
"KAMU YANG TELAH MENGHANCURKAN DIMAS! BUKAN KEZIA!!"
Dddduuuaaaaarrrrr...
Winda tersentak saat Tante Riana mengatakan hal itu kepadanya. Winda tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Semua orang membantu Papa Rian untuk membawa Dimas ke kamarnya.
Kini tinggallah Winda seorang diri meratapi nasibnya yang begitu tragis karena keinginannya untuk merebut Dimas dari Kezia, malah menghancurkan kehidupan Dimas.
__ADS_1
"Mana ku tahu jika Dimas begitu mencintai istrinya? Yang aku tahu, kalau Dimas mengatakan jika ia terpaksa menikahi Kezia karena wasiat kakaknya. Ternyata aku salah. Ingin merebutnya dari wanita itu, malah aku menghancurkan hidupnya. Maaf Dim.." bisik nya dalam hati.
Mama Rani yang masih berdiri dan tertegun melihat Winda yang kini menatap nanar pada Dimas yang sudah di bawa pergi, mendekatinya.
"Winda,"
Winda menoleh, "Pulanglah. Cukup sampai disini perlakuan mu. Perlakuan mu bukan hanya melukai dua orang. Tetapi banyak orang. Satu perbuatan mu, menghancurkan dua buah keluarga yang baru saja bersatu. Jika kamu menginginkan Dimas, rayu Tuhan mu agar ia bisa memberikan Dimas untukmu. Tiada yang lebih indah selain doa yang bisa mengubah Takdir! Sekarang, semuanya sudah terjadi. Menyesal pun tidak berguna. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan mungkin berubah menjadi nasi lagi."
"Kamu berdosa Winda. Sangat berdosa. Karena kamu sudah menyakiti bukan hanya dua orang tetapi juga semua orang. Andai kamu tahu, seperti apa Dimas berjuang demi kesembuhannya selama ini. Kamu pasti akan mengalah dan lebih memilih mundur daripada menghancurkannya."
__ADS_1
"Saya sangat tahu seperti apa putri saya. Ia tidak akan marah begitu saja kepada orang yang sangat disayangi jika tidak yang menyayanginya itu tidak melakukan kealahan fatal."
"Kamu! Kamulah orangnya. Kamu sengaja menghasut dan mematahkan hatinya hingga berkeping-keping. Saya pikir semua itu karena kesalahan kami yang sengaja membuat kejutan untuknya. Tetapi tidak. Ia kecewa lantaran Dimas mengatakan jika ia terpaksa menikah dengannya lantaran terpaksa karena wasiat. Yang lebih menyakitkan lagi, ucapan itu hanya sepenggal kamu kirimkan padanya. Tidak seterusnya."
"Andai kamu bisa merasakan seperti apa perjuangan Kezia selama dua tahun ini untuk bisa meluluhkan kami yang tidak merestui pernikahan nya dan Dimas, mungkin kamu akan berpikir ribuan kali untuk melakukan kesalahan ini."
"Saya tidak sepenuhnya menyalahkan kamu. Karena saya tahu, kamu juga seorang wanita yang memiliki perasaan. Tetapi keinginan hatimu itu yang salah. Kamu menginginkannya tetapi menghancukan kehidupan orang yang kamu inginkan. Sadar tidak kamu? Dengan perbuatan mu ini semakin membuat Dimas membenci mu??"
"Saya harap kamu menyesali semnuanya sebelum terlambat. Carilah pemuda lain yang benar-benar tulus mencintaimu. Jangan lagi merebut sesuatu yang memang bukan ditakdirkan untukmu. Jadilah wanita terhormat. Yainlah. Bahwa Allah sudah menyiapkan seseorang untukmu kelak. Semoga kamu bisa belajar dari kesalahan yang kamu perbuat Winda."
__ADS_1
"Maafkan saya, jika kata-kata saya ini menyinggung kamu. Tetapi saya harus mengatakan ini kepadamu. Seorang wanita lain wajib menegur seorang wanita yang sedang berada di jalan yang salah. Saya bertugas untuk menegur dan mengingatkan. Bukan untuk menghukum. Yang berhak menghukum hanya Allah Swt. Semoga kamu bisa belajar dari kejadian ini."
"Berubahlah menajdi wanita yang lebih baik lagi. Karena jika kamu baik, kelak jodohmu pun akan baik." Imbuh mama rani dengan segera berlalu meningalkan Winda yang tercenung lama karena perkataannya itu.