
Kezia menatap nanar pada Kenta yang kini juga sednag menatapnya. "Tentukan pilihan dihatimu. Coba bermurah hatilah sedikit dengan rasa sakit dihatimu. Abang hanya berusaha untuk mengingatkan mu. Bukan memaksa mu. Abang tidak akan melakukan itu. Karena hanya kamu yang tahu apa keinginan hati mu. Jujurlah pada diri sendiri, Dek. Jangan sampai terlambat!" Bujuk Kenta lagi untuk yang kesekian kalinya.
Kezia tercenung memikirkan hal itu. "Abang pulang, Dek. Ayo hunny, kita pulang!"
Dokter Dian mencebik, "Abang sana yang pulang! Bukan aku!" ketusnya dengan segera berlalu meninggalkan Kenta yang tertawa.
Kezia terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ia kembali tercenung memikirkan perkataan Kenta baru saja.
Apakah benar jika sikapku ini salah padanya? Tetapi aku punya alasan untuk itu. Aku sudah memaafkannya. Rasa cintaku lebih besar dibandingkan kebencianku kepada nya.
Aku belum bisa berbicara jujur padanya, karen ada satu hal yang sedang aku selidiki dan aku pantau.
__ADS_1
Maaf bang Kenta. Kali ini, aku tidak bisa mengikuti saran mu. Ada sesuatu yang masih aku rasa janggal disini.
Untuk sementara biarlah seperti ini. Tapi.. Apakah aku salah melakukan hal ini? Kenapa aku jadi bimbang begini sih? Ck. Ini semua karena bang Kenta! Batinnya mendadak kesal saat mengenang ucapan Kenta baru saja.
Sementara Dimas yang sudah kembali ke rumah sakit pusat mendatangai Kenan yang saat ini sedang berada di dalam ruangan miliknya.
Ceklek.
"Sudah selesai?" tanya Kenan pada Dimas yang kini terduduk di sofa ruangan miliknya dengan tubuh dan pikiran yang lelah.
"Sudah tadi, bang.. Tapi tetap saja Kezia masih saja sama." Jawabnya semakin tidak bersemnagat.
__ADS_1
"Sabar Mas. Semua perjuangan itu butuh waktu. Jangan terlalu di pikirkan. Jalani saja semua ini dengan ikhlas dan lapang dada. Walau berat, Abang yakin kamu pasti bisa. Ya?" Ucap Kenana yang membuat Dimas semakin berat menghela nafasnya.
"Pikirkan saja rasa cintamu padanya. Bukan kebenciannya kepada mu. Jika kamu memikirkan itu, Abang yaki, kamu pasti akan terus bimbang seperti ini. Serahkan semua urusan itu semua pada Allah. Kita manusia hanya bisa berusaha yang terbaik. Dan yang memutuskan itu Allah SWT. Ingat Mas! Allah tidak akan menguji kita diatas batas kemapuan kita!"
Dimas tertegun dengan ucapan Abang iparnya ini yang memang benar adanya. Dimas menghela nafasnya.
"Abang benar. Sebaiknya aku hanya memikirkan cara apa saja yang harus aku lakuakn agar Kezia bisa luluh dan memaafkan ku. Bukan malah menjadi semakin bimbang dan menyerah seerti ini saja. Aku juga manusia biasa Bang. Terkadang ada rasa lelah yang menerpa hatiku di saat melihat hubungan kami selama dua minggu ini tiada perubahannya." Dimas menata Kenan
"Abang tahu kamu manusia biasa. Abang pun sama. Bahkan Abang lebih parah darimu. Abang sempat berniat ingin menyerah dulunya saat Abang berada di titik rendah kehidupan Abang yang dimana saat itu abang divonis mandul dan tidak bisa memiliki keturunan karena penyakit yang Abang derita. Tetapi Abang tidak gegabah Mas. Abang tetap sabar dan terus sabar sambil terusberdoa. Berharapa akan ada keajaiaban yang menimpa Abang. Dan ya, siapa yang sangak jika Abang bisa bertemu kembali dengan gadis kecil yang jatuh ke sungai dan hampir mati gara-gara terkejut cicak?"
Dimas tertawa. Kenan terkekeh, "Abang benar! Aku harus lebih bersabar lagi. Sabar itu tidak ada batasnya. Selagi masih bisa sabar kenapa tidak? Hum.. Terimakasih Bang Dimas, sudah mau membuka mataku yang sepet ini!" seloroh Dimas yang dibalas gelak tawa oleh Kenan.
__ADS_1