Menjemput Maaf Istriku

Menjemput Maaf Istriku
Istri sah, saya!


__ADS_3

Dimas yang melihat sudah masuk ke dalam ruangan direktur yang seharusnya ia dan juga Kenan yang menempati, kini turun dan menuju keruangan dimana salah seorang kepercayaannya untuk mengatakan suatu hal tentang Kezia dan juga pengumuman sebelum Kezia resmi menempati posisi direktur disana.


Tiba disana, dimas mematung di tempat melihat jika Winda duduk dihadapan orang itu dengan tersenyum manis pada orang kepercyaannya itu.


"Kamu bisa Yan? Membujuk Dimas agar aku yang berkuasa dirumah sakit ini bukannya istri sialannya itu??"


Deg!


Deg!


Dimas mengepalkan tangannya mendengar ucapan Winda yang begitu tidak menghormati Kezia sebagai istrinya.


Ia berdiri menjulang dihadapan pintu dengan tatapan yang begitu menusuk melihat kedua orang itu yang sedang berbicara.


Wanita yang sebaya dengan Dimas dan Winda itu terkekeh kecil. "Kenapa kamu sangat ingin menempati posisi itu? Jangan-jangan selama ini kamu hanya menginginkan posisi nya bukan cinta direktur Dimas?" pancing Dian orang kepercayaan Dimas.


Ia sudah tahu kedatangan Dimas ketika mata mereka saling bertubrukan. Tetapi ia tetap diam dan memberi kode pada Dimas untuk diam, karena ia ingin membuka sesuatu yang Dimas tidak tahu selama ini makanya ia sengaja memancing Winda untuk berbicara.


Dan membuka apa yang sebenarnya wanita itu inginkan.


"Cinta?? Pada Dimas? Ya, aku mencintainya saat aku pertama kali melihatnya. Tetapi entah kenapa, Dimas malah memilih wanita udik dan kampungan itu! Entah apa yang dilihatnya dari wanita itu, hingga Dimas malah menyukai wanita sepertinya!" ketus Winda tidak menyukai Kezia sama seklai.


Menurutnya Dimas berubah karena Kezia yang baru saja ia temui. Dian terkekeh kecil dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Winda untuk istri Direktur mereka.

__ADS_1


"Lantas? Jika kamu mencintainya kenapa kamu malah menginginkan posisi ini? Bukankah kamu sudah cukup dengan cinta saja??" ledeknya pada Winda yang membuat wanita itu bedecak sebal.


"Ck. Siapa sih yang tidak menginginkan harta?? Kamu pun demikian kan?" ledeknya balik pada Dian yang disambut kekehan kecil dibibir wanita berhijab itu.


"Siapa wanita yang tidak mau mendapatkan suami yang tampan plus harta berlimpah? Kamu pun pasti mau kan? Bilang saja kalau kamu juga menyukai Dimas sedari kamu bekerja disini menjadi tangan kanan Kenan dan Dimas sekaligus?"


Dian tergelak keras, Dimas diam saja. Ia tetap pada tempatnya tidak bergerak sedikit pun. Mata itu menatap tajam dan menusuk pada gadis yang duduk di depan Dian saat ini.


"Kamu salah Winda. Aku memang menyukai Bang Dimas. Tetapi sebagai abang. Bukan sebagai wanita yang menyukai lelaki."


"Halah jangan munafik kamu. Bilang saja kalau kamu menyukainya, bukan begitu?"


Dian tergelak lagi. Ia menggelengkan kepalanya mendengar ucapan yang berupa tuduhan pada nya.


Dimas yang melihat itu tersenyum simpul. Ia tahu siapa pemuda yang dimaksud Dian, orang kepercayaannya.


"Aku nggak percaya! Kamu pasti menyukai Dimas kan? Makanya kamu sangat mendukung jika wanita udik itu menikahi rival ku? Yang berarti rival mu??"


Dian tergelak lagi. "Winda.. Winda. Obsesi mu untuk mendpatkan Dimas sampai lupa daratan jika Kezia itu merupakan adik tingkat yang pernah menolongmu saat kamu kecelakaan dulu. Jika bukan karena tangan ajaibnya, sampai saat ini aku yakin kamu masih koma!"


Deg!


Dimas terkejut. Satu fakta yang baru ia dengar tentang Kezia dan Winda.

__ADS_1


Winda berdecak lagi. "Sekalipun dia pernah menolongku, aku akan tetap membencinya. Wanita itu tidak pantas bersanding dengan Dimas. Wanita udik dan kampung itu cocoknya dengan lelaki liar diluar sana! Tingkahnya saja tertutup dan sok alim. Tetapi faktanya ia liar dan seorang ja lang!"


Dddduuuaaarrr!!


Tersentak Dimas mendengarnya. Tangan itu kembali terkepal erat dengan rahang mengetat.


"Winda.. Winda. Kamu sudah membangunkan singa tidur! Jangan salah kan aku jika kamu terkena gigitan yang mematikan darinya!" gumam lirih Dian yang masih terdengar oleh Winda.


Ia mengernyitkan dahinya, "apa maksudmu? Aku membangunkan singa apa?"


"Singa pelindung Kezia yang saat ini ada di belakang mu!"


Winda terkejut dan berbalik.


Deg!


Deg!


"Di-dimas?!"


"Ya, ini saya! Kenapa? Terkejut kamu?? Yang kamu hina dan kamu katakan ja lang itu merupakan istri sah, saya!"


Deg!

__ADS_1


Deg!


__ADS_2