
Setelah kejadian itu, kini mereka sedang berbahagia. Karena masa-masa kehamilan Kezia ini dipenuhi dengan Drama dimana Dimas yang mengidam.
Ada saja ulah Dimas agar ngidam nya itu di turuti. Yang membuat Kezia kewalahan. Serta papa Rian yang kehabisan cara membujuk Dimas agar tidak menyuruh Kezia untuk membeli makanan yang jaraknya sangat jauh dari rumah mereka.
Tetapi setelah mendapatkan nya dimas malah tidak mau makan. Sekali dua kali masih Kezia maklumi. Tetapi ini sudah hampir lima bulan.
Kesal, Kezia tinggal bersama Kenan dan Bella. Tiap kali Dimas mengajakanya pulang dan ingin menemuinya Kezia menolak. Kezia masih kesal padanya.
Jadilah keduanya terpisah. Bahkan sudah berapa bulan kehamilan Kezia ini, Dimas tidak pernah mendapatkan jatahnya lagi.
Dimas menajdi uring uringan dibuatnya karena hasrat yang tidak tersalurkan gara-gara ngidamnya itu.
Bukanlah salahnya sampai haru mengidam sedemikain rupa hingga Kezia yang menajdi sasarannya. Seharusnya Dimas kan yang begitu?
Tetapi ini terbalik. Dimas yang pusing mual dan muntaha tiduran dirumah. Sementara kezia yang keliling mencari makanan yang Dimas inginkan. Setelah di dapatkan, Dimas sudah tidak ingin lagi.
Malah Kezia yang menghabiskan semuanya sambil menangis. Dimas mah cuek aja. Malahan dirinya sibuk mengemil keripik kentang buatan Pak Usman.
Dari sanalah keduanya berjarak. Kezia yang sellu disuruh kesana kemari. Sedang Dimas tiduran dirumah.
Kezia lebih memilih pergi dan tidak akan emngikuti kemauan nya lagi. Kezia baru sadar, ketika ia hamil dulu, sepeti itulah rasanya mengidam yang digantikan oleh Kenan demi memenuhi keinginannya.
Kezia sadar itulah balasan untuknya. Ia ingin menunggu Dimas saja untuk melihat perkembangan nya seperti apa.
Apakah masih sama atau sudah berubah. Itulah yang Kezia tunggu saat ini.
Saat ini kehamilan Kezia sudah memasuki lima bulan. Sudah dua bulan terhitung sejak ia meninggalakan Dimas.
Rindu itu pasti ada. Tetapi mengingat kelakuan Dimas yang seperti mengerjainya, ia malah enggan untuk pulang. Tetapi ia kali ini tidak bisa menahan lagi.
Kezia begitu merindukan bau harum tubuh Dimas yang baru saja pulang bekerja dan belum mandi. Keinginan yang dulu pernah terjadi ketika hamil si kembar tiga, kini terulang kembali.
Kezia pulang seorang diri pukul sepuluh malam tanpa diketahui oleh Kenan dn Bella yang sudah terlelap.
Ia berjalan sedikit kepayahan karena perutnya itu sudah melebihi kapasitas bobot tubuhnya. Tubuh Kezia yang dulu nya begitu ramping saat bertemu Dimas, kini malah semakin gemuk karena selera makannya itu yang sangat kuat karena hamil empat anak sekaligus.
Dari kejauhan satpan bisa mengenali jika itu Nyonya mereka. Secepat kilat ia berlari ke dalam dan mengambil kursi roda yang sudah di siapkan khusus untuknya.
Satpam itu segera mendekati Kezia dan memebawanya kerumah mereka dengan duudk di kursi roda khusus untuknya.
Baru saja pintu gerbang itu tertutup suara klakson mobil Dimas pun terdengar. Kezia tersenyum semringah membuat penghuni didalam mobil itu tertegun sejenak, setelahnya ia segera turun dan menghampiri Kezia yang sangat kepayahan untuk menyambutnya.
"Sayang.."
Ia segera memeluk Kezia dengan erat. Dimas melabuhkan banyak kecupan di wajah Kezia. Sedang Kezia menagis tersedu di ceruk leher yang begitu ia rindukan bau tubuhnya. ( Kayak othor hamil dulu gini nih.😅 )
Dimas tidak marah. Ia malah senang diperlakuakn seperti itu oleh Kezia walau sedikit geli sih.
__ADS_1
Keduanya pun segera masuk ke rumah setelah Kezia duduk dan di dorong Dimas menggunakan Kursi Roda. Papa Rian yang melihatnya dari balkon atas tersenyum sekaligus terkekeh melihat kedua orang itu.
*
*
Hari-hari yang keduanya nikmati semakin bahagia. Tinggal menunggu hari kelahiran saja saat ini. Kehamilan Kezia yang semakin besar sangat membuatnya kepayahan untuk berjalan dan beraktivitas karena perutnya syang semakin membesar.
Bagaimana tidak, berat ke empat anaknya itu sekitar 2400 gram per orangnya. Ditambah tiga orang lagi.
Kezia begitu kewalahan menghadapinya. Ia keseringan sesak nafas karena pergerakan anaknya yang semakin sempit. Pernah seklai Kezia pingsan dan tidak sadarkan diri karena paru-parunya tertekan.
Beruntungnya saat itu ada Dimas, jadi ia selamat. Kenan menyarankan Kezia untuk melakuakn operasi saja.
Tapi Kezia tidak mau. Ia ingin lihat dulu perkembangan tubuhnya kuat atau tidak. Sekiranya tidak, baru ia melakukan operasi.
Dan benar saja seperti saran Kenan. Bella harus di operasi. Karena saluran pernapasan nya begitu sempit dan sulit untuk menarik nafas ketika ingin mengedan ke empat anaknya.
Dimas setuju untuk itu. Ia segera tanda tangan. Dan disinilah keduanya berada saat ini. Mereka berdua sedang diruang operasi.
Kezia hanya di bius separuh saja. Dengan Dimas sendiri yang melakukan operasi padanya. Awalnya gugup. Tetapi setelah Dimas mengatakan jika itu demi ke empat anaknya, Dimas bisa.
Seumur hidupnya baru kali ini melakukan pembedahan pada istrinya sendiri. Itu pun karena Kezia melahirkan dengan cara operasi. Sekian banyak pasien melahirkan yang ia tangani. Baru kali ini ia menangani istrinya sendiri.
Operas itu berjalan dengan lancar. Karena yang berada di sekitarnya dokter wanita dan juga operawatnya itu wani semua.
Hanya dirinya dan Kenan yang lelaki. Itupun mahram Kezia. Maka dari itu Dimas nekad melakukan operasi itu pada istrinya.
Satu jam setengah berlalu, suara melengking dari ke empat anak Dimas pun terdengar. Dimas menagis kala mengambil anaknya sendiri dari rahin istrinya.
Ia mengecup seluruh wajah basah itu satu persatu. Semua yang melihatnya terharu termasuk Kezia. Ia meminta Dimas untuk membuka penghalang yang ada di batas dadanya agar ia bisa melihat Dimas dan ke empat anaknya.
Kezia menangis terharu kala meliha Dimas membuka maskernya mengecup wajah ke empat anaknya yang masih belum dibersihkan itu hingga ke empatnya keluar semua.
Empat jam berlalu.
Kini mereka sudah berkumpul diruang rawat inap. Semua keluarga sudah berkumpul termasuk Papa Reza dan mama Rani sedang menggendong du cucu mereka.
Si kembar D pun ikut senang melihat adik bayinya. Dimas tertawa saat Kenan menggodanya.
"Gimana? Enak bedah perut istri sendiri yang ada anak kamu di dalamnya?"
Dimas terkekeh, "Awalnya iya sih. Takut banget saat pisau itu menyayat perut Key. Takutnya ketiga anakku terluka. Tetapi kakak ipar serta dokter Dian menenangkan aku. Terimakasih buat kalian hari ini yang telah membantuku mengeluarkan dua jagoan dan dua peri cantikku ini." Dimas mengecup si bungsu yang kini ada di gendongannya.
Semuanya mengangguk.
"Mirip sekali dengan mu, Mas yang sulung. Yang kedua mirip Demian Dan Dantias. Yang ketiga mirip.. Kamu besan!"
__ADS_1
"Heh? Kenapa dengan saya Tuan Reza?" seriu papa Rian terkejut.
Dimas terkekeh, "Benar yang ketiga kan laki-laki? Mirip sama papa. Lah wong gen Papa!"
Semuanya tertawa.
"Dan yang terakhir, Kezia kedua! Lihatlah. Semuanya mengambil wajah Kezia. Mirip sekali ketika Kezia lahirr dulu. Iya nggak Mas?"
Dimas tersenyum dan mengangguk. "Iya Ma. Putri bungsuku ini titisan Kezia yang kedua. Tak hanya wajah pastilah sikap keduanya pun sama. Tapi ada satu yang di ikutinya dariku."
"Apa itu?"
"Sifat mengalah dan penyabar diriku pasti menurun padanya kelak. Semoga jadi anak sholehah ya sayang papi.. Cup." Dimas kembali mengecup dahi putri bungsunya itu dengan dalam.
Kezia tersenyum,. "Berikan nama yang bagus untuk ke emaptnya bang. Dulu kami semua sudah memberikan nama untuk si kembar D. Sekarang giliran mu. Karena ini kehamilan kedua sekaligus terakhir ku bukan?"
Dimas mengangguk dan tersenyum. "Semua itu demi kebaikan mu. Sudah cukup tujuh orang anak yang lahir dari rahim mu. Sudah melewati slogan dua anak lebih baik!"
Semuanya terkekeh.
"Baiklah.. Ppai akan ulang dulu dari nama Abang dan kakak kalian ya.
1. Ada Demian Anggara Barathayuda.
2. Dantias Anggara Barathayuda.
3. Diayunzia Anggara Barathayuda.
4. Muhammad Anggara Barathayuda.
5. Mahira Anggara Barathayuda.
6. Alfarizki Anggara Barathayuda.
7. Putri Bungsu ku yang sangat mirip mami Kezia papi beri nama Mazzia Anggara Barathayuda.
Kalian semua kebanggaan mami dan papi. Semoga kalian menjadi anak yang sholeh dan sholehah bisa menajdi penuntun kami dihari tua dan juga perisai kami kelak di akhirat."
"Amiiieenn.."
Semuanya mengaminkan apa yang Dimas panjatkan.
Selesai sudah penantian Dimas dalam Mengejar Maaf sang Istri yaitu Kezia. Kini kehidupan mereka semakin lengkap dengan kehadiran amanah yang di titipkan kepada mereka.
Dimas dan Kezia sudah berbahagia untuk selamanya..
...Jika masih bisa memaafkan, lebih baik memaafkan daripada harus memelihara dendam. Mana yang lebih besar? Rasa cinta atau benci yang bersarang di dada hingga sulit untuk memaafkan? Lebih baik dimulai dari sekarang walau sulit tetapi berakhir bahagia. Daripada tidak sama sekali....
__ADS_1
...Dimas & Kezia....
...TAMAT...