
Kezia menatap ketiga anaknya dengan dingin. Wajahnya mendadak datar yang membuat ketiga anak kembar itu tersentak. Ketiga melepaskan tangan mereka dari tangan sang mami yang kini menatap mereka dengan wajah datarnya.
"Apa yang kalian mau itu tidak secepat itu bisa terlaksa! Anak manusia bukan boneka yang bisa langsung jadi setelah dicetak! Anak manusia itu butuh proses. Hamil dulu dari dari satu bulan sampai sembilan bulan! Baru setelahnya dilahirkan kedunia. Setelah lahir pun nggak langsung bisa berjalan. Ada prosesnya lagi! Nggak langsung berbicara! Mereka tumbuh sedikit demi sedikit. Bisa buka mata, menggerakkan tangan, melihat sekitar, mengenali wajah kedua orang tuanya!
Tertawa menangis! Bisa tengkurap, bisa duduk dan merangkak. Bisa berbicara dan baru berjalan! Kalian pikir proses itu mudah?! Cepat begitu?! Setiap harinya kalian selalu meminta hal itu sama mami! Mami pusing kalian buat! Mami bukan tuhan yang bisa mengabulkan setiap permintaan kalian! Jika kalian ingin punya adek bayi, minta sama Allah! Jangan sama mami! Mami nggak punya kuasa bisa mencetak anak manusia dalam waktu satu bulan udah besar dan langsung bisa jalan dan ngomong!
Itu nggak mungkin mami lakukan! Selama ini mami diam karena mami bingung harus jawab apa sama kalian. Pernah nggak kalian berpikir, jika pertanyaan kalian itu sedikit aneh?? Huh?
Kalian yang seperti memaksakan kehendak sama mami. Sampai-sampai papi dan mami tertekan karena ulah kalian bertiga! Siapa yang mengajari kalian bertiga seperti ini? Huh?
Selama mami membesarkan kalian bertiga, baru kali ini mami mendengar ini. Darimana kalian bertiga mendengar ucapan adek bayi itu!! Jawab!!" sentak Kezia dengan suara melengking tinggi.
Pak Usman yang sedang berada di dapur pun terkejut bukan main saat mendengar suara majikan perempuannya seperti itu.
Selama hampir delapan tahun ini beum pernah sekalipun terdengar suara Kezia seperti itu. Ini pasti ada penyebab dan pemicunya. Seperti tujuh tahun silam saat ia bertengkar dengan Dimas.
"Jawab!! Kenapa kalian diam saja!! Siapa yang mengajari kalian menjadi anak kurang ajar seperti ini?! Pernahkah mami mengajarkan kalian seperti ini? Selalu memaksakan kehendak terhadap orang lain?? Mami tuh lagi pusing! Panik! Cemas dan khawatir mikirin papi kalian yang saat ini nggak bisa di hubungi!
Kalian malah buat mami jadi emosi seperti ini! Kalian itu sayang mami atau nggak sih? Huh?!" sentak Kezia lagi begitu kalap.
Wajahnya memerah saat ini. Ketiga anak itu terjingkat kaget dan menunduk dengan air mata yang sudah beruraian.
"Masuk dan jangan keluar sebelum mami panggiil! Cepat!!" sentak Kezia lagi dengan nafas memburu.
__ADS_1
Sambungan ponsel yang masih terhubung itu membuat seorang di seberang sana terkejut, tertegun sekaligus merasa bersalah kepada adik dan juga keponakannya itu.
"Halo Bang! Mana bang Dimas?! Kenapa belum pulang?" tanya Kezia masih dengan nafas memburu karena marah.
"Dimas ada. Tapi kurang sehat. Tadi, saat ia melkukan operasi. Suami kamu jatuh pingsan hingga tidak sadarkan diri. Ini baru siuman. Makanya Abang hubungi kamu. Kesini ya? Dimas cariin kamu sedari tadi!"
Kezia memejamkan matanya saat mendengar ucapan Kenan. "Ya Allah bang Dimas! Baik, aku kesana sekarang!" katanya sambil memutuskan panggilan ponsel itu secara sepihak,lalu menyambar kunci mobil serta dompet kemudian berlari keluar menuju mobil ingin menyusul Dimas kerumah sakit.
Melihat kepergian Kezia, Papa Rian segera mendatangi kamar ke tiga cucu nya. Ia masuk tanpa mengetuk pintu.
Ketiga anak itu saling berpelukan dan menangis bersama. Papa Rian kasihan melihatnya. Bagaimana pun ia tidak tega melihat ketiga anak itu di sentak seperti itu.
Tetapi kali ini?
Deg!
Ketiga anak itu menoleh.
Bruukk..
"Kakek!!! Hiks.. Kami salah Kek. Kami salah.. Huhuhu.."
"Kami salah karena sudah memkasa mami.."
__ADS_1
"Sampai mami marah seperti itu.. Huhuhuhu.." sedu sedan ketiga anak itu.
Papa Rian memeluk erat tubuh ketiga ccu kandungnya itu. "Kalian sudah sadar jika itu salah?" ketiganya mengangguk masih dengan tersedu. "Lantas? Kenapa kalian menekan mami kalian seperti itu? Tidakkah kalian tahu jika tugasnya sebagai dokter itu sangat berat?"
Ketiganya tidak menyahut. Mereka memilih diam saja sambil terus terisak.
Papa Rian mengusap kepala ketiganya dengan sayang. "Mengertilah mami dan papi kalian nak. Mami dan papi kalian itu capek ingin istirahat saat tiba dirumah. Tapi ia tangguhkan istirahat itu demi mengurus kalian dan juga papi kalian. Sementara kalian?" Ketiga bocah itu tambah tersedu.
"Wajar kalau mami marah seperti itu. Kalian sudah keterlaluan memaksa mami untuk memiinta adik yang bukan kuasa nya dalam memberikan. Itu kuasa Allah, sayang. Jika kamu ingin adik, minta sama Allah. Dengan cara apa? Berdoa setiap sholat. Kalian anak yang baik, patuh dan juga taat. Allah pasti mengabulkan permintaan kalian. Kakek yakin itu.
Maafkan mami kalian yang marah-marah seperti tadi. Ia sedang khawatir dengan papi kamu yang belum pulang juga. Ia panik, takut terjadi sesuatu dengan papi kalian. Makanya tadi marah seperti itu. Dirinya yang sedang khawatir malah kalian paksa menjawab pertanyaan yang tidak bisa ia jawab sama sekali.
Pernah selama in mami kalian tidak menjawab pertanyyana kalian selain hal tadi?"
Ketiganya menggeleng dan mengangguk sebagai jawaban. Papa Rian tersenyum.
"Sudah tahu?" Ketiganya mengangguk lagi. "Nanti saat mami dan papi kalian pulang, minta maaflah. Kalian salah karena sudah memaksanya mengabulkan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan. Itu hak Allah. Paham?"
Ketiganya mengangguk patuh. "Sudah, berwudhu dan sholat. Kalian belum sholat isya kan?"
"Iya kek. Hiks.. Kami sholat dulu. Setelah ini kami akan menunggu papi dan mami pulang untuk minta maaf.."
"Ya, kakek tunggu dibawah ya?"
__ADS_1
Ketiganya mengangguk dan segera berlalu. Membuat papa Rian tersenyum melihat kepatuhan ketiga cucu kandung nya itu.