
"Dokter Sam!" seru Kezia yang membuat Dokter sam sahabat suaminya itu tersentak.
"Hah? Iya maaf, maaf. Mari silahkan duduk dokter! Maafkan saya melamun tadi!" jawabnya merasa bersalah pada Kezia.
Kezia tersenyum, "tak apa Dokter Sam. Kami kesana dulu ya?"
"Baik, silahkan dokter!" jawabnya dengan sedikit terbata.
Ia masih mengingat dimana keberadaan Dimas saat ini. Ia melihat ke sekeliling dan bertemulah pandanganya dengan Dimas yang kini sedang berada di atas podium sedang berbicara dengan direktur rumah sakit mereka.
Sam menoleh pada Kezia yang belum mengetahui ada Dimas disana. Ia terus melihat kedua orang itu bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Sementara kezia dan ketiga anaknya terus berjalan menuju ke tengah ballroom ruangan. Dimana namanya tertera disana.
Disaat ia dan anaknya sedang berbicara sambil menuju ke meja mereka, tanpa sengaja si kembar Dantias menoleh ke Podium.
Deg!
Deg!
Deg!
Keempat kaki itu terpaku seketika ketika pandangan ke empatnya menuju ke Podium dimana seseorang yang selama ini yang sangat mereka tunggu-tunggu dan juga mereka rindukan sednag tertawa dengan seorang wanita asli London.
Seorang dokter juga.
"Papi!" Seru Demian dan Diayunzia secara bersamaan tetapi dengan suara sangat lirih. Hanya ke empatnya yang mendengar.
Ke empat pasang mata itu berkaca-kaca melihat orang yang sangat mereka rindukan itu ternyata ada di London selama ini.
Berarti berita meninggalnya sang papi hanya bualan belaka. Si kembar menangis. Mereka ingin menemui sang papi dan berlari ke podium.
Tetapi tertahan saat melihat dokter wanita itu melingkarkan tangan di lengannya dan disambut hangat oleh sang Papi.
Seketiak mata itu mendadak panas. Nafas ketiga nya memburu. Sedangkan Kezia menatap sendu padanya.
__ADS_1
Si kembar yang sudah tidak tahan segera mengeluarkan suara mereka yang membuat sang papi terjingkat kaget hngga jatuh terduduk di lantai podium itu.
"Hiks.. Papi DIMAS ANGGARA BARATHAYUDAAAA!!!!!"
DEG
DEG
Seseorang namanya yang di panggil itu mematung seketika. Ia segera berbalik dan melihat ada empat orang yang selama ini sangat ia rindukan ingin ditemuinya ada disana.
"Ke-ke-kezzia??!!"
Bruukk..
Ia jatuh terduduk melihat ketiga anaknya menatap nyalang padanya. Semua orang melihat padanya dan juga ketiga anak itu.
Termasuk direktur rumah sakit yang bernama Catrine itu. "Dimas! Are you okeyy??" tanya nya pada Dimas yang terpaku dengan wajah terkejut melihat wajah ketiga anaknya kini menatapnya dengan wajah basah air mata.
Ketiga anaknya itu menangis pilu. Mereka tidak beranjak sedikitpun dari sana. Hanya saja pegangan ke empat orang itu semakin erat saat ini.
Serasa dihantam petir tubuh Dimas saat melihat ketiga anaknya kecewa padanya.
"Ma hik mi.. Pu.. Pu hiks lang.." isak Dantias dalam pelukan Kezia.
Kezia tidak meyahut, ia semakin erat memeluk ketiga nakanya kini yang semakin tersedu meminta pulang.
"Pu hik lang mi.. Hiks.." isak ketiganya yang membuat semua ruangan itu sunyi senyap seketika.
Semua mata tertuju kepada mereka berempat.
Sam, ia pun ikut menangis melihat pertemuan pertama kali ayah dan anak itu tetapi sangat disayangkan, Dimas tidak menyadarinya.
Papa Rian dan seluruh kelurga yang berniat ingin menemui Kezia dan ketiga anaknya kini terpaku di tempat saat melihat Kezia menagis pilu sambil memeluk anaknya.
Ia beralih menatap ke podium sana, papa Rian menghela nafasnya. "Sudah berapa kali papa katakan sama kamu, Mas. Jauhi wanita itu. Ia bisa merusak rencanan mu. Lihat? Dan rasakan sendiri akibat perbuatan mu!"
__ADS_1
Dimas mematung mendengar ucapan Papa Rian padanya.
"Pa.. Nggak gitu-,"
"Kita pulang Mami! Mulai sekarang, abang nggak akan pernah ingat Papi lagi! Sedari kami lahir, kami tidak pernah memiliki papi hingga saat ini. Kami tidak pernah punya papi! Papi kami sudah MATI!
Dddduuaaarrr!
"Astagfirullah ya Allah... Putraku.." lirih Dimas segera berlari menuruni podium dan mengejar Demian yang kini berlari dari kerumunan semua orang.
Wanita yang bernma Catrine itu terpaku di tempat saat melihat dimas berlari dan mengejar anak kecil itu dan mengabaikannya.
Kezia pun mematung di tempat saat melihat tatapannya bertemu dengan papa Rian yang kini juga menatapnya dengan tatapan bersalahnya.
Kezia menunduk. "Kalian duduk disini dulu ya Nak? Jangan kemana pun! Jangan bicara dengan siapa pun! Dan tetap duudk disini! Percaya sama mami! Mami inginmenyususl Abang kalian dulu!" imbuhnya lembut kepada keduaanaknya kini yang saling berpelukan.
Keduanya mengangguk pasrah. Kezia segera berlalu mengejar Dimas yang sudah lebih dulu mengejar Demian.
Belum lagi tiba di lobi hotel itu Kezia berdiri tegak dengan nafas memburu.
"Berhenti Demian Putra Alamsyah!!"
Deg, deg, deg..
Kaki kecil itu mematung seketika saat mendengar seruan nama itu untuknya. Begitu juga dengan lelaki yang kini sedang mengejar anak lekai itu.
"Kembali sebelum mami menyeretmu! Ingat janji kamu Demian Putra Alamsyah!!"
Deg!
Deg!
Lagi, kedua tungkai lekai itu lemas bagai tidak bertulang mendengar seruan nama untuk anaknya.
Ia berbalik dan melihat Kezia kini sedang menatap lurus dimana putra mereka berada.
__ADS_1