
Kezia ingin memegang gagang pintu sebelum gagang pintu itu hamir mencium jidatnya karena Dimas juag sednag membuak pintu kamar mereka.
"Eh?"
"Astaghfirullah!" seru Kezia karena terkejut.
Dimas masuk dan menyentuh kening Kezia serta mengecupnya.
"Udah nggak pa-pa kan ya? Maaf.. Abang nggak tahu kamu juga mau keluar. Abang kesini mau ambil ponsel Abang yang tertinggal." ucapnya sambil melirik ke sekitar kamar yang sudah lengang.
Tidak terlihat ketiga biang rusuh mereka disana. Dimas keheranan. "Kemana bocil kita Yank? Ngambek?" tanya Dimas pada Kezia yang kini merengut sebal padanya.
Dimas terus melangkah masuk dan mengambil ponselnya. Sedang Kezia menutup pintu dan segera menguncinya.
Dimas menoleh padanya. "Kenapa di kunci?"
Kezia tidak menyahut. Ia segera melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuhnya membuat Dimas meletakkan kembali ponsel yang sudah ia pegang saat ini.
Ia tersenyum nakal melihat istrinya seperti itu.
Grep.
Dimas memeluk Pinggang Kezia dengan posesif. "Kenapa? Ingin? Hem?" godanya dengan alis naik turun.
__ADS_1
Kezia tersenyum tapi masam. Dimas terkekeh. "Kenapa?? Abang salah ya karena pergi tadi?"
Kezia mendengkus. "Bukan itu!"
"Terus?" tanya Dimas sibuk dengan aksinya
"Anak kamu minta adik bayi yang sama seperti anak Bang Kenan dan kakak ipar! Yang udah bisa jalan dan berbicara dalam waktu satu bulan!" ketusnya
Yang membuat Dimas berhenti bermain-main di puncak susu ketiga anaknya.
"Heh? Adik bayi dalam waktu satu bulan?"
Kezia mengangguk. "Ya, satu bulan!"
"Ya mana ku tahu! Ketiga anakmu ngomongnya begitu tadi saat aku berusaha membujuk mereka untuk keluar dari kamar ini!" ketusnya masih kesal pada Dimas. Karena ia merasa jika Dimas lah biang keroknya.
Padahal bukan. Biang keroknya saat ini sedang tertawa terbahak mendengar aduan ketiga keponakannya itu.
Dimas yang sudah paham kemana arah ucapan Kezia tergelak keras hingga kepalanya mendongak ke belakang. "Dasar! Abang ipar Lak nat! Bisa-bisanya ngajarin anak kita tentang adik bayi! Dikira boneka apa! begitu dicetak langsung jadi?? Ck. Awas saja besok pagi. Akan ku balas itu bang Kenan!" gerutunya tetapi masih tertawa.
Kezia yang baru tahu pun bertambah kesal kepada Kenan. Abang sialan nya itu.
"Hahaha.. Biarin aja Nak. Mami dan papi kamu itu pusing sendiri!" jawab Kenan saat si kembar mengadukan hal itu kepadanya.
__ADS_1
"Emang benar ya Wak? Bisa langsung jadi gitu dalam waktu satu bulan??" tanya Dantias dengan wajah penasarannya.
Kenan tertawa. Suara tawanya mengganggu Bella yang sudah terlelap karena kelelahan akibat ulahnya.
"Apa sih Abang! Tidur ih! Rusuh banget sih? Masih kurang apa tadi?!" ketus Bella yang terdengar oleh ketiga anak kembar Dimas yang kini kebingungan dengan Uwak Putrinya bersungut pada uwak Kenan mereka.
"Wak??"
"Eh?" Uwak Bella terkejut. "Abang lagi nogomong sama si kembar?? Udah jam berapa ini? Udah, tutup dulu. Demian, Dantias dan Diayunzia! Tutup ponselnya!" Tegas Bella dengan suara lembutnya.
Ketiga anak Dimas itu menurut dan patuh. Ketiga nya memutuskan sambungan ponsel itu.
Kenan pun tertawa terbahak melihat wajah kesal istrinya yang sudah berhasil membangunkan dirinya yang kelelahan akibat ulahnya.
Begitu juga di kamar Dimas dan Kezia. Keduanya sedang mengarungi nirwana indah bersama untuk mencapai kepuasan bersama demi bisa mewujudkan keinginan si kembar.
Untuk beberapa bulan ke depan jika Kezia belum diberikan kesempatan untuk hamil lagi, maka mereka harus bersiap dengan berbagai macam ulah si kembar tiga yang meminta adik bayi dalam waktu satu bulan.
Apa ada bayi yang langsung jadi siap pakai bisa jalan dan berbicara??
Ck. Dasar Kenan sialaaannn!
pekik kedua hati yang sedang memadu kasih itu.
__ADS_1