
Pukul dua belas tengah hari waktu Jakarta, Dimas dan Kezia baru terbangun. Keduanya kembali tidur lagi saat subuh sudah mereka kerjakan.
Saat ini keduanya sedang membersihkan diri dan langsung melaksanakan sholat dhuhur. Setelah selesai, Dimas dan Kezia segera keluar menuju meja makan dimana Papa Rian sedang menunggu keduanya untuk makan siang bersama.
Keduanya turun denagn wajah yang sudah lumayan segar dan sudah tidak terlihat kuyu lagi seperti tadi malam.
"Sudah mendingan?" tanya Papa Rian pada keduanya yang kini baru bergabung dan duduk di kursi yang berbeda.
Dimas mengambil piringnya dan akan mengisi dengan nasi dan lauk pauk. Saat Dimas ingin mengambil centong nasi, Kezia yang lebih dulu mengambilnya.
Dimas mendahulukan Kezia. Setelah nasi itu berisi di piringnya, Dimas melongo melihat Kezia membawa serta sendok nasi itu.
Papa Rian terkekeh melihatnya. "Hem.. Kembali seperti semula ya?" goda Papa Rian pada Kezia yang hanya ditanggapi dengan senyum tipis.
Dimas menghela nafasnya. Ia mengalah. Inilah salah satu kebiasaan Kezia jika ia menginap dirumah Dimas.
Piring berisi nasi itu ia serahkan dulu pada papa Rian yang disambut dengan kekehan kecil di bibirnya.
__ADS_1
Setelah itu ia mengambil piring yang ada di depannya lagi dan mengisis nya lagi dengan nasi dan lauk pauk nya.
Kemudian Kezia letakkan di hadapan Dimas yang kini sedang menunggu piringnya terisi. Papa Rian kembali terkekeh saat piring di tangan Kezia ia letakkan di hadapan Dimas lengkap dengan mangkuk cuci tangannya yang berisi potongan jeruk nipis.
Salah satu kebiasaan yang selalu Kezia berikan untuk Dimas dan papa Rian.
Keduanya mulai makan, sedang Kezia hanya menunggu. Padahal dirinya sangat lapar saat ini.
Satu lagi kebiasan Kezia.
Dimas yang tahu kebiasaan Kezia segera memberikan piringnya pada Kezia. Tanpa berbicara sepatah katapun, ia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Dimas.
Suapan pertama Dimas berikan pada Kezia, setelahnya baru Kezia mengambil makanan di piring Dimas setelah mencuci tangan lebih dulu dari mangkuk yang sama dengan Dimas.
Keduanya sibuk makan dalam piring yang sama. Sepiring berdua. Tanpa ada yang bersuara. Mereka tidak sadar jika keduanya saat ini sedang di perhatikan oleh seluruh keluarga Kezia yang baru saja tiba.
Mereka semua tertegun melihat kebersamaan keduanya. Niat hati ingin pamit pada ketiganya tetapi malah melihat kejadin langka itu. Kejadian yang sangat romantis dimata sebagian orang karena keduanya saa ini sedang makan dalam piring yang sama.
__ADS_1
Kebiasaan lama Kezia jika bersama Dimas. Satu hal yang mereka tidak pernah tahu. Jika keduanya sudah terbiasa sedari mereka dipertemukan dulu saat Kezia baru pertama kali menginjakkan kaki di Bandung untuk kuliah kedokteran nya.
Mama Rani dan Papa Reza terharu melihat pemandangan langka itu. Begitu pun dengan Kenan. Tetapi semua itu buyar saat Bella tiba-tiba saja duduk disana dan mengejutkan ketiganya sampai-sampai Kezia dan Dimas kompak tersedak bersama.
"Wooaaahhh.. Enak nih! Capcai sama ikan gembung goreng eeuuuyy! Laparrrr!!!" celutuk Bella dengan cepat duduk disamping Kezia dan mengambil nasi serta lauknya dan menyuapkan ke mulutnya sebelumnya ia Memanggil Kenan yang saat ini sedang melongo melihat tingkah istrinya.
"Uhuukk.. Uhuukk.." Keduanya kompak terbatuk bersama.
Bella tidak peduli. Yang ia pikirkan saat ini makan. Kenan melangkah cepat dan mengucap salam terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum papa Rian, maafkan istri saya tanpa permisi menyiduk dan makan, makan siang kalian. Sayang, ih!" tegur Kenan saat melihat Bella dengan lahapnya makan sayur capcai itu.
Sayuran yang terdiri dari udang, brokol putih, wortel dan kacang kapri ditumis dengan bawang merah dan bawang putih, merica bubuk serta garam dan gula sedikit. dan juga sedikit sayuri saus tiram.
"Hehehehe.. Maaf Mas, Key, papa Rian. Kakak lapar. Bau harum tumisan capcai ini sangat ingin kakak makan. Tak apa kan ya? Kalau nggak boleh, kakak nggak jadi makan lagi." imbuhnya dengan sedikit sendu.
Ia menjadi tidak enak sendiri saat Dimas dan Kezia menatapnya dengan terkejut. Padahal keduanya sedang seriusnya makan sampai-sampai kehadiran seluruh keluarganya pun Dimas dan Kezia tidak tahu.
__ADS_1
Apalagi papa Rian. Ia terlalu senang saat melihat keduanya kembali makan bersama seperti itu. Satu hal kebiasaan Kezia saat berada di dalam rumah itu.