
Desember adalah musim dingin, angin mulai menjadi lebih dingin, dan banyak orang mengenakan pakaian yang lebih rumit dan berlapis.
Seorang gadis remaja dengan senang hati berkencan dengan kekasihnya, dan cuaca tidak menghalangi dia untuk bahagia.
Saat banyak orang menyadari kekonyolan kejadian tersebut, Nakajima Yusuke hanya tersenyum, menganggap wajar saja bagi dua kekasih yang sedang berpacaran.
"Apakah semakin dingin, mengapa kamu menempel semakin erat?"
"Dingin sekali, bisa meresap ke kulit dan tulangku hehehe..."
"Kamu sangat imut dan kamu berbicara dengan sangat baik?"
Malam itu, Rena menginginkan salju, berpikir itu akan romantis, dalam hal ini dia dan pacarnya akan mendapatkan sesuatu yang indah dan penuh romansa.
Melihat pacarnya semakin tampan, dia juga sangat gembira, dan mau tidak mau menggodanya semakin banyak dengan kata-kata genit.
Pemuda yang hanya bisa tersenyum dan terkekeh di depan kekasihnya yang cantik itu, kini banyak bicara dan membawa banyak harapan.
Kelucuan semacam itu semakin membuatnya gemas, melihat mata rusa betina yang polos itu, dia mencubit pipi gadisnya dengan gemas.
Sepatah kata dari bibir kecil itu membuatnya sedikit tersenyum, karena pertanyaan yang sudah lama tidak ditanyakan kini ditanyakan lagi.
"Aku belum benar-benar hamil sampai sekarang dan aku khawatir ada yang tidak beres denganku..."
"Bukankah dokter mengatakan itu masih mungkin, kamu harus bersabar."
"Aku benar-benar tidak bisa lebih sabar."
Dia dengan bijak memberikan banyak nasihat kepada kekasihnya untuk berhenti memikirkan hal-hal rumit dan menikmati apa yang sudah ada dalam hubungan yang dia yakini akan menerima hadiah istimewa dari penciptanya.
Kata-kata Yusuke membuat Rena gembira, dia memikirkan kata-kata kekasihnya, sang kekasih sangat cerdas, sangat tidak biasa, yang biasanya selalu mengucapkan kata-kata mesum yang disamarkan.
Dia malu untuk mengikuti jejak kekasihnya, dan terus berjalan bersamanya Hal-hal yang menurutnya tidak jauh dari masa lalu, tetapi sekarang dia memikirkan masa depan, dan merasa lebih gembira.
Dia membayangkan memiliki anak laki-laki seperti pemuda di sampingnya akan menambahkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya, dia menutupi mulutnya dengan tangan dalam sarung tangan musim dingin.
__ADS_1
"Yusuke-kun, kita punya film baru untuk ditonton."
"Mau nonton film apa sayang?"
"Sangat romantis untuk menonton film ini dengan pemeran utama pria keren sekali..."
"Biarkan aku melihatnya?" Yusuke menatap layar ponsel Rena. "Sungguh, bahkan aku lebih keren dari orang ini, mungkin aku bisa menjadi protagonis."
Rena berkedip dan berkata, "Kalau Yusuke-kun lebih keren dan tampan, itu sudah benar." Godanya sambil tersenyum nakal.
"Sayangku bicara dengan manis, sedikit genit, dan sering seperti anak kecil, dan sampai sekarang. "
Rena membeku, berubah menjadi pecahan kaca setiap mendengar kata-kata kekasihnya.
"Tunggu dulu Yusuke-kun, aku sudah dewasa, jangan bilang tidak ada yang berubah. Aku akan segera lulus. Kamu tahu kan, kalau aku sudah lulus SMA, itu tandanya aku sudah dewasa?"
"Kamu manis sekali sayang, baru lulus SMA tidak membuat seseorang menjadi dewasa hanya karena dinilai dari sifat dan tingkah lakunya, bukan begitu?"
Dia membusungkan dadanya dengan bangga, dia meyakinkan Yusuke bahwa dia telah tumbuh banyak, bahwa tidak seperti sebelumnya, dia telah dilihat sebagai seorang wanita daripada seorang gadis lugu yang tidak mengerti apa-apa.
...****************...
Datang musim semi, papan buletin ditulis tentang siapa yang tinggal di kelas, senior akan lulus dengan bangga, dan beberapa akan menerima kenyataan bahwa mereka tinggal untuk mengulang.
Kakak kelas akan mengadakan api unggun, tradisi baik di sekolah maupun untuk siswa yang lebih muda yang pulang pada sore hari.
Di antara orang-orang ini, ada yang benar-benar tersentuh, dan ada yang bersorak, tidak lain adalah Dai.
Seorang pemuda kini sedang melamun tentang apa yang harus terjadi di akhir permainan yang dimainkannya, yaitu kelulusan yang akan segera mencapai akhir bahagia yang diharapkannya.
Sejak awal, semuanya berbeda, dan dia tahu bahwa ini telah menjadi dunia nyata, bukan permainan yang dia mainkan.
Jika dia berperan sebagai Takeru, maka akhirnya dia akan putus tanpa alasan, karena masa depan yang akan dia jalani membuatnya sakit dan kesal, membayangkannya saja membuatnya marah.
Banyak ending yang dia nilai sebagai ending sampah yang tidak ada artinya, terlalu gila dan tidak logis.
Dia hanya duduk di bangku dan melihat sesuatu yang asing di dunianya, tetapi itu adalah tarian api unggun, dan itu menyenangkan baginya.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti kepingan salju mulai berjatuhan dari atas langit, dan dia tersenyum, itu adalah 'sesuatu yang berbeda dari dunia sebelumnya,' itulah yang dia pikirkan.
"Yusuke-kun, kenapa kamu melamun, tidakkah kamu ingin mengajakku menari?"
"Sayangnya, aku hanya bisa menari denganmu di kamar."
Gadis remaja itu kesal, dia menggembungkan pipinya, dia kesal dengan ucapan yang tidak romantis, dan tidak seperti yang dia bayangkan, dia akan menari dengan penuh semangat dan antusias.
Ia tersenyum penuh minat saat melihat Minami dan Ayumi menari bersama.
"Mereka saja menarik, bukankah kita juga harus ikut dengan mereka, Yusuke-kun?"
Yusuke bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya, dan Rena juga berdiri, dan keduanya berjalan menuju api unggun.
Banyak orang memandang mereka, tidak hanya teman sekelas, bahkan guru, kepala sekolah, dan wakil kepala sekolah memandang mereka berdua dengan penuh minat, karena semua orang tahu bahwa hubungan mereka sebagai murid sekolah menengah sangat panas.
Cara menarik jarak seperti itu membuat semua orang melihat bahwa mereka sangat panas dan panas, dan banyak sentuhan yang tidak perlu terlalu dibuat-buat, membuat banyak orang merasa tenggorokannya kering dan sulit menelan.
"Mesum, apakah dia sengaja menyentuh bokongnya?" Setelah Ayumi mengatakannya, dia langsung mengalihkan pandangannya ke ponselnya.
Minami menundukkan kepalanya, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi, mungkin sudah waktunya untuk melepaskannya sepenuhnya.
"Apakah perlu untuk pamer seperti ini? Bocah itu seperti yang digosipkan."
Seorang pria berbicara pada dirinya sendiri, dan seorang wanita menjawab.
"Hahahaha, tidakkah kamu iri dengan perasaan panas siswa Nakajima Yusuke?"
Keduanya gila!
Tarian diakhiri dengan adegan ciuman yang berapi-api. Sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak bermoral terjadi.
Nakajima Yusuke memulai dengan kesengajaan, tapi yang lebih gila dari itu adalah Hashimoto Rena, yang merespon dengan terang-terangan, menunjukkan kesenangan.
Para siswa berteriak kegirangan, beberapa marah karena frustrasi, dan hanya bisa menggeliat gila jika apa yang mereka lihat tercatat dalam sejarah dunia.
Wajah Hashimoto Rena semerah tomat, dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya dari semua orang, dan ciumannya lebih dalam dan lebih panas dari biasanya, dia pikir, 'akan segera menjadi gila.'
__ADS_1