Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Puas kamu?


__ADS_3

Melihat kepergian kezia tanpa pamit dan juga dengan hati yang terkluka akibat salah paham yang berkepanjangan, Dimas menoleh pada Winda dengan wajah basah air mata.


Dimas bretepuk tanagn untuk Winda yang sudah berhasil menghancurkan pernikahannya dalam waktu sekejab.


Prok, prok prok.


"Hahahaha... Kamu hebat Winda! Sangat hebat! Hahahaha.. Lihatlah karena kelakuan mu, aku ditinggal pergi oleh istriku tepat dua hari pernikahan kami! Kau hebat Winda! Sangat hebat! Sangat hebat! Hahahaha.." Dimas terus bertepuk tangan dengan kuat hingga telapak tangan itu memerah.


Bella melihat Kezia berlalu segera mengejarnya begitu pun dengan Kenan. Ia juga menyusul Bella yang kini berlari tanpa memikirkan dirinya yang saat ini sedang hamil.


Dimas masih saja tertawa melihat Winda. Bahkan sudah terlihat seperti orang gila.


Mulut tertawa hati menagngis.


Inilah ungkapan yang saat ini cocok untuk Dimas. Ia tidak menyangka, jika rekan yang ia bawa dalam rencana kejutannya untuk sang istri malah merusak hubungannya denagn Kezia.


"Hebat kamu Winda! Sangat hebat! Aku menganggap teman dan bisa membantuku untuk menyenagkan hati istriku disaat hari bahagia kami malah kamu hancurkan dengan perbuatan mu! Puas kamu Winda? Huh?!"


"PUAS KAMU?!"


Deg!


Deg!

__ADS_1


Tubuh Winda terjingkat kaget mendengar suara sentakan Dimas padanya. Dimas tertawa lagi, tetapi air mata itu terus beruraian.


Lagi, Dimas menepuk tangannya.


Seluruh keluarag besar Dimas dan Kezia sangat terkejut mendengar ucapan Dimas. Semuanya kini terdiam tidak ingin berbicara sepatah kata pun.


Takut, jika ucapan mereka akan menambah luka dihati Dimas.


"Aaaaaaaaaaaaaaa... Aaaaaaaaa... Keziaaaaaaaa!!!!!" pekik Dimas sekuat tenaga


Ia jatuh terduduk dilantai dengan berlutut mengarah ke Winda. "Hiks.. Apa salahku padamu, Winda? Kenapa kamu tega menghancurkan pernikahan ku? Kenapa kamu ingin mengambil posiis Kezia padahal sebenaranya kamu tahu jika posisi Kezia tidak akan tergantikan dengan yang lain?? Huh? Hiks.. Apa tujuan mu yang sebenarnay ingin menolongku?!" seru Dimas dengan suara melengking tinggi.


"Astaghfirullahal'adhim.." ucap mama Rani dan semua orang yang ada disana.


"Aku sengaja memanggil mu dan meminta bantuan padamu, karena aku pikir kamu rekan ku yang setia. Tetapi kamu saja dengan gadis yang lain! kamu sengaja mengiyakan ucapanku, tetapi dibelakang ku kamu menghasut Kezia dengan rekaman yang sebenarnya itu hanya candaan ku kepadamu? Kamu tahu itu Winda! Lantas kenapa kamu melakukannya? Huh?" serunya lagi.


Jalan satu-satunya hanyalah pergi dari sana. Tetapi tidak mungkin. Karena pintu belakang dan pintu depan hotel itu kini dijaga ketat oleh para satpam yang Kenan tugaskan baru saja.


Karena mrlihat kondisi yang semakin tidak kondusif, Kenan sengaja memanggil benerapa satpam yang menjaga di hotel milik Papa Reza itu.


Dan benar saja seperti dugaan Kenan. Terjadi keributan di dalam sana saat ia dan Bella menahan Kezia untuk pergi.


"Apa salahku padamu, Winda? Kenapa kamu tega menusukku dari belakang? Aku meminta bantuan mu karena aku tahu kamu bisa melakukannya. Tapi apa? Kamu tega merusak hari bahagia ku dengan istri yang selama ini sangat ingin aku nikahi setelah sekian lama."

__ADS_1


"Lagi pun, AKU TIDAK PERNAH MENYUKAI MU SEDIKITPUN! DAN KAMU TAHU ITU! LALU, KENAPA KAMU MENGHANCURKAN PERNIKAHAN KU??" Pekik Dimas lagi dengan suara yang semakin tinggi.


Lagi dan lagi Winda tersentak kaget karena suara lengkingan Dimas yang semakin tinggi.


"Aaaaaaaaaa... Tidaaaaaakkkkk... Keziaaaaaa... Jangan pergiiiii!!!!!" raung Dimas lagi.


Semua yang mendenagrnya tidak sampai hati. Mereka semua ikyt menagis seiring Dimas yang semakin meraung memanggil nama Kezia untuk kembali.


Papa Rian, suami Tante Riana dan Tante Riana mendekati Dimas dan memeluknya.


"Hiks.. Hiks.." mereka terisak sambil memeluk tubuh tak berdaya Dimas.


"Haaaaa... Papaaa.. Kezia ku pergiii.. Panggil Kezia Papa... Panggil Keziaa.. Abang butuh Keziaaa... Haaaa... Keziaaaaaa!!!!" pekiknya lagi semakin lemas tidak berdaya.


Kedua kaki itu sungguh tidak kuat lagi untuk berdiri. Ia terkulai lemas di pelukan Tante Riana yang kini semakin tersedu melihat keponakan satu-satunya itu.


Papa Rian tidak sanggup melihatnya. Ia melihat Winda yang kini menatap Dimas dengan tatapan bersalahnya.


"Sebenarnya, apa tujuan mu melakukan hal ini, huh? Apakah kamu memiliki dendam dengan putra saya? Sampai-sampai kamu tega menghancurkan pernikahan impiannya??"


Winda tetap diam. Hanya suara isakan tangis yang terdengar dari mulutnya.


"Asal kamu tahu Winda, Dimas tidak bisa hidup tanpa Kezia. Selama ini ia bertahan hidup karena Kezia. Dimas sembuh dari depresinya pun karena Kezia. Dimas melakukan semua ini untuk Kezia. Kamu tidak tahu apapun tentang Dimas, Winda Lesmana! Jika kamu mengetahuinya, kamu tidak akan melakukan hal ini padanya!"

__ADS_1


Deg!


Deg!


__ADS_2