Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Kekecewaan Cinta pada Kezia


__ADS_3

"Tenang dulu Dek. Kezia tidak akan pergi ke kalimantan! Percaya sama Abang. Hem?" ucap Rayyan selembut mungkin agar Dimas tidak kembali memberontak.


"Hiks.. Beneran?" tanya nya dengan wajah yang masih basah dengan air mata.


Rayyan mengurai pelukannya dan tersenyum sendu pada Dimas. Walau ia tidak yakin, tetapi ia wajib berusaha setelah ini untuk melarang Kezia pergi.


Demi Dimas, adiknya. Walau tidak sedarah, tetapi ia sangat menyayangi Dimas sama seperti dua adiknya yang lain.


Dimas mengusap air mata Rayyan dan juga di wajahnya sendiri. "Keziaku tidak jadi pergi. Abang udah janji sama aku. Jangan ingkar Bang Ray!" tegasnya pada Rayyan yang kini tersenyum dan mengangguk padanya.


"Abang nggak akan ingkar Dek. Adakah selama ini Abang ingkar sama kamu, Mas?"


Dimas menggeleng. "Aku sayang sama Abang! Hanya Abang yang tahu seperti apa luka hatiku. Cukup dulu aku merasakan hidup dalam rasa bersalah. Tetapi tidak lagi kali ini. Cukup sudah aku menanggungnya sendiri. Aku hidup, tetapi seperti batu yang bernafas. Tidak ada kebahagiaan di dalam hidupku hingga Kezia hadir dan Abang kembali padaku.." lirihnya dengan segera memeluk Rayyan yang kini sudah tersedu karena ucapannya.


Semua yang melihat dan mendengarnya pun ikut tersedu. Untuk sesaat Rayyan bisa membuat Dimas tenang. Entahlah dengan nanti.


Setelah melihat Dimas tenang dan kembali tidur, Rayyan dan semua orang keluar dari kamar untuk membicarakan hal ini pada mereka semua apa dan bagaimana dengan semua ini.


Cinta yang sudah terlebih dahulu keluar, dengan segera menghubungi nomor Kezia.


Rayyan melihat Cinta yang kini sedang menghubungi seseorang segera mendekati istrinya yang sedang hamil muda sebaya dengan kehamilan seseorang yang ia hubungi saat ini.


"Sayang!" panggilnya, Cinta berbalik dan meletakkan satu jari di mulutnya pertanda Rayyan harus diam dulu karena ia sedang berbicara dengan seseorang.


Cinta menyuruh Rayyan untuk di dekatnya dan sambungan ponsel itu pun ia besarkan.

__ADS_1


"Hallo kak, Assalamau'alaikum.." sajut suara yang sangat Rayyan kenal.


Cinta tersenyum, "Waalaikum salam Bella. Mana Kezia? Udah bangun?"


"Belum kak- eh udah ini. Baru aja sadar!"


"Sykurlah kalau begitu. Kita beralih ke sambungan video call ya?"


"Oke!" sahut Bella dengan segera mengubah panggilannya menjadi panggilan video call.


Bella tersenyum pada Cinta dan Rayyan yang kini sedang menatap mereka bertiga.


"Apa kabar Ken?" sapa Rayyan lebih dulu


"Alhamdulillah kami sehat. Hanya saja ada seseorang yang saat ini kurang sehat karena hatinya sudah separuhnya pergi, bukan separuh sih tetapi semuanya hingga ia seperti orang yang tidak waras saat ini. Hanya karena Abang bisa menenangkannya, saat ini ia sedang tidur."


Kezia yang mendengarnya hanya bisa terdiam, tetapi air mata itu terus beruraian. Cinta terkekeh, Rayyan melirik istrinya.


"Sayang?" Cinta menoleh padanya


Deg!


Rayyan terkejut sekaligus terdiam.


Kenan dan Bella keheranan saat melihat tingkah kedua oarng itu yang mana mereka saling bertatapan tetapi wajah Rayyan terlihat begitu terkejut.

__ADS_1


Cinta berbalik dan..


Deg!


"Kak Zahra!" seru Kenan


Deg!


Spontan saja Kezia mendongak ke ponsel yang kini Bella sandarkan di sebuah botol air minum di dalam kamarnya.


"Kakak?" beo Kezia


Wajah itu pun begitu terkejut melihat wajah Cinta yang kini benar-benar mirip seperti Alamarhum Zahra jika sedang marah.


Mata tajam, wajah datar dan dinginnya bisa membekukan siapa pun.


"Kenapa?"


Deg!


Bahkan suaranya begitu mirip dengan suara Zahra. Ketiga orang itu begitu mengenal suara itu.


"Kenapa? Kenapa kamu berubah Dek? Kenapa?? Kenapa kamu buat suami kamu jadi menderita seperti itu? Hem? Tidakkah kamu tahu jika suami kamu sudah seperti orang tidak waras karena kepergian kamu? Bisa tidak jangan bertingkah seperti anak-anak lagi! Kamu sudah dewasa sayang. Kamu udah menikah dan sudah menjadi seorang istri. Tidakkah kamu sadar jika perbuatan kamu itu sudah menyakitinya untuk yang kedua kalinya? Kamu ingin suami kamu kembali seperti dulu? Hidup tapi bagai batu bernafas? Tidakkah kamu ingat, Dek. Siapa orang yang telah berhasil membawa Dimas kembali? Kamu lupa? Sungguh, kakak kecewa sama kamu! Sangat Kecewa!"


Kezia tergugu. Ia terdiam membisu saat suara halus tetapi tegas itu kini berbicara.

__ADS_1


__ADS_2