
Setelah dirasa cukup untuk menangis keduanya pun kini sedang melakukan sholat isya sekaligus sholat sunnah setelah menikah.
Dimas sangat bahagia saat ini. Begitu pun dengan Kezia. Tetapi ada sesuatu yang ia pikirkan dan sangat mengganggu pikirannya saat ini.
Ingin mengatakannya pada Dimas tetapi takut salah. Dan lagi ia belum bisa memberikannya kepada Dimas karena suatu hal.
Dimas tersenyum saat melihat Kezia yang melamun. Tangan kekar nan hangat itu segera menyentuh pipi halus Kezia yang membuat sang istri tersentak kaget.
Kezia tersenyum, "Maaf bang. Aku melamun." Ucapnya pada Dimas yang diangguki ole Dimas.
Dimas menatap lekat wajah Kezia yang masih gelisah. Ia tersenyum. Seakan Dimas tahu apa yang Kezia pikirkan saat ini.
"Jika kamu belum bisa atau pun tidak bisa memberikan nya sama Abang, tak apa. Abang akan menunggu."
Deg!
Deg!
__ADS_1
Kezia gelagapan. "Bu-bukan begitu Bang. Hanya saja-,"
"Sudah, tak apa. Abang maklum kok. Ayo kita tidur!" potongnya dengan segera bangkit dan tersenyum pada Kezia yang ikut bangkit mengikuti Dimas ke ranjang mereka.
Kezia merasa bersalah dengan kelakuannya yang menurut Dimas menolaknya.
"Dengarkan adek dulu, Bang. Bukan maksudku menolakmu. Hanya saja aku tidak bisa untuk saat ini.." lirih Kezia merasa bersalah pada Dimas yang kini menatapnya dengan lekat.
Ia tersenyum lagi. "Tak apa sayangku, cintaku, istriku. Dengan kamu bisa memberikan maaf untuk Abang saja itu sudah cukup! Abang nggak akan meminta hak Abang padamu sekarang. Abang akan menunggu sampai kapan pun itu!" balasnya yang membuat Kezia semakin merasa bersalah.
Ia menatap lekat pada wajah Dimas yang saat ini begitu sendu terlihat dimatanya. Padahal tidak. Dimas hanya lelah dan ingin tidur.
Wajah itu merah merona seketika hingga ke telinganya.
Dimas tertawa. Ia sangat gemas dengan istrinya ini. Sedari dulu hingga saat ini, Kezia masihlah tetap sama.
Ia akan malu jika membeicarakan hal itu dengan Dimas. Dan Dimas maklum akan hal itu. Ia tersenyum lembut pada Kezia.
__ADS_1
"Tak apa sayang.. Abang akan sabar menunggu. Sampai kapan pun itu Abang akan menunggu! Karena Abang tahu, kamu memang tidak bisa melakukannya."
Kezia menatap lekat pada Dimas yang kini masih tersenyum padanya. "Beneran?? Abang nggak marah? Abang ridho kan ya? Jangan sampai aku berdosa lagi setelah ini."
Dimas menggeleng, ia menarik lembut tangan Kezia dan mendudukkan nya di pangkuan nya. Ia membelai pipi halus Kezia.
"Abang nggak pernah marah sama kamu, sayang. Kamu tahu itu. Abang tidak pernah bisa marah padamu. Karena kelemahan Abang ada padamu. Jadi.. Jangan merasa jika Abang tidak ridho padamu. Untuk hubungan suami Istri, kita bisa melakukannya kapan pun asal kamu sudah bersih. Untuk sekarang.. Mari kita tidur. Abang kangen banget sama kamu. Ingin tidur sambil memelukmu.. Cup." Dimas mengecup pipi, kening dan putik ranum Kezia yang membuat gadis itu mematung seketika saat Dimas menyesapnya untuk pertama kalinya.
Kezia yang memang merindukan Dimas ikut membalas paguutan itu walau terlihat masih kaku. Begitu pun dengan Dimas.
Ingin sekali ia memperdalam paguutan nya itu. Tetapi itu tidak mungkin. Karena Kezia tidak bisa.
Tidak bisa dalam artian masih dalam keadaan haid atau datang bulan. Dimas sudah biasa bersabar. Jika hanya untuk menunggu seminggu lagi itu tidak masalah bukan?
Selama ini ia sudah lama menunggu Kezia agar mau menerima nya.
Baginya, Kezia sudah mengizinkan nya dan sudah menerimanya saja suda cukup. Untuk hal penyatuan, kapan pun bisa mereka lakukan jika Kezia sudah suci nanti.
__ADS_1
...****************...
...Marhaban ya Ramadahan. Selamat menunaikan ibadah Puasa bagi yang menjalankannya. 🙏🙏 Tetap jaga kesehatan ya. Agar puasa kita ditahun ini penuh dan pahalanya berlimpah ruah. Amiinn.....