
Batin kezia menatap sendu pada ketiga buah hatinya kini sudah besar. Kezia bisa bertahan hidup karena ketiga buah cintanya dengan Dimas.
Jika tidak, mungkin saat itu ia sudah tiada menyusul Dimas yang telah pergi dan tidak kembali lagi.
Kezia memaksakan senyumnya.
"Tak ada yang sama di dunia ini seperti Papi kalian bertiga. Jangankan kalian yang baru saja melihat figura Papi dirumah sangat ingin bertemu dengannya. Mami pun sama Nak. Mami sangat ingin bertemu dengan papi kalian bertiga.. Mami ingin meminta maaf atas kesalahan yang mami perbuat dulunya. Mami menyesal karena sudah membuat Papi kalian pergi dan tidak pernah kembali lagi.." lirih Kezia dengan tersedu.
Ketiga anaknya itu pun tersedu. Mereka segera memeluk Kezia dengan erat dan menangis bersama.
Ya, Kezia.
Dia adalah istri Dimas Anggara Barathayudha yang kini sudah dinyatakan tewas tujuh tahun yang lalu saat ia ke Jerman untuk mengikuti seminar dokter bedah.
Selama ini Kezia hidup hanya bersama ketiga anaknya saja. Seluruh rumah sakit Dimas, Kezia lah yang mengurusnya.
Sementara papa Rian lebih memilih pulang ke London dan menetap disana bersama adik dari istrinya.
Beliau tidak sanggup melihat kesedihan Kezia dan juga rasa sakit dihatinya akibat ulah Kezia putra tunggalnya bersama almarhum istri tercintanya kini sudah tiada.
Ia lebih memilih pergi daripada hidup bersama Kezia. Papa Rian mengalami stroke parah hingga tidak bisa berbicara lagi karena terkejut dengan fakta yang ia dengar tentang Dimas.
Sempat beliau membenci Kezia. Tetapi itu hanya sebentar. Saat ia tahu jika Kezia sedang hamil keturunan Dimas, rasa marah itu lunak seketika.
"Biarlah Dimas pergi. Tetapi Allah sudah memberikan gantinya sama kita. Yaitu anak kembar tiga Dimas yang saat ini begitu mirip dengannya."
Begitu dulu katanya saat beliau sudah berada di London selama tiga tahun menetap disana dan berangsur sembuh.
Kezia hanya bisa menangis mengingat semua perkatan Papa Rian dulu padanya.
__ADS_1
Kezia semakin tersedu mengingat hal itu. Hingga saat ini papa Rian masih betah tinggal di London bersama saudara kembar istrinya dan menjalani pengobatan disana.
Kabar terakhir yang Kezia dengar, jika beliau sudah sembuh total. Tetapi beliau tidak mengatakannya secara langsung.
Kezia sedikit kecewa. Tetapi Tak apa. Ia pantas mendapatkannya. Karena ke egoisannya lah Dimas pergi untuk selamanya hingga jasadnya pun tidak pernah ia lihat lagi.
Hari terakhir dimana mereka ribut, itulah kali terakhir Kezia melihat suaminya pergi dalam keadaan marah padanya.
Menyesal?
Ya, Kezia sangat menyesal. Jika saja waktu bisa di ulang kembali, maka ia tidak akan berbuat seperti itu pada Dimas.
Semua itu sudah berlalu saat ini. Seandainya ia masih diberi kesempatan, Kezia ingin meminta maaf kepadanya secara langsung.
Tetapi sayang, harapan tinggallah harapan. Tujuh tahun hidup dalam harapan jika suaminya masih hidup harus pupus saat Papa Rian mengatakan kepada ke tiga anak nya jika Dimas memang sudah pergi untuk selama-lamanya.
Apa yang Kezia bisa perbuat selain hanya bisa pasrah?
*
*
London.
Di sebuah ruangan bernuansa putih terlihat seorang pemuda sedang menangani seorang pasien yang baru saja ia operasi tadi malam.
Ia memeriksa semua alat yang menempel di tubuh pasiennya kemudian berkata kepada perawatnya.
Setelah selesai, ia pun keluar dan menuju ke ruangan nya di mana sang papa yang kini sedang menunggu nya bersama seorang gadis yang begitu ia kenal.
__ADS_1
"Abang!" panggilnya dengan riang
Tetapi lelaki itu hanya menjawab hem saja. Sang papa terkekeh melihat wajah merengut keponakannya itu.
"Sudah selesai?"
"Sudah," jawabnya singkat saja.
Sang papa Tersenyum melihatnya. "Geby!"
"Iya pa.." jawabnya lemas.
Sang papa tertawa. "Jangan begitu ah! Biarkan saja abang mu itu! lebih baik kamu keluar beli makanan. Papa lapar!" katanya pada sang keponakan dan diangguki dengan antusias oleh nya.
"Tentu! Minta uangnya Bang! Jangan pelit kamu sama sepupu sendiri! Gaji kamu dirumah sakit ini bisa membeli satu buah rumah sakit yang ada di Jakarta!" ketusnya sambil menadahkan tangannya dihadapan Abang sepupunya ini.
Sang papa tertawa. Lelaki tampan yang semakin tampan di usia nya yang cukup matang itu menghela nafas berat.
"Jangan kembali sebelum uang itu habis!" ketusnya yang di jawab dengan decakan oleh sang sepupu.
Ia pun segera keluar dari ruangan itu dan menuju kantin rumah sakit dimana abang sepupunya bekerja selama lima tahun ini.
Sang papa menatapnya dengan sendu. "Sampai kapan Nak? Sampai kapan kamu menyembunyikan dirimu dari istri dan anak mu? Tidakkah kamu kasihan melihat ke tiga anak mu yang begitu merindukan sejak tujuh terakhir ini??" tanya sang papa padanya yang dibalas dengan helaan nafas panjang.
"Tanpa aku menjawabnya pun papa tahu jawaban nya."
Lagi, sang papa menghela nafasnya. "Apakah kamu sengaja menghukumnya seperti ini Nak?"
"Tidak."
__ADS_1
"Lantas?"
Lelaki berparas tampan itu menatap sang papa dengan sendu. "Aku ingin memenuhi permintaan nya papa. Permintaan terakhir yang sangat melukai hati dan persaaanku. Walau dia tahu aku sangat mencintainya hingga saat ini, tapi ia tetap meminta ku pergi. Salahkah aku yang menuruti permintaannya?"