Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Sadar diri


__ADS_3

"Hahahaha... Ulet keket? Hahahaha..." suara gelegar tawa dari luar membuat orang-orang di dalam rumah saling pandang.


Dimas yang duduk di dekat jendela bersama rayyan dan Kenan terkekeh-kekeh melihat kebersamaan ketiga orang diluar sana.


Entah apa yang mereka tertawakan, ketiga nya pun tidak tahu. "Jika melihat mereka tertawaseperti itu, kita sebagia seorang laki-laki yang sudah menikahi mereka mersa bahagia. Karena melihat mereka tertawa seperti itu merupakan kebahagiaan bagi kita." Ucap Kenan dengan mata amsih mentapa Bella diluar sana.


"Kamu benra Ken. Abang pun demikian. Seorang istri akan bahgai tergantung dari suaminya. Jika suami bisa membuat istri bahagia akan bertambah pahala kita sebagai seorang suami. Pahala yang tiada putusnya ialah melihat senyum seorang istri. Seorang istri itu tergantung suaminya." Jelas Rayyan yang membuat Dimas menundukkan wajahnya dengan seketika menjadi sendu.


Rayyan pun mengatupkan mulutnya rapat. Kenan menghela nafasnya. "Sabar Mas.. Berusahalah untuk menjemput maaf nya. Untuk sekarang, biarkan ia sendiri dulu." Ucap Kenan sambil menepuk lembut nahunya dengan pelan.


Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Rayyan jadi merasa bersalah karena ucapannya itu.


"Maaf Mas.. Bukan maksud Abang,"

__ADS_1


Dimas tersenyum melihat Rayyan, tetapi Rayyan tahu jika senyum itu senyum palsu. Senyum yang terpaksa Dimas tunjukkan demi menutupi rasa dihatinya saat ini.


"Tak apa Bang. Aku sadar kok. Diri ini masih bersalah dan berdosa padanya. Aku sadar diri kok." Kata Dimas yang membuat Rayyan semakin merasa bersalah.


"Maaf, Dek.." ucap Rayyan yang membuat Dimas terkekeh kecil melihat wajah Rayyan yang sedih seperti itu.


"Abang kenapa? Kok yang kayak sedih gitu?" Dimas terkekeh kecil melihat wajah sendu Rayyan yang memang terlihat jelas.


Dimas terkekeh lagi. "Udah ah! Kenapa pula Abang yang jadi sedih begitu? Yang luka aku, yang sedih juag aku. Kenapa pula Abang yang bersedih begitu?" kata Dimas lagi yang membuat Kenan tertawa karena melihat wajah sendu Rayyan.


Kenan menepuk pelan bahu Dimas. "Yang kuat dan sabar menghadapi adik kecil ku itu. Kezia bukanlah gadis yang keras kepala. Tetapi itulah yang namanya perempuan. Pantang jika hatinya terluka, maka untuk menyembuhkan luka hatinya. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka hatinya. Bersabarlah."


"Iya Bang. Tenang saja. Aku pasti akan bersabar untuk itu. Untuk hal itu sudah aku pikirkan caranya seperti apa."

__ADS_1


"Bagus! Kamu harus kuat dan sabar menjalani pernikahan mu. Ini adalah salah satu ujian untukmu dan Kezia." timpal Kenan lagi.


Dimas mengangguk dan tersenyum. Mereka kembali menatap ke bawah sana dimana para istri mereka saat ini amsih saja tertawa.


Entah apa yang mereka tertawa kan, mereka bertiga pun tidak tahu. Yang jelas, untuk sesaat mereka bertiga bisa melihat senyum dan suara Kezia yang berapa hari ini hanya diam saja.


Berkat Bella dan Cinta, Kezia bisa tertawa lagi.


"Hahaha.. Kamu tidak tidak Kak? Saat si ulat keket itu mengatakan jika dia begitu mencintai Dimas, Ingin sekali kakak menghajarnya. Tapi sayang, jika kakak tidak melihatnya. Hanya melihatnya dari rekaman saja. Jika Kakak disana, pastilah kakak yang akan menghajar wanita siluman ulat bulu itu!" ketus Belal lagi


Cinta dan kezia hanyabisa tertawa mendengar ucapan Bella. Bella melirik ke jendela dimana ada Rayyan Dimas dan Kenan yang saat ini sedang melihat mereka.


Bella mengangguk dan tersenyum lirih melihat mereka tersenyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2