
"Yeeee.. Aseeekk.. Kita punya papi! Uhuuyy! Kita nggak akan di ejek lagi kalau kita nggak punya Papi! Yeeee.. Horeeee!!!"
Deg!
Deg!
Dimas dan papa Rian mematung mendengar ucapan ketiga anak Dimas yang kini sedang melompat kegirangan.
"Nak.. Siapa yang bilang seperti itu sama kalian?" tanya Dimas yang kini kembali berjongkok di hadapan ketiga anaknya.
Diayunzia tersenyum, "Mereka itu orang-orang yang sengaja mengejek kami, karena kami tidak memiliki papi seperti mereka. Mami sengaja pulang ke Medan demi melindungi kami dari ejekan mereka. Tetapi karena kerjaan mami yang terlalu banyak di Jakarta, kami kembali lagi ke Jakarta. Tapi kami tidak sekolah disana lagi. Mami memasukkan kami ke tempat sekolah dimana kami tidak pernah di ejek dan dihina karena kami tidak memiliki papi." Jelasnya dengan riang.
Dimas menatap pada Kezia. Kezia tersenyum sendu. Ia menghela nafasnya. "Ya sudah. Kali ini Papi tidak akan kemana-mana. Papi akan terus bersama kalian. Terkecuali takdir Allah yang memisahkan kita. Ya?" Ucap Dimas seraya memeluk ketiga anaknya.
Ketiga bocah itu mengangguk. Sedang Kezia tersenyum lagi. Cathrine terharu melihatnya.
"Dokter Kezia,"
"Ya, Dokter Cathrine."
__ADS_1
"Maafkan perlakuan saya tadi terhadap suami anda. Saya tidak bermaksud demikian. Lagi pun saya tidak tahu jika anda istri dari Dokter Dimas. Dan dokter Dimas pun tidak pernah mengatakan jika ia sudah memiliki istri. Saya baru tahu saat Sam yang mengatakannya. Maafkan saya dokter Kezia.. Saya benar-benar minta maaf!" ucapnya dalam bahasa inggris yang diangguki oleh Kezia.
"Anda tidak salah dalam hal ini. Saya lah yang salah disini. Sampai suami saya pergi dan tidak ingin kembali karena permintaan saya. Seharusnya saya tidak mengatakan hal yang bisa melukai perasaannya. Bertahun-tahun saya merenungi hal ini. Dan saya menyesalinya. Tetapi terlambat. Disaat saya menyesalinya, suami saya sudah tidak bersama saya lagi.." lirih Kezia kembali merasakan sesak yang tiada tara.
"Sudahlah sayang. Semua itu sudah berlalu. Untuk sekarang.. inilah masa depan kita. Mari kita membangun rumah tangga ini menjadi lebih baik lagi. Ayo, kita harus istirahat. Sudah tengah malam waktu London. Ayo sayang!" seru Dimas pada ketiga anaknya yang kini masih bergelayut di tangan dan pinggang Dimas.
Papa Rian tertawa melihatnya.
"Maafkan saya Cathrine. Inilah sebabnya saya selalu menolak permintaan kamu. Maafkan saya Dokter Cathrine.." ucap Dimas yang diangguki olehnya.
"Tak apa dokter Dimas. Ini lebih baik. Daripada saya tahu disaat saya sudah terlalu dalam menyukai anda, 'kan bisa gawat?" selorohnya yang disambut gelak tawa oleh semua orang terkecuali Kezia.
Karena Kezia sangat tahu seperti apa sifat Dimas yang selalu tidak tegaan terhadap sesama. Apalagi itu dokter Cathrine. Seorang gadis pemilik rumah sakit Health and Happy tempat Dimas bekerja selama kurang lebih lima tahun ini.
Setelah berpamitan pada semua orang, Dimas dan Papa Rian segera membawa pulang Kezia ke kediaman mereka.
Ke kediaman Papa Rian dan tante Riana. Karena tante Riana tidak mengizinkan mereka untuk pindah kerumah lain.
Tiba di kediaman tante Riana, si kembar sudah disambut dengan sepupu Dimas. Yaitu Geby. Putra dan saudara kembar mereka yang lainnya.
__ADS_1
Semuanya ikut bahagia bersama melihat putra Dimas yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari sambungan ponsel kini sudah bisa mereka peluk saking bahagianya.
Begitu pun dengan Kezia. Ia disambut hangat di dalam keluarga itu. Mereka berbicara sebentar sebelum istirahat.
Si kembar tidak sekalipun melepaskan Dimas. Kemana pun Dimas pergi, mereka ikuti. Kezia berulang kali mengatakan jika Papi mereka tidak akan pergi lagi.
Tetapi sikap keras kepala mereka bertiga yang sama seperti Kezia, membuat Dimas hanya bisa pasrah.
Si kembar tidur dengan memeluk Dimas sangat erat. Ada Demian di sisi Kiri, Dantias di sisi kanan sedang si cantik Diayunzia yang begitu mirip dengan Dimas dan Kezia kini tidur tengkurap di dada Dimas yang tidur terlentang.
Kezia hanya bisa menggeleng melihat nya. Dimas menatap sayu pada Kezia.
"Sayang.." panggil Dimas pada Kezia dengan memelas.
Kezia terkekeh kecil. "Biarkan mereka melepas rindu dengan Abang. Selama tujuh tahun ini sangat membuat mereka terluka karena tidak memiliki seorang papi. Dan kali ini, mereka bisa melihat dan memeluk tubuhmu sama seperti saat aku hamil dulu. Aku hanya bisa memeluk baju mu saja. Dan sekarang tidak lagi. Mereka darah daging mu bang Dimas. Lihatlah Dantias dan Demian. Keduanya begitu mengikuti paras tampanmu." Kezia tertawa melihat wajah Dimas yang semakin nelangsa karena tidak bisa bergerak walau hanya untuk berbalik saja.
Tetapi ia bahagia karena impian nya ini terkabul sudah. Bisa memeluk ketiga anaknya dan memeluk Kezia itulah impian nya selama lebih kurang hampir delapan tahun ini.
Dukungan dari kalian sangat berarti untuk othor! 😘😘
__ADS_1