
Rayyan dan Cinta terus menatap Dimas yang kini sedang berbicara melalui sambungan ponselnya dengan Kezia istrinya yang saat ini sedang berbicara.
Hati keduanya sedikit tercubit melihat permasalahn yang di dapatkan oleh Dimas semua itu berasal dari keduanya.
Rayyan tersenyum dan mendekati Dimas, sedang Dimas terus berbicara dengan bibir gemetar dan sangat tercekat.
Rayyan tahu itu. Tetapi ia tetap menunggu pembicaraan itu selsai, baru setelah itu gilirannya yang berbicara.
Dimas terus saja melihat layar ponsel yang tidak menunjukkan wajah Kezia. Hanya bajunya saja yang terlihat. Baju yang tadi pagi ia pakai saat mereka akan sarapan pagi.
Dimas mencengkram erat ponselnya hingga buku-buku tangannya memutih saking sakitnya menahan rasa yang sebentar lagi akan tumpah.
Rayyan memegangi tangan itu dengan wajah sendunya. Dimas melanjutkan lagi ucapannya walau sangat berat.
"Tidak masalah jika kamu tidak mempercayainya. Tapi aku sudah jujur padamu. Kalaupun kamu tidak bisa memaafkan ku, tak apa. Aku pasrah dengan keputusan mu. Kamu ingin pergi bertugas selama lima tahun? Baik. Aku izinkan!"
Ddddduuuaaarrrrr..
"Tetapi setelah masalah ini aku selesaikan, aku akan menyusulmu kesana dan membawa mu kembali ke tempat kita. Pergilah. Mungkin dengan pergi, hati kamu bisa sedikit menjadi lega karena perbuatan ku yang telah melukaimu. Tak apa. Aku ikhlas! Jika semua ini sudah menjadi takdirmu dan takdirku! Jaga dirimu baik-baik. Sampai bertemu lagi nanti. Jangan pikirkan manusia rendah seperti ku, Diri ini kalaupun mati sekalipun tidak akan ada yang bersedih. Jadi, semoga kamu bahagia disana dan selamat sampai tujuan. Wassalamu'alaikum!"
Tut!
Dimas mematikan sambungan ponsel itu secara sepihak membuat Rayyan segera memeluknya saat ponsel itu terlepas dan jatuh ke lantai.
__ADS_1
Prank!
"Haaaaaaaaaaa..... Keziaaaaaaa!!!!!! Kembaliiiiiiii!!!! Haaaaaaa...." pekik Dimas sekuat tenaga hingga membuat semua orang yang berada dilaur kamarnya sontak saja terkejut bukan main.
Papa Rian dengan segera membuka pintu itu dengan kasar.
Braaakkk.
Cinta terlonjak. Baru saja ia terkejut dengan lengkingan suara Dimas, saat ini ditambah lagi dengan sentakan pintu yang lumayan kuat, hingga engsel di pintu itu terlepas satu saking kuatnya hempasan dari papa Rian.
"Haaaaaaaa... Lepas Bang!!! Buat apa aku hidup? Kalau Kezia akhirnya pergi juga??? Haaaaaaa... Lepassss!!! Aku mau Keziaaaa!!!!"
Deg!
Semua yang melihat itu mematung dengan tubuh terpaku ditempat melihat Dimas sedang meronta-ronta di pelukan Rayyan.
Deg!
Deg!
Dimas yang sudah kalap ingin mendorong Rayyan seketika tersadar. Pergerakan itu melemah, tetapi Rayyan tetap memeluknya.
"Haaaaa.. Keziaku pergi, Bang. Aku harus apa? Aku harus apa???" lirihnya di telinga Rayyan.
__ADS_1
Rayyan hanya bisa memeluknya saat ini. Karena itulah Obat yang Dimas inginkan dan butuhkan saat ini.
Ia butuh Rayyan saat dirinya terpuruk seperti itu. Jangan salahkan Dimas jika bertingkah seperti orang yang sudah hilang akal.
Ingatkan saja Dimas pernah depresi. Dan siapa yang menyembuhkannya?
Rayyan dan Kezia.
Dua orang yang sangat Dimas butuhkan dikala ia sakit dan terpuruk. Dimas terus menangis dan memanggil nama Kezia berulang kali.
Tidak jauh hal nya dengan Dimas, Kezia pun sama. Tubuh itu mematung dan terpaku di tempat saat sang suami menyebutkan, 'Jangan pikirkan manusia rendah seperti nya, Diri nya kalaupun mati sekalipun tidak akan ada yang bersedih. Jadi, semoga dirinya bahagia disana dan selamat sampai tujuan.'
Kata-kata yang sangat menusuk ke relung hati Kezia hingga ke seluruh tulang dan sendinya ikut merasakan ngilu nya ucapan terakhir suami sebelum ia memutuskan sambungan ponsel itu secara sepihak.
Air mata Kezia yang sudah berhenti, kini bertambah deras tetapi tanpa suara. Kenan dan Bella yang melihatnya menangis.
Sakit sekali melihat Kezia menangis dalam diam hingga tubuhnya itu bergetar seketika dan..
Brruukk.
"Kezia!!!!"
Deg!
__ADS_1
Dimas tersentak. "Kezia!!! Mana Kezia!!! Keziaku!!!" pekiknya lagi masih di dalam pelukan Rayyan.
Padahal baru saja ia tenang, tetapi entah apa yang terjadi, Dimas kembali terbangun dan menjerit seperti itu.