyuapkan martabak Bangka itu ke mulutnya.


Ucap Papa Rian menatap sepasang suami istri yang kini saling menunduk itu. Mata keduanya mengabur.


Tetesan air bening di pipi keduanya menandakan jika keduanya begitu terluka dan juga sangat merindukan satu sama lainnya saat ini.


Papa Rian menghela nafasnya. "Berdamailah dengan hati kalian. Papa tahu, jika kalian berdua saling membutuhkan. Tetapi kenapa kalian begitu egois dengan diri sendiri? Sampai kapan kalian berdua seperti ini? Kamu Mas! Berdosa jika kamu belum memberikan hak mu padanya!"


Duuuaarr!


Dimas tersentak.


"Dan kamu juga Key! Bahkan kamulah yang lebih berdosa karena menolak kehadiran suami serta apa yang akan ia berikan padamu sebagai hak mu dan juga hak nya!"

__ADS_1


Ddduuaarrr!!


Kezia terkesiap mendengar ucapan Papa Rian yang memang benar adanya.


"Kamu lulusan pesantren? Tapi kenapa kamu melakukan semua ini? Maaf Key! Dalam hal ini kamu salah. Sudah tahu jika Dimas suami kamu, tetapi kenapa kamu setuju-setuju saja saat driinya memberikan kamu kamar lain sedang dirinya dikamar yang berbeda tidak satu kamar dengan mu??"


"Tahukah kamu Kezia? Kalau ridho Allah itu adalah ridho suami??"


Ddduuaarr!


Kezia tersedu. Tubuhnya serasa dihantam petir saat papa Rian menegurnya.


"Dan kamu juga Mas! Tidakkah kamu tahu jalan penyelesaian masalah kalian itu seperti apa?"


Keduanya semakin tersedu. Tubuh keduanya berguncang hebat. Benar kata papa Rian. Keduanya sama-sama salah dalam hal ini.


Jika Kezia berkeras hati, kenapa Dimas tidak membujuknya?


Sedang Kezia? Apakah ia lupa tentang ridho Allah merupakan ridho suami?? Tanpa ridho suami, ia tidak akan mendapatkan pahala. Melainkan dosa yang ia dapat.


"Kamu Dimas, bisa mengatakan ridho. Tetapi bagaimana dengan hatimu? Apakah ridho dengan perlakuan Kezia seperti ini selama hampir sebulan ini?? Papa bisa menebaknya, bahwa kalian berdua pasti belum melakukan hubungan yang yang seharusnya kalian lakukan? Benar bukan?"


Dimas dan Kezia semakin tersedu.


Papa Rian menghela nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2