
Dua jam perjalanan kini semua nya sudah tiba di bandara. Ternyata Kenan dan Bella sudah menunggu mereka semua.
Pesawat akan berangkat dalam waktu setengah jam lagi. Mereka tiba tepat waktu. Tiba di sana, mereka langsung saja melaukan take off karena panggilan suara dari pengeras suara tentang pesawat dengan tujuan Medan Jakarta akan segera berangkat.
Semuanya masuk ke dalam pesawat. Dimas mengedarkan pandangan nya ke sekeliling untuk mencari Kezia. Tetapi yang dicari tidak terlihat juga.
Kenan yang tahu jika Dimas sedang mencari adiknya segera mendekati Dimas. "Masuklah. Kezia sedang istirahat di dalam. Kelas ekonomi." Ucap Kenan yang membuat Dimas segera masuk ke dalam pesawat untuk mencari Kezia.
Ia berjalan sedikit tergesa da melihat di tepi dinding terlihat jika Kezia sednag terlelap. Tetapi Dimas mengernyitkan dahinya saat melihat seorang pria duduk di dekatnya sambil menatap dalam pada Kezia.
Siapa pemuda itu? Batinnya bergejolak marah saat melihat tangan pria itu mengusap kepala Kezia.
Dimas mengepalkan tangannya. Wajahnya mendadak dingin dan datar seketika. Tubuh jangkung itu tidak beranjak sedikitpun dari sana.
Ingin sekali ia mendekati Kezia, tetapi ia tidak berani. Dirinya dan Kezia masih bermasah saat ini. Dimas tidak ingin mencari masalah baru lagi yang membuat Kezia akan semakin membencinya.
__ADS_1
Yang lalu saja belum di maafkan? Dan sekarang ingin tambah baru lagi??
Nggak. Itu nggak boleh terjadi. Dengan terpaksa Dimas hanya mengetatkan rahangnya saat melihat pemuda itu semakin leluasa pada Kezia.
Kenan dan Bella yang baru saja masuk ke dalam pesawat itu mengernyitkan dahinya melihat Dimas berdiri mematung dengan tangan terkepal erat hingga kedua tangan itu memutih saking kuatnya kepalan tangan itu.
"Duduk Mas. Kezia sendirian- loh??" ucapan Kenan terhenti saat melihat seorang pemuda sedang mengelus hijab Kezia dengan penuh perhatian.
Kenan meradang. Ia ingin mendatangi pemuda itu, tetapi Bella melarangnya. "Awas Abang! Pemuda itu santapan ku!" ketusnya sembari berlalu mendekati Pemuda yang saat ini sedang tersenyum lembut pada Kezia.
"Siapa kamu!" ketus Bella yang membuat pemuda itu ingin mencium kening Kezia terlonjak kaget.
Ia menoleh,
Deg!
__ADS_1
"Do-dokter Bella!"
"Ya, ini saya! Kenapa?! Nggak suka kamu?! Ngapain kamu di dekat saudara ipar saya? Kamu ingin berbuat senonoh iya?" tuduh Kezia yang membuat Kenan dan Dimas melotoykan matanya setelah itu mereka tertawa saat pemuda itu gelagapan melihat Bella.
"Kenapa kamu?! Yang kayak orang terkejut saja. Benar kan dugaan saya?! Kamu ingin melecehkan ipar saya?! Huh?!" seru Kezia yang membuat pemuda itu semakin ketakutan melihat wajah masam Bella padanya.
Kenan dan Dimas tertawa. Dengna segera keduanya duduk dibarisan yang tepat di belakang Kezia saat ini berada.
"Bu-bukan begitu do-dokter!" jawabnya tergagap yang membuat Bella semakin tidak menyukai kehadiran lelaki yang entah siapa itu.
Tetapi pemuda itu mengenalnya.
"Minggir kamu! Saya tahu bukan disini kursi kamu! Keluar atau??" ancam Bella dengan wajah datar dan dinginnya.
Pemuda itu ketakutan. Ia segera berdiri dan menuju kursinya yang ada di depan sana. Tepat dihadapan kedua orang tua Kezia yang kini sednag terkekeh melihat tingkah Bella yang terkesan sangat galak dalam menjaga Bella.
__ADS_1