
"Kenapa? Kenapa kamu diam? Kamu lupa?" tanya Cinta lagi masih dengan suara lembutnya tetapi sangat dingin.
Kenan dan Kezia menelan ludahnya dengan wajah yang lumayan tegang. Rayyan menghela nafasnya.
"Sudah.. Jangan menekan adikmu seperti itu. Lebih baik kita berikan nasihat padanya agar bisa lebih memahami arti dari pernikahan dan tanggung jawab seorang istri seperti apa." Lerai Rayyan yang membuat Cinta menghela nafas kasar.
Rayyan mengelus tubuhnya untuk menenangkan Cinta. "Seharusnya kamu tidak bersikap seperti ini, Dek. Tidakkah kamu tahu, kalau suami kamu itu rapuh karena kepergian mu?? Apa yang sebenarnya ada dihati dan pikiran mu? Hingga kamu tega ingin meninggalkannya seperti ini? Dimas terpuruk, sayang. Dimas terpuruk! Tidakkah kamu sadar itu Kezia Rahmawati?? Kamu sungguh sudah membuat kedua orang tua kita masuk dengan terpaksa ke dalalam neraka karena ulahmu!"
Ddduuuaaarrr..
"Sadar Key! Sebelum semuanya terlambat. Jangan terlalu egois! Pikirkan juga suami mu. Allah saja maha pengampun? Kenapa kamu tidak?"
Kezia terisak. Bella memeluknya dengan erat untuk memberinya kekuatan agar sanggup mendengar nasihat dari kakak nya.
"Sadar sayang.. Apapun yang kamu lakukan sekarang kamu berdosa kepada suami mu. Jangan pergi. Kembalilah. Semua ini bisa dibicarakan baik-baik. Ingat sayang.. Suami kamu berbeda dengan lelaki lain. Ia sangat rapuh mengenai dirimu. Ia sangat terluka karena kepergian mu. Apakah kamu ingin pergi sementara suami kamu tidak Ridho?? Kamu ingin jadi istri durhaka Kezia??"
__ADS_1
Kezia menggeleng masih dengan terisak di pelukan Bella. Bella pun ikut menangis. Tahu sendiri jika Bella sedang hamil. Hormonnya itu mempengaruhi dirinya yang saat ini sedang melihat Kezia bersedih.
Begitu pun dengan Kenan. Ia pun sama seperti Bella saat ini. "Kembalilah sayang.. Kasihanilah suami kamu. Dia sangat menyayangi kamu. Oke. Jikalau kamu belum bisa memaafkannya, tidak masalah. Tetapi jangan tinggalkan Dimas seorang diri. Dimas butuh kamu sayang.. Pulang, ya? Kakak tunggu kamu. Kita akan berangkat ke Jakarta bersama. Resepsi kamu tetap akan dilakukan besok pagi. Pulang kesini. Kami disini akan menunggumu."
Kezia tidak menjawab, ia masih tersedu di pelukan Bella yang kini juga ikut tersedu di pelukannya.
"Key..." lirih Cinta dengan mata yang sudah berlinangan
"Kita pulang ya? Atau, kakak jemput kamu kesana?"
Rayyan dan Cinta tersenyum, "Tentu. Kami akan segera ke Bandara. Kakak tutup dulu. Assalamualaikum sayang.."
"Wa'alaikum salam, Kakak ku.." jawab Kezia dengan tersenyum lembut pada Cinta.
Rayyan dan Cinta menoleh pada Dimas yang kini duduk dihadapan keduanya. "Sudah dengar? Kezia akan ikut bersama kita ke Bandara. Bersiaplah. Yang lain pun demikian." Kata Rayyan pada semua yang ada disana.
__ADS_1
Mereka mengucapkan alhamdulillah karena usaha Cinta dan Rayyan membuahkan hasil.
Rayyan menatap pada Dimas yang kini tidak berhenti tersenyum memikirkan Kezia.
"Dengarkan Abang, Dek!" Dimas beralih menatap Rayyan yang kini ingin bicara serius dengannya.
"Katakan Bang, aku akan dengar. Selagi itu tentang Kezia, aku pasti akan mendengarnya." imbuhnya masih dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
"Maafkan Abang yang telah memberimu ide seperti ini. Abang pikir istri kamu mau menerima kejutan yang kita buat. Ternyata ia salah paham. Untuk itu, kamu jangan terlalu cepat memaksakan dirimu padanya. Biarkan mengalir seperti biasanya. Kamu dengan kehidupanmu, dan dia dengan kehidupannya. Kalian tetap akan tinggal dalam satu atap. Tapi, kamu tidak boleh memaksanya dalam hal nafkah batin. Nafkah lahir, harus kamu berikan sekalipun dia menolak. Jika dia menolak, ia tahu konsekuensinya seperti apa."
"Berikan dulu waktu untuk hatinya menyembuhkan luka yang sudah kamu torehkan secara tidak sengaja padanya. Nanti, Abang juga akan mengatakan hal ini padanya. Tetapi sebelum itu, kamu dulu yang harus mendengarkannya."
Dimas tersenyum, tidak ada gurat marah pada dirinya saat mendengar ucapan Rayyan.
"Abang tenang saja. Aku tahu batasan. Walau ia istriku, tetapi aku tidak akan memaksanya dalam hal itu. Bisa melihatnya pulang dan tinggal bersama ku saja itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak akan memaksanya jika ia tidak mau. Aku sadar diri telah melakukan kesalahan Bang. Abang tenang saja. Yang penting Kezia tidak pergi. Karena aku tidak ridho jika ia pergi meninggalkan ku begitu saja. Semua masalah ada jalan keluarnya. Jika ia ingin waktu, akan aku berikan. Seberapa lama pun akan aku berikan padanya. Asalkan ia tetap bersamaku."
__ADS_1