
Sementara Kezia yang baru saja tiba di rumah sakit, terus berlarian menuju keruang Kenan dimana Dimas berada.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rumah sakit sudah terlihat sunyi. Kezia semakin cemas saat ponselnya kembali berdering.
Ia tak mengindahkan. Secepat kilat ia berlari melewati lorong menuju ruang praktek Kenan. Karena mereka sedang menunggunya disana.
Tiba di depan pntu ruang praktek Kena, Kezia segera mendorongnya sedikit kasar.
"Astaghfirullah! Dek! Ketuk dan salam ih!" tegur Bella sang kakak ipar pada Kezia yang kini sedang menuju bangkar Dimas berada yang kini tersenyum lembut padanya.
"Geser Mas! Biar Abang periksa istri kamu!" katanya pada Dimas yang diangguki olehnya.
Dimas bergeser sedikit dan menyuruh Kezia berbaring.
Bella dengan sigap membantu Kezia untuk menyingkap gamis yang ia kenakan sebelumnya ia tutupi dengan kain.
"Loh? Kenapa aku yang diperiksa Bang? Bukannya Bang Kenan ya yang sakit?" Dimas terkekeh.
"Iya Abang yang sakit. Tapi kamu pemicunya!" Dimas tergelak saat melihat wajah kebingungan Kezia.
Matanya menatap layar monitor yang kini perutnya sudah diletakkan sebuah alat disana.
Deg, deg, deg..
Jantung Dimas dan Kezia berdegup tidak beraturan. Kenan terkekeh. "Santai atuh Dek! Tuh, lihat! Perfgerakan janin mu jadi cepat seperti itu! Rileks bro!" katanya pada Kezia dan Dimas bersamaan sambil terkekeh lagi.
Keduanya melotot sempurna saat melihat ada banyak kantung janin disana yang saat ini sedang bergerak seiring detak jantung kedua orang tuanya.
"I-itu be-beneran bang?" tanya Dimas tergagap seketika. Sedang mulut Kezia masih menganga.
Bella tertawa. "Mingkem Dek!"
__ADS_1
Kezia langsung saja mengatupkan mulutnya. Lagi, Kenan dan Bella tertawa.
"Lihatlah dek. Allah mengabulkan doa anak kalian bertiga. Kamu saat ini sedang hamil. Dan yang terjadi pada Dimas saat ini adalah karena ia mengalami kehamilan simpatik atau couvade syndrom. Yang mana ikatan batin kalian berdua itu begitu erat. Terutama tentang hati kalian berdua. Jadi ya.. Anak kalian ini seolah tahu. Jika mami nya yang mengandung, maka papi nya yang merasakan gejalanya. Adil bukan?"
Kedua orang itu masih tertegun sekaligus takjub melihat perkembanagn janin di dalam perut Kezia. Kezia terharu. Ia menitikkan air matanya.
"Ya Allah.. Sampai empat begitu bang? Nggak kebanyakan? Gimana ku mengandungnya dengan perut empat anak? Tiga aja aku kewalahan membawa perutku kemana pun aku pergi yang kata orang-orang. balon yang hampir meletus tetapi tidak jadi!"
Kenan dan Bella tertawa terbahak mendengar ucapan Kezia. Masih teringat jelas olehh keduanya tentang kehamilan Kezia dulu yang selalu di cemoohi oleh semua orang.
Sempat drop. Tetapi itu hanya sebentar. Karena Kenan dan Bella selalu mendampinginya hingga ia melahirkan.
Dan saat ini, ia kembali merasakan kehamilan itu. Anugerah yang tidak terhingga untuknya. Dimas tidak bisa berkata saat ini.
Mulutnya masih kelu untuk sekedar berbicara. Dia memang menginginkan banyak anak. Tetapi bukan sekaligus. Jika sudah seperti ini, apa yang harus ia lakukan selain menerimanya?
"Mas!"
"Kalau kalian ingin bermalam disini, silahkan. Tapi Abang dan kakak mu pulang kerumah kami! Kunci pintunya jika tidak ingin diganggu oleh pasien lain!" kerlingan menyeramkan keluar dari mata Kenan.
Dimas dan Kezia bergegas turun setelah sadar dengan ucapan Kenan. Ke empatnya pun berlalu pulang kerumah masing-masing yang memang berada dalam satu komplek yang sama lantaran Kezia dulunya hamil tanpa ada yang menemani.
Jadi, Kenan dan Bella memutuskan pindah ke tempat mereka yang jaraknya lebih dekat dari ruamhsakit daripada rumah keduanya dulu yang butuh waktu sampai empat puluh lima menit untuk menuju kerumah sakit Jaya Medika milik Dimas.
Dimas dan Kezia pulang dengan perasan bahagia. Kali ini Dimas yang menyetir. Entah kemana rasa pusing itu, ia pun tak tahu. Yang jelas, saat ini ia sehat walafiat.
Setibanya dirumah, keduanya sudah di sambut dengan pemadangan yang menyedihkan. Kezia tadi sudah menceritakanya pada Dimas. Dimas memakluminya.
Si kembar tiga langsung saj berlarian kepada kedua orang tuanya dan bersujud di lantai. Tepat di kakki keduanya yang membuat kedaunya terkejut bukan main.
"Astagfirullah. Kenapa begini nak? Bangun! Tidak boleh bersujud kepada manusia kecuali Allah! Bangun!" titah Kezia yang dipatuhi oleh ketiganya.
__ADS_1
Bruk.
Lagi,. Ketiganya bersimpuh di pangkuan Kezia yang kini sedang menekukkakn kainya ke belakang seperti duduk tahiyat.
Dimas dan Kezia saling pandang. "Huhuhu.. Maafkan kami mami.. Papi.. Kami salah.."
"Kami sudah memebuat papi dan mami tertekan.."
"Kami seharusnya tidak meminta sesuatu yang seharusnya bukan kuasa mami dan papi.. Huhuhu.." isak Diayunzia di pangkuan Dimas.
Dimas menghela nafasnya dna tersenyum. "Bangun dulu kaliannya."
"Nggak mau. Sebelum papi dan mami memaafkan kami bertiga!" Serua Deimian si sulung yang tidak banyak bicara tetapi ikut andil di dalamnya.
Dimas dan Kezia terkekeh, "Kami berdua sudah memaafkan kalian bertiga. Bangunlah!" ucap kedua nya yang diangguki oleh ketiga anak itu.
"Ayo disana kita duduk bersama kakek. Papi punya kabar gembira untuk kalian bertiga." Imbuhnya masih dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
Begitu pun dengan Kezia. "Kabar gembira apa Mas?" tanya papa rias padanya.
Dimas terkekeh, "Doa kalian dikabulakn nak sama Allah. Saat ini mami kalian sedang mengandung ke empat adik kalian."
"Hah?" Ke tiga anak itu mulutnya menganga
Papa Rian mengernyitkan dahinya. "Empat? Maksudmu kembar begitu?"
Kezia mengangguk dan tersenyum, "Benar papa. Papa akan memiliki cucu lagi yang berjumlah empat orang!"
"Hah?"
Bruuk.
__ADS_1
Papa Rian pingsan di kursinya. Dimas dan Kezia tetawa terbahak. Sedang ketiga anak itu masih dengan mulut menganganya.