Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Bonchap 8


__ADS_3

Tiga bulan berlalu sejak kejadian itu, kini ketiga anak Dimas dan Kezia semakin membuatnya pusing tujuh keliling.


Bagaimana tidak. Keduanya di pusingkan dengan ulah si kembar yang menuntut mereka meminta adik yang sudah bisa jalan.


Tidak siang, malam, hingga pagi lagi saat sarapan begitu saja. Itu-itu saja yang dibahas olehnya. Sampai Kezia pusing dibuatnya.


Jika bukan karena Dimas, Kezia sudah memarahi kedua nya.


"Sudahlah sayang.. Mereka masih anak-anak. Mereka itu belum tahu tentang bayi, sayang."


Kezia mendengkus kesal. "Tapi ya jangan di ingatkan teruslah. Mami pun capek loh mikirnya! Kalian pikir bisa langsung ada bayi bisa jalan bisa ngomong begitu?!" Ketus Kezia dengan segera berlalu meninggalkan ke tiga anaknya yang kini menyengir melihat sang mami pergi dengan wajah masam pada mereka semua.


Dimas terkekeh kecil melihat istrinya. "Papi kerja dulu ya. Jangan nakal. Nanti Om Jimmy yang antar kalian semua."


"Siap Papi!" jawab ketiganya kompak.


Dimas pun segera berlalu. Sambil bibir terus menyunggingkan senyum, ia mengernyitkan dahinya saat merasakan pusing mendera kepalanya lagi.


Sambil memegangi kepalanya ia terus berjalan melipir di sisi dinding menuju keluar dimana Kezia sudah menunggunya.


Dimas memijit tengkuknya yang mendadak tidak enak. Kepalanya berputar dan mata terpejam. Pak Usman yang tidak jauh berada dengannya pun mendekatinya.


"Ada apa Tuan? Anda butuh sesuatu??" tanya nya pada Dimas yang masih berusaha mengurut pelipisnyayang semakin berdenyut pening.


"Ambilkan saya obat yang ada di kotak Obat, Pak. Mendadak pusing kepala saya." Jawabnya pada Usman yang mengangguk dan segera berlalu.

__ADS_1


Dimas melipir lagi. Ia berusaha kuat untuk bisa menuju ke depan dimana Kezia sudah menunggunya.


Tak lama Pak Usman datang dengan sebutir Obat yang selalu Dimas minum jika ia sering pusing seperti itu. Setelah menenggaknya ia pun seegra berllau setelah mengucapakna terimakasih pada Pak Usman.


Pria paruh baya itu tersenyum melihat Dimas berlalu.


Tiba diluar Kezia terkejut melihat Dimas memegang pelipisnya seperti itu.


"Abang kenapa?" tanyanya sedikit panik.


Dimas tersenyum, "Tak apa sayang. Bisa, sakit kepala kambuh ya begini. Kmau aja yang nyetir? Abang butuh waktu untuk istirahat walau hanya dua puluh menit saja. Pagi ini ada Operasi yang tidak bisa di tinggal lagi." Jawabnya tetap meringis.


Kezia menuntun Dimas untuk masuk ke mobil. Tiba di dalam Dimas memejamkan kedua matanya. Entah apa yang terjadi dengannya. Tiap kali menghirup aroma tubuh Kezia ia langsung saja terlelap.


Kezia yang melihat itu memegang urat nadinya. Dan Juga membuka matanya yang sudah terpejam. Tak ada reaksi apapun.


Benar saja kata Kezia. Butuh waktu tiga puluh menit untuk Dimas tidur, setelahnya ia kembali bugar.


Ia mengucapkan terimakasih sebelum pergi meninggalkan Kezia yang mematung melihat keadaan Dimas seperti itu.


Kezia yang sudah memiliki jadwal pun segera turun untuk mulai melakukan apel pagi untuk semu staf dan juga perawat yang ada disana.


Malam harinya di kediaman Dimas dn Kezia.


Saat ini Kezia sedang panik, pusing, khawatir memikirkan Dimas yang belum pulang juga ada kabar beritanya. Satu harian ini ia tidak bertemu Dimas karena ia visit kerumah sakit satu lagi.

__ADS_1


Jadi ia tidak tahu seperti apa keadaan Dimas saat ini. Kezia berjalan mondar mandir tidak tentu arah.


"Diam atuh mami! Capek kami lihatin mami kayak begitu!" celutuk Dantias sedikit kesal karena sedari tadi maminya terus saja jalan maju mundur cantik.


"Hooh, bener itu! Mami belum jawab ucapan kami! Mana adek yang kami mau? Yang sama kayak Adek Kamidya?" tambah Diayunzia.


Kezia tidak menjawab. Ia masih kahawatir Dimas dimana. Perasaannya tidak bisa dipungkiri. Batinnya mengatakan jika Dimas saat sedang dalam masalah.


"Mami! Jawab dulu ih!" kesal Diayunzia memaksa Kezia untuk menjawab pertanyaannya tadi.


Kezia tidak peduli. Sesekali ia memegang ponsel menghubungi Dimas tetapi tidak juga tersambung.


Coba lagi. Begitu juga. Hingga ia semakin panik saja. Dantias yang semakin kesal karena maminya tidak menjawab, segera bangkit dna menarik snag mami untuk duduk di dekat mereka.


"Duduk! Mami harus jawab pertanyaan kami! Sudah hampir empat bulan kami menunggu jawaban dari mami tentang adek bayi? Mana? Kan kami bilangnya dalam tempo satu bulan? Kenapa ini jadi lewat begini? Mami!" seru Dantias sedikit keras hingga membuat Kezia tersentak kaget dari lamunan nya.


"Apa? Kenapa? Apa yang kalian butuhkan? Hem?" tanya Kezia melenceng dari pertanyaan Dantias yang berwajah masa padanya karena pertanyaan nya sedari tadi terus saja diabaikan oleh sang mami.


"Mami! Mana janjinya? Katanya kami mau diberikan adek bayi yang kayak adek Kamidya! Mmai ingkarkan? Nggan mau menuhi keinginan kami kan?" seru Diayunzia pula.


Sedang Kezia kinisemakin cemas hatinya saat ponsel yang ia pegang bergetar menunjukkan sang pemanggil disana.


"Hallo Bang. Mana Bnag Dimas? Kenapa belum pulang-,"


"Dengarkan kami dulu mami! Sedari tadi mami terus tidak memperdulikan kami? Man janji mami yang akan memberikan kami adek bayi dalam waktu satu bulan? Ini sudah lewat mami!!"

__ADS_1


Deg!


__ADS_2