
Pukul sepuluh lebih dua puluh menit, acara resepsi itu selesai. Kinia keduanya sedang duduk di dalam kamra yang berbeda karena keduanya butuh waktu untuk memikirkan hal ini.
"Apakah kamu serius ingin membiarkan Kezia dulu, Nak?" tanya Tante Riana pada Dimas.
Dimas mengangguk walau brat, "Iya tante. Hanya ini cara satu-satunya. Abang harus berusaha terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan maaf Kezia. Walau hasil dari perjuangan ini belum jelas kadar keadaannya, tetapi abang akan tetap berusaha."
"Tapi kamu akan terluka lagi nak. Tante bisa melihat jika Kezia sangat egois dan keras kepala!"
Dimas menggeleng, "Nggak tante. Kezia tidak seperti itu kok. Ia seperti itu karena abang yang sudah membuatnya seperti itu. Bukankah seorang istri itu akan berubah kalau suaminya sendiri yang membuat ulah? Dan inilah yang Abang dapatkan sekarang. Karena menuruti ego yang ingin membuat prank tetapi kejutan, malah menjadi bumerang untuk diri sendiri. Biarakan kami tetap seperti ini, tante. Malam ini kita istirahat dulu. Karena besok, kita harus kembali ke Bnadung dengan atau tanpa Kezia.." lirih Dimas dengan mata terpejam.
Tante Riana menghela nafasnya. "Ya sudah. Kamu berbaringlah di ranjang. Nnati adik kamu akan masuk kesini untuk menemani kamu."
"Hem," sahut Dimas.
Ia segera bernajak setelah membuka jas serta gaspernya. Ia membuanganya asal dan langsung merebahkn diri dengan posiis miring ke kanan.
__ADS_1
Karena tubuh dan hatinya sangat lelah hari ini. Begitu pun Kezia saat ini hanya ditemani oleh Bella dan Kenan yang baru tau kejadian yang sebenarnya.
Ia sangat shock saat tahu, jika kezia meinta cerai dari dimas disaat ijab qobul sudah selesai yang membuat Dimas seperti raga tak bernyawa.
Bella menatap dingin pada Kezia. Kezia menunduk. Ia tidak berani melihat Bella dan Kenan saat ini di kamarnya.
Wajah keduanya begitu dingin dan datar saat ini. "Apa keputusanmu?" tanya Kenan begitu dingin
Kezia menggeleng tetap dengan menunduk. "Kalau kamu tidak tahu apa keputusan mu apa, kenapa kamu meminta cerai dari Dimas disaat ijab baru saja selesai dilaksanakan? Apakah itu prank dari mu untuknya juga?" tanya Kenan lagi masih dingin.
"Inikah ajaran yang kamu dapatkan selama empat tahun di pesantren Kezia Rahmawati?!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Berdenyut ngilu saat mendengar nama lengkapnya dipanggil seperti itu.
"Tahukah kamu, kalau perbuatan mu itu begitu mencoreng keluarga besar kita? Kamu sudah membuang kotoran tepat di wajah papa dan mama. Sadar tidak kamu?"
Deg!
Deg!
Kezia tergugu.
Ia tidak tahu harus menjawab apa sekarang ini. Sungguh, jika boleh. Ia pun tidak ingin di posiis ini.
Apakah dirinya tidak boleh kecewa dan sakit hati? Andai mereka tahu, jika Kezia hampir mati karenanya.
Kenan menghela nafasnya saat melihat Kezia terisak. "Dengarkan Abang Key! Semua ini demi kebaikan mu. Kamu tetap harus ikut bersama dimas kemana pun ia pergi. Bagiamana pun kamu sudah sah menjadi istrinya. Jangan lari dan menghindar darinya. Selesaikan semua ini baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Karena kamu lebih memilih ego mu dibandingkan hatimu. Dengarkan kata hatimu. Bukan ego mu. Ayo sayang kita keluar. Untuk malam ini biarkan dia memikirkan semua ini. Karena jika dia tidak mengikuti apa kata hatinya, maka ia akan menyesal suatu saat nanti!"
__ADS_1
"Ya, jangan menjadi istri durhaka dek. Dengan kamu menolak suami kamu seperti ini, kamu sudah berdosa dan durhaka padanya. Lebih baik mengalah dan minta maaf. Kakak yakin jika Dimas pun sudah menyesalkan semua ini." Timpal Bella dengan segera mengikuti langkah Kenan yang kini sudah lebih dulu keluar dari kamarnya.