
Mereka berlima tidur dengan sangat damai. Tidur terlelap yang mereka rasakan setelah tujuh tahun berlalu selalu dalam kerinduan kini terlampiaskan ketika bertemua dengan seorang yang selalu mereka tunggu dan sebut di dalam doa mereka berempat.
Selama tujuh hari ke depan, Dimas akan membawa ketiga anaknya serta Kezia untuk keliling London.
Sebenarnya Kezia tidak mau. Karena tubuhnya sangat lelah. Ia diserang flu saat tiba di London yang saat ini sedang pergantian musim. Yaitu musim dingin.
Tubuh Kezia yang tidak pernah merasakan suhu yang begitu dingin membuatnya tumbang setelah puas berkeliling menemai Dimas dan juga ketiga anaknya.
Dimas sangat panik melihat Kezia pingsan di kamarnya dengan si kembar yang berteriak histeris karena Mami mereka sudah memucat seperti mayat.
Dimas yang seorang dokter segera menangani Kezia. Ia menyuruh ketiga anaknya untuk diam dan jangan berisik.
Ketiganya patuh walau sesekali terdengar suara lirih isakan keduanya.
"Sudah, mami sudah mendingan. Sekarang, abang sama adek mandi dulu. Biar Papi yang menemani mami. Ya?" tuturnya lembut kepada ketiga anaknya
"Iya pi. Kami mandi dan sholat isya dulu. Makan malam papi sama mami nanti abang yang antarkan!" Jawab Demian dengan segera berlalu.
Dantias pun mengangguk. Ia pun segera berlalu. Diayunzia mendekati Kezia dan mengecup sayang pipi sang mami.
"Mami cepat sembuh ya? Agar kita bisa jalan-jalan lagi. Jangan sakit Mi.. Jika mami sakit, adek nggak ada yang urus. Selama ini mami selalu sendirian mengurus kami bertiga.. Hiks.." lirihnya dengan terisak.
Dimas segera memeluk putri bungsunya itu. Ia mengecup kening Diayunzia dengan lembut. "Mami nggak akan sakit lagi jika ada papi. Mami hanya kecapean dan juga tubuhnya begitu lemah. Adek mandi dan sholat. Doakan mami agar cepat sembuh, hem?"
Diayunzia mengangguk. " Iya Pi. Adek keluar. Jaga mami untuk kita pi."
"Iya sayang." jawab Dimas dengan tersenyum lembut pada sang putri bungsunya.
Setelah ketiganya keluar, Dimas segera mengunci pintu kamarnya. Ia tersenyum nakal melihat Kezia.
Dengan segera ia melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam selimut dimana Kezia juga sudah tidak memakai pakaian sama sekali.
"Hemm.. Nyamannya.. Selama hampir delapan tahun ini, tubuh hangat inilah yang selalu aku rindukan. Ughh.. Nyamannya.." ucap Dimas semakin erat memeluk tubuh ringkih Kezia yang saat ini diserang demam.
__ADS_1
Ia pun menguikuti Kezia yang larut ke dalam mimpi.
Tengah malam waktu London, Kezia terbangun kala merasakan haus di kerongkongannya. Ia meringis menahan sakit dan memijit kepalanya yang terasa berputar saat ia akan bangun.
Ia merasakan tubuhnya begitu hangat dan nyaman. Tanpa sadar ia semakin menelusupkan tubuhnya pada dada bidang yang saat ini terbuka itu.
Bau harum khas tubuh Dimas yang selalu Kezia rindukan saat hamil kini Kezia rasakan lagi. Ia mengecup dada itu berulang kali membuat Dimas sadar.
"Kamu udah bangun Yang? Mau minum?" tanya Dimas sedikit mengurai pelukannya dan menatap Kezia yang kini sedang tersenyum manis padanya dengan mata berkaca-kaca.
Dimas pun membalas senyum manis yang selalu ia rindukan itu. Kezia bangkit sedikit dan mensejajarkan wajahnya dengan Dimas.
Ia mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas keduanya terasa.
Cup.
Cup.
Cup.
Kezia menangis saat berulang kali mengecup wajah tampan pujaan hatinya sedari ia kecil itu.
Ia tersedu di hadapann wajah Dimas. Dimas tersenyum. Matanya pun berkaca-kaca. Ia tidak menjawab ucapan Kezia.
Tetapi perbuatan nya menunjukkan kasih sayangnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah keduanya bersatu kembali di London. Cinta keduanya yang sempat padam, kini membara kembali.
Keduanya kembali bersatu untuk mereguk manisnya madu pernikahan. Keduanya larut dalam gelora syahdu.
Papa Rian ingin membangunkan Dimas karena rumah sakit membutuhkan nya saat ini. Karena akan melakukan operas pagi ini.
Pihak rumah sakit sudah menghubungi ponselnya berulang kali tetapi tidak diangkat. Jadi mereka menghubungi Papa Rian untuk menyampaikan pesan itu.
__ADS_1
Tapi pada saat ia ingin mengetuk pintu kamar Dimas, tangannya mengatung di udara saat mendengar suara lenguhan dari dalam kamar itu.
Papa Rian terkekeh, "Pantas anak itu tidak mengangkat ponselnya? Lah wong lagi ngadon cucu lagi buat aku?" katanya tergelak sendiri dan segera berlalu meninggalkan kamar Dimas dan Kezia.
Ia menghubungi rumah sakit dan mengatakan alasan Dimas tidak bisa karena Kezia sedang sakit.
Ke esokan paginya.
Pintu kamar Dimas dan Kezia sudah di ketuk ribuan kali sejak subuh. Tetapi kedua orang itu tidak kunjung membukanya.
Papa Rian membujuk mereka agar tidak mengganggu kedua orang tuanya. Tetapi si kembar tetap tidak mendengarnya.
Mereka keukeuh ingin menemui kedua orang yang saat ini mengurung diri di kamar itu.
Lelah membujuk si kembar, Papa Rian memanggil tante Riana untuk membujuk si kembar.
Dan ya, ketiganya luluh. Mereka patuh dengan ucapan sang Nenek yang membujuk mereka bertiga.
Sedangkan di dalam kamar, keduanya saat ini masih saja bergelut dengan aktivitas berbagi keringat.
Keduanya begitu saling merindukan. Hingga keduanya tidak ingin lepas walau sebentar. Selepas subuh hingga pagi ini keduanya terus mereguk manisnya madu pernikahan mereka yang tertunda hampir delapan tahun lamanya.
Jangan salahkan keduanya jika lupa waktu. Mereka itu pengantin baru saat berpisah. Baru sebulan merasakan nikmatnya madu pernikahan.
Tetapi karena masalah yang membelit keduanya terpaksa berpisah.
Dan saat ini keduanya sudah berkumpul. Tidak ada alasan bagi keduanya untuk tidak mereguk madu itu kembali seperti tujuh tahun silam.
Papa Rian terkekeh saja saat Geby menggerutu karena Dimas dan Kezia tidak turun-turun dari pagi hingga malamnya lagi.
Padahal tanpa mereka tahu, Dimas sempat turun ke dapur dan mengambil sarapan pagi, makan siang dan juga makan malam mereka.
Ia sengaja memonopoli Kezia sebelum enam hari ke depan dirinya yang akan di monopoli oleh ketiga anaknya. Jadi.. Ia harus memanfaatkan waktunya untuk berbulan madu bersama Kezia untuk yang kedua kalinya lagi saat ini di London.
__ADS_1